Handharu menekankan bahwa hukum lingkungan tidak cukup hanya berupa aturan tertulis. Menurutnya, hukum memiliki tiga pilar penting, yakni aturan, pelaksanaan, dan budaya.
"Kalau aturannya bagus tetapi budayanya masih membuang sampah sembarangan, persoalan lingkungan tidak akan selesai."
Karena itu, ia mengajak peserta memulai perubahan dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Putri kemudian melanjutkan diskusi dengan berbagai contoh praktik yang telah dilakukan di lingkungan gerejanya. Mulai dari memilah sampah organik dan anorganik, membuat pupuk kompos, memanfaatkan lubang biopori, hingga mengembangkan bank sampah sebagai bagian dari pelayanan gereja.
Ia bahkan bercerita bahwa di gerejanya, botol plastik dan kardus dikumpulkan sebagai "persembahan sampah" yang kemudian dijual untuk mendukung kegiatan gereja.
"Kami mempersembahkan sampah. Selain mengurangi sampah rumah tangga, hasilnya juga bisa dimanfaatkan."
Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
"Kalau kita tidak setia dalam hal-hal kecil, kita tidak akan dipakai Tuhan untuk mengubah hal-hal yang besar."
Ia juga mengajak peserta kembali belajar dari kearifan lokal, seperti menggunakan daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus makanan dibanding plastik sekali pakai.
"Orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengajarkan hidup yang lebih ramah lingkungan."
Di pengujung acara, moderator mengajak peserta merefleksikan apa yang telah dipelajari sepanjang diskusi. Jawaban yang muncul hampir seragam: membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, mengurangi plastik, hidup secukupnya, serta berani mencari informasi mengenai kondisi daerah masing-masing.
Bagi YAPHI, menjadi seorang Guardian tidak selalu dimulai dari aksi besar. Menjaga bumi dapat dilakukan dari rumah, dari gereja, dari keluarga, bahkan dari kebiasaan sehari-hari.
Pesan terakhir yang disampaikan para narasumber pun menjadi penutup yang kuat bagi seluruh peserta. Mereka mengingatkan bahwa ketakutan terbesar bukanlah ketika alam rusak, melainkan ketika generasi muda memilih diam dan tidak lagi peduli.
Karena itu, mereka mengajak setiap peserta menjadi penjaga kehidupan, berani membaca keadaan, mengawasi kebijakan, merawat lingkungan, serta membangun budaya yang menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan.
"Keberanian untuk menjaga ekologi harus terus diperjuangkan bersama. Menjadi Guardian berarti memulai perubahan dari diri sendiri, lalu mengajak orang lain berjalan bersama," tutup para narasumber. (Ast)