Wake Up Guardians, Upaya Pemuda Klasis Wonogiri Diajak Bangun Menjaga Bumi dari Krisis Ekologi

Wake Up Guardians, Upaya Pemuda Klasis Wonogiri Diajak Bangun Menjaga Bumi dari Krisis Ekologi
Suasana Youth Camp Klasis Wonogiri pada Jumat (26/6) malam terasa berbeda. Di tengah semangat kebersamaan para pemuda gereja, sebuah pertanyaan sederhana namun menggugah mengawali sesi talkshow yang difasilitasi oleh Yayasan Yekti Angudi Piadeging Hukum Indonesia (YAPHI). "Seberapa darurat kondisi bumi saat ini sampai anak-anak muda harus segera dibangunkan?"

Pertanyaan itulah yang menjadi pintu masuk tema "Wake Up Guardians". "Wake Up" berarti bangun, sementara "Guardians" berarti para penjaga. Melalui tema tersebut, peserta diajak memahami bahwa menjaga bumi bukan lagi pilihan, melainkan panggilan yang harus dijawab oleh generasi muda.

Acara diawali dengan doa bersama. Seluruh peserta diajak menyerahkan proses belajar kepada Tuhan agar setiap materi yang disampaikan menjadi berkat dan mampu menggerakkan hati untuk bertindak nyata.

Talkshow menghadirkan tiga narasumber dari YAPHI, yakni Haryati Panca Putri, Yohanes Handharu, dan Yosi Krisharyawan. Ketiganya mengajak peserta melihat persoalan lingkungan bukan sekadar isu alam, melainkan persoalan keadilan, budaya, hukum, dan tanggung jawab iman.

"Bumi kita sekarang tidak sedang baik-baik saja," ujar Haryati Panca Putri membuka paparannya.
Image
Image
Dengan bahasa yang ringan, Putri menggambarkan bumi layaknya seseorang yang sedang menangis karena ulah manusia sendiri.

"Bumi sakit karena ulah manusia yang serakah. Sakit karena manusia tidak menjaga dan memeliharanya."

Menurutnya, banyak orang belum merasa sedang menghadapi krisis lingkungan karena kerusakan itu berlangsung secara perlahan. Krisis tersebut bersifat "silent", tidak selalu terlihat secara kasatmata, tetapi dampaknya sudah mulai dirasakan.

Ia mengajak peserta mengingat perubahan musim yang kini semakin sulit diprediksi. Musim hujan datang terlambat, cuaca semakin ekstrem, sementara berbagai bencana ekologis semakin sering terjadi.
"Bumi adalah rumah kita bersama. Kalau rumah kita rusak, tentu kita semua yang akan merasakan akibatnya," katanya.

Putri menilai persoalan terbesar bukan terletak pada alam, melainkan pada cara manusia memperlakukan alam. Eksploitasi sumber daya dilakukan terus-menerus demi keuntungan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat maupun generasi mendatang.

"Kalau serakah itu mengambil sedikit tidak puas, lalu mengambil lagi dan lagi. Akhirnya keuntungan dinikmati segelintir orang, tetapi yang menjadi korban justru masyarakat," ujarnya.

Ia mencontohkan aktivitas pertambangan dan berbagai bentuk eksploitasi sumber daya alam yang sering meninggalkan kerusakan lingkungan di wilayah lain.

Karena itu, menurutnya, pemuda harus menjadi generasi yang berani menjaga bumi.
"Kalau pemuda tidak bangun, bumi ini akan semakin hancur."

Putri juga menaruh harapan besar kepada generasi muda karena dinilai memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan teknologi yang jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya.

Ia mengapresiasi dekorasi Youth Camp yang memanfaatkan unsur-unsur lokal sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

"Masa depan memang ada di tangan teman-teman muda. Bersikap kritis bukan berarti menentang pemerintah. Justru itu bentuk partisipasi sebagai warga negara."
Menurutnya, sikap apatis justru menjadi ancaman terbesar. Anak muda tidak boleh memilih diam ketika melihat persoalan di sekitarnya.

Pandangan senada disampaikan Yosi Krisharyawan. Mantan aktivis pemuda gereja itu mengawali pemaparannya dengan mengajak peserta menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan sekitar.

"Semuanya dimulai dari kepekaan. Jangan sampai kita menjadi orang yang apatis."
Ia menegaskan bahwa informasi merupakan modal utama dalam menjaga lingkungan. Dengan gaya santai, Yosi mengajak peserta membayangkan ketika seseorang sedang menyukai orang lain.
"Kalau suka seseorang biasanya apa yang dilakukan? Pasti mencari informasi dulu, stalking dulu," katanya yang langsung disambut tawa peserta.

Menurutnya, contoh sederhana tersebut menunjukkan bahwa informasi selalu menjadi dasar dalam mengambil keputusan.
"Begitu juga ketika kita ingin menjaga lingkungan. Kita harus punya informasi."

Yosi kemudian menjelaskan pentingnya memahami kebijakan publik, khususnya Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Menurutnya, banyak konflik lingkungan sebenarnya bisa diantisipasi apabila masyarakat memahami arah pembangunan daerahnya.

"Kalau nanti daerah kita akan dijadikan kawasan industri, kita harus tahu lebih dulu. Dari situ kita bisa mengawal apakah pembangunan tersebut merusak lingkungan atau tidak."

Ia menegaskan bahwa kritik kepada pemerintah harus dibangun di atas data dan pengetahuan, bukan sekadar opini.

"Kalau kita sudah punya informasi, kita sudah selangkah lebih maju karena memahami situasi yang sedang terjadi."
YAPHI, lanjutnya, membuka ruang belajar bersama apabila gereja-gereja ingin mendalami isu tata ruang maupun kebijakan lingkungan.

Selain soal hukum, Yosi mengingatkan pentingnya perubahan gaya hidup sehari-hari. Ia mengajak peserta tidak membuang sampah sembarangan dan mulai mengurangi perilaku konsumtif.
"Kita sebenarnya sedang berdiri di atas sampah," katanya.

Ia mengingatkan budaya membeli barang hanya karena mengikuti tren media sosial akhirnya menghasilkan limbah yang terus bertambah.

"Banyak barang yang kita beli sebenarnya bukan kebutuhan, tetapi sekadar keinginan."

Ia mendorong peserta membiasakan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai atau menukarkannya dengan barang lain agar tidak menjadi sampah.
Persoalan lingkungan, menurut Yosi, juga berkaitan dengan kemampuan menyaring informasi.

"Sekarang bukan hanya ada polusi udara dan polusi air. Ada juga polusi informasi."
Di tengah banjir informasi media sosial, masyarakat perlu memilih informasi yang benar-benar bermanfaat agar tidak kehilangan fokus terhadap persoalan yang sesungguhnya.

Sementara itu, Yohanes Handharu mengajak peserta melihat hubungan antara hukum dan keadilan lingkungan.

Ia memulai paparannya dengan memperlihatkan video mengenai mikroplastik yang ditemukan pada ikan konsumsi.

Pada tahun 2022, YAPHI pernah mendampingi dan bekerja sama dengan masyarakat nelayan di Sungai Juwana, Pati dengan melakukan penelitian.

"Mikroplastik tidak benar-benar hilang. Plastik hanya berubah menjadi bagian yang lebih kecil, lalu masuk ke tubuh kita melalui makanan, air, bahkan udara."

Ia mengingatkan bahwa membuang sampah plastik sembarangan berarti memperpanjang rantai pencemaran yang pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri.

"Kalau kita membiarkan pencemaran terus terjadi, sesungguhnya kita sedang merugikan diri kita sendiri."
Image
Image
Handharu menekankan bahwa hukum lingkungan tidak cukup hanya berupa aturan tertulis. Menurutnya, hukum memiliki tiga pilar penting, yakni aturan, pelaksanaan, dan budaya.

"Kalau aturannya bagus tetapi budayanya masih membuang sampah sembarangan, persoalan lingkungan tidak akan selesai."
Karena itu, ia mengajak peserta memulai perubahan dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Putri kemudian melanjutkan diskusi dengan berbagai contoh praktik yang telah dilakukan di lingkungan gerejanya. Mulai dari memilah sampah organik dan anorganik, membuat pupuk kompos, memanfaatkan lubang biopori, hingga mengembangkan bank sampah sebagai bagian dari pelayanan gereja.

Ia bahkan bercerita bahwa di gerejanya, botol plastik dan kardus dikumpulkan sebagai "persembahan sampah" yang kemudian dijual untuk mendukung kegiatan gereja.
"Kami mempersembahkan sampah. Selain mengurangi sampah rumah tangga, hasilnya juga bisa dimanfaatkan."

Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

"Kalau kita tidak setia dalam hal-hal kecil, kita tidak akan dipakai Tuhan untuk mengubah hal-hal yang besar."

Ia juga mengajak peserta kembali belajar dari kearifan lokal, seperti menggunakan daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus makanan dibanding plastik sekali pakai.

"Orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengajarkan hidup yang lebih ramah lingkungan."

Di pengujung acara, moderator mengajak peserta merefleksikan apa yang telah dipelajari sepanjang diskusi. Jawaban yang muncul hampir seragam: membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, mengurangi plastik, hidup secukupnya, serta berani mencari informasi mengenai kondisi daerah masing-masing.

Bagi YAPHI, menjadi seorang Guardian tidak selalu dimulai dari aksi besar. Menjaga bumi dapat dilakukan dari rumah, dari gereja, dari keluarga, bahkan dari kebiasaan sehari-hari.
Pesan terakhir yang disampaikan para narasumber pun menjadi penutup yang kuat bagi seluruh peserta. Mereka mengingatkan bahwa ketakutan terbesar bukanlah ketika alam rusak, melainkan ketika generasi muda memilih diam dan tidak lagi peduli.

Karena itu, mereka mengajak setiap peserta menjadi penjaga kehidupan, berani membaca keadaan, mengawasi kebijakan, merawat lingkungan, serta membangun budaya yang menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan.

"Keberanian untuk menjaga ekologi harus terus diperjuangkan bersama. Menjadi Guardian berarti memulai perubahan dari diri sendiri, lalu mengajak orang lain berjalan bersama," tutup para narasumber. (Ast)