Pertanyaan itu membawa diskusi pada tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu. Fasilitator menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (Al), membuat foto seseorang dapat disalahgunakan apabila tersebar tanpa pengawasan. "Karena itu jangan sembarangan membagikan foto pribadi. Gunakan media sosial dengan bijak," kata salah seorang fasilitator.
Anak-anak juga diajak memahami bahwa pelaku kejahatan tidak selalu menggunakan ancaman. Banyak yang justru memulai dengan perhatian, hadiah, pujian, bahkan rayuan agar korban merasa percaya.
"Kalau ada orang bilang, 'Aku kasih hadiah, tapi jangan cerita ke siapa-siapa,' itu justru tanda bahaya," ujar fasilitator.
Yang membuat diskusi terasa hidup adalah keberanian peserta menghubungkan materi dengan pengalaman di rumah.
Seorang anak menceritakan ibunya pernah diteror melalui aplikasi pinjaman daring meskipun utangnya telah dilunasi. Ancaman itu bahkan menyebar hingga ke nomor telepon ayahnya. Fasilitator memanfaatkan cerita tersebut untuk menjelaskan bahwa pelaku kejahatan sering menggunakan ancaman agar korban takut melapor.
"Kalau ada yang mengancam, jangan diam. Tetap cerita kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya," kata mereka.
Di sudut halaman yang lain, suasana tak kalah riuh. Sejumlah pendamping dari Yayasan YAPHI mengajak anak-anak belajar mengenali dampak penggunaan game online melalui cara yang jauh dari kesan menggurui. Mereka menggunakan permainan tebak gambar sebagai media belajar, membuat anak-anak antusias menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.
Satu per satu gambar berbagai jenis permainan digital ditampilkan. Dari situ, para fasilitator mengajak peserta berdiskusi tentang manfaat sekaligus risiko yang dapat muncul jika game online dimainkan tanpa batas. Anak-anak dikenalkan pada berbagai jenis permainan yang berpotensi menimbulkan kecanduan dan membuat mereka menghabiskan terlalu banyak waktu di depan gawai.
Alih-alih hanya melarang, para pendamping menawarkan alternatif yang lebih dekat dengan kehidupan anak. Mereka memperkenalkan kembali beragam permainan tradisional yang selama ini mulai jarang dimainkan. Anak-anak diajak mengingat permainan yang mengharuskan mereka berlari, bergerak, bekerja sama, dan berinteraksi langsung dengan teman sebaya.
Melalui pendekatan itu, YAPHI ingin menunjukkan bahwa bermain tidak selalu harus dilakukan lewat layar telepon genggam. Permainan tradisional dinilai mampu mendukung perkembangan fisik sekaligus melatih kemampuan sosial dan emosional anak. Di tengah derasnya arus teknologi digital, menghidupkan kembali ruang bermain di luar rumah menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu anak tumbuh lebih sehat, aktif, dan tidak bergantung pada game online.
Di pengujung kegiatan, setelah anak-anak pulang, para pendamping gereja dan tim YAPHI berkumpul mengevaluasi jalannya pelatihan. Mereka sepakat bahwa metode bermain ternyata jauh lebih efektif dibandingkan penyampaian materi secara satu arah.
Salah seorang pendamping paroki menilai pendekatan tersebut berhasil menempatkan anak sebagai subjek pembelajaran.
"Anak-anak terlihat memahami bahwa diri mereka sangat berharga. Harapannya mereka tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi bisa menerapkannya di sekolah, di rumah, dan dalam pergaulan sehari-hari. Mereka juga bisa mengingatkan teman-temannya," ujarnya. Ia mengaku terkesan karena materi perlindungan anak dipadukan dengan permainan yang sesuai dengan dunia anak.
"Biasanya gereja mengajarkan iman. Hari ini kami belajar bahwa mendampingi anak juga berarti mengajarkan bagaimana menjaga dirinya."
Matias, salah satu pendamping remaja di paroki, melihat kegiatan itu sebagai pembelajaran bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi para pengurus gereja.
"Hari ini kami belajar apa yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak. Tantangan mereka sekarang jauh berbeda karena mereka hidup di era digital. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan lagi, bahkan untuk kelompok remaja dengan materi yang lebih sesuai usia mereka," katanya.
Pendamping lain, Clara, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai cara menyampaikan materi kepada anak.
"Metode permainan seperti ini membuat anak jauh lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan. Kami mendapat banyak ide baru untuk pendampingan di gereja," ujarnya.
Sementara itu, Haryati Panca Putri dari YAPHI menilai perlindungan anak tidak lagi bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi. Menurutnya, anak-anak sekarang tumbuh dalam situasi yang jauh lebih kompleks. Mereka berhadapan dengan media sosial, berbagai bentuk kekerasan digital, hingga ancaman eksploitasi yang terus berkembang.
"Kita harus mencari cara-cara baru dalam mendampingi anak. Jangan sampai teknologi justru menguasai mereka. Orang dewasa juga harus terus belajar supaya mampu melindungi anak-anak," katanya.
Ia menambahkan bahwa YAPHI selama ini bekerja tidak hanya pada isu anak dan perempuan, tetapi juga berbagai persoalan sosial lain. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan mengenai perlindungan diri tidak bisa dilakukan sekali selesai. Dibutuhkan kerja sama antara keluarga, sekolah, gereja, dan komunitas agar anak benar-benar memiliki lingkungan yang aman. (Ast)