Dari sinilah pentingnya memahami stakeholder atau para pemangku kepentingan. Adi menjelaskan bahwa stakeholder adalah pihak-pihak yang memiliki kepentingan maupun pengaruh dalam suatu organisasi, program, atau penyelesaian masalah tertentu.
Untuk memudahkan pemahaman peserta, ia memberikan sejumlah contoh stakeholder yang berada di lingkungan terdekat, seperti keluarga, sekolah, pemerintah desa, lembaga layanan, hingga organisasi masyarakat. Peserta kemudian diminta mengidentifikasi berbagai bidang dan pihak yang terlibat di dalamnya.
Dalam proses tersebut, Adi menekankan bahwa pemetaan stakeholder tidak boleh dilakukan secara umum atau sekadar menyebut lembaga besar. Yang diperlukan adalah identifikasi yang spesifik terhadap pihak-pihak yang benar-benar memiliki pengaruh terhadap penyelesaian masalah.
“Harus bisa menemukan siapa yang paling berpengaruh terhadap persoalan yang sedang dihadapi,” jelasnya.
Menurutnya, setelah stakeholder berhasil diidentifikasi, pekerjaan berikutnya adalah membangun relasi dan komunikasi yang baik dengan mereka. Hubungan yang kuat antar-pemangku kepentingan akan memperbesar peluang keberhasilan dalam melakukan advokasi maupun penyelesaian kasus.
Adi kemudian menjelaskan tahapan dalam pemetaan stakeholder. Tahapan tersebut meliputi identifikasi stakeholder, analisis stakeholder, pemetaan stakeholder, dan pengelolaan stakeholder.
Dalam penjelasannya, ia memperkenalkan sebuah diagram yang digunakan untuk melihat posisi masing-masing stakeholder berdasarkan dua aspek utama, yaitu tingkat ketertarikan dan tingkat pengaruh. Pada diagram tersebut, garis horizontal menunjukkan tingkat ketertarikan, sementara garis vertikal menunjukkan tingkat pengaruh.
Masing-masing aspek dibagi ke dalam tiga kategori, yakni tinggi, sedang, dan rendah. Dengan menggunakan alat analisis tersebut, peserta dapat mengetahui apakah suatu stakeholder cenderung mendukung, bersikap netral, atau bahkan menentang suatu upaya advokasi.
Metode ini, menurut Adi, penting untuk membantu penyusun strategi menentukan pendekatan yang tepat kepada setiap pihak yang terlibat.
Setelah mendapatkan penjelasan teoritis, peserta tidak hanya menjadi pendengar. Mereka diajak mempraktikkan langsung teknik pemetaan stakeholder melalui metode diagram Venn.
Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok diminta memilih kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ingin dianalisis. Setelah menentukan kasus, mereka kemudian menyusun daftar stakeholder yang terkait, mulai dari pihak yang paling dekat dengan korban hingga pihak yang memiliki pengaruh besar terhadap penyelesaian kasus.
Dalam praktik tersebut, ukuran lingkaran yang digunakan dalam diagram Venn menggambarkan besar kecilnya pengaruh suatu stakeholder terhadap proses penyelesaian masalah. Sementara posisi lingkaran menunjukkan kedekatan hubungan dengan korban maupun kasus yang sedang dibahas.
Diskusi kelompok berlangsung cukup dinamis. Para peserta saling bertukar pendapat mengenai pihak-pihak yang perlu dilibatkan dalam penanganan kasus kekerasan.