Anak-anak, Dunia Digital, dan Keberanian Berkata Tidak

Anak-anak, Dunia Digital, dan Keberanian Berkata Tidak
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula Paroki Santo Paulus Kleco, Solo, pada Minggu pagi itu, 12/7/2026. Puluhan anak berdiri membentuk lingkaran kecil. Sebagian masih tertawa setelah menyelesaikan permainan, sebagian lain mengangkat tangan tinggi-tinggi mengikuti aba-aba fasilitator. Di hadapan mereka, tidak ada papan tulis, tidak pula ceramah panjang tentang bahaya kekerasan seksual. Yang terdengar justru empat kata. "Tolak! ", "Teriak!", "Lari!" dan "Lapor!".

Empat kata sederhana itu berkali-kali diteriakkan. Anak-anak menghafalnya melalui lagu, tepuk, permainan ular tangga raksasa, hingga simulasi berbagai situasi yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, itu hanyalah permainan. Namun bagi para pendamping, empat kata tersebut adalah bekal agar anak mampu melindungi dirinya ketika berhadapan dengan ancaman yang sering kali datang tanpa dikenali.
Image
Pagi itu, Yayasan YAPHI hadir di Paroki Santo Paulus Kleco untuk mengadakan pendidikan perlindungan anak untuk memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Tema yang diangkat bukan sekadar mengenalkan hak anak, melainkan mengajarkan keberanian menjaga tubuh dan mengatakan "tidak" ketika menghadapi situasi yang tidak aman.

Sebelum kegiatan dimulai, Handharu memperkenalkan YAPHI kepada para orang tua, pendamping, dan pengurus gereja. Ia menceritakan bahwa Yayasan YAPHI lahir dari inisiatif tokoh-tokoh gereja dan selama bertahun-tahun memberikan pelayanan kepada masyarakat di berbagai wilayah Jawa Tengah.

"Kami sudah melayani di berbagai komunitas, sekolah, dan gereja di Purworejo, Sragen, Sukoharjo, serta sejumlah daerah lain. Kami banyak berdinamika bersama anak-anak dan remaja mengenai hak-hak anak," ujar Handharu.

Menurut dia, kesempatan hadir di Paroki Santo Paulus menjadi ruang baru untuk memperluas pendidikan perlindungan anak di lingkungan gereja.

"Kami bersyukur diberi kesempatan untuk berdinamika bersama anak-anak di sini. Harapannya kami bisa memberi kontribusi yang lebih besar bagi paroki," katanya.

Sambutan hangat datang dari pihak paroki. Mewakili pengurus, salah seorang pastor menyampaikan apresiasi atas kesediaan YAPHI mendampingi anak-anak sekolah minggu.
"Kegiatan ini sangat baik untuk putra-putri kami. Semoga apa yang mereka pelajari hari ini berdampak dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Suasana kemudian berubah lebih cair. Setelah doa pembuka dan lagu bersama, anak-anak dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing mengenakan tanda nomor dan warna berbeda. Tidak ada wajah tegang. Mereka justru sibuk saling mengenalkan diri sambil menunggu permainan dimulai.

Di salah satu sudut halaman terbuka yakni di halaman parkir, Dorkas memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan sederhana.

"Siapa yang pernah diminta nomor WhatsApp oleh orang yang tidak dikenal?" Beberapa tangan langsung terangkat.

"Ada yang pernah di-spam?"

Kali ini lebih banyak anak mengangguk.

Pertanyaan-pertanyaan ringan itu menjadi pintu masuk untuk membahas sesuatu yang jauh lebih serius:
bagaimana pelaku kekerasan sering kali mendekati anak dengan cara yang tampak ramah.

Dorkas tidak menggunakan istilah-istilah rumit. Ia justru mengajak anak-anak mengingat pengalaman mereka sendiri. "Menurut teman-teman, orang jahat itu selalu kelihatan jahat?"
Anak-anak serempak menjawab, "Tidak."
"Betul. Orang yang berniat jahat kadang justru kelihatan baik. Bisa memuji kita, memberi hadiah, mengajak curhat, atau bersikap sangat perhatian."
Kalimat itu segera disambung berbagai contoh yang akrab dengan kehidupan anak-anak sekarang. Ada orang asing yang mengirim pesan di media sosial. Ada yang menawarkan hadiah. Ada pula yang meminta foto pribadi sambil berkata, "Jangan bilang siapa-siapa."
Alih-alih menakut-nakuti, para fasilitator mengajak peserta berpikir kritis.
"Kalau ada orang yang tiba-tiba memberi perhatian berlebihan dan meminta semuanya dirahasiakan,
menurut kalian itu tanda apa?"
"Tanda bahaya," jawab seorang anak.
Jawaban spontan itu membuat para fasilitator saling tersenyum.

Diskusi terus berkembang. Seorang anak bertanya bagaimana jika pelaku adalah guru.
Suasana mendadak sunyi. Pertanyaan itu menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya telah memikirkan
berbagai kemungkinan yang tidak mudah. Dorkas menjawab tanpa ragu.
"Yang paling penting adalah keselamatanmu. Nilai bisa dicari lagi. Tapi kalau ada orang, siapa pun dia,
yang membuatmu tidak nyaman, kamu tetap harus berani berkata tidak."

Kalimat berikutnya bahkan lebih tegas.
"Guru bisa salah. Saudara juga bisa salah. Tetangga juga bisa salah. Siapa pun yang membuatmu merasa
tidak aman harus kamu tolak."
Pernyataan itu bukan untuk menumbuhkan rasa curiga kepada semua orang. Justru sebaliknya, anak-anak
diajak memahami bahwa mereka memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Hak itu tidak boleh diambil siapa pun.

Dari percakapan itulah lahir empat kata yang terus diulang sepanjang kegiatan : "Tolak", "Teriak", "Lari",
dan "Lapor."
Anak-anak diminta berdiri. Mereka mengikuti gerakan tangan sambil meneriakkan empat langkah tersebut. Kalau ada orang yang memaksa?
"Tolak!"
Kalau masih memaksa? "Teriak!"
Kalau tetap mengejar? "Lari!"
Lalu setelah selamat? "Lapor!"
Yang menarik, fasilitator tidak berhenti pada teori. Mereka mengajak anak-anak memikirkan kepada siapa mereka harus melapor.
"Kalau takut sama orang tua bagaimana?"
"Boleh kepada orang dewasa lain yang benar-benar dipercaya," jawab Dorkas. "Bisa kakak, guru yang baik, pendamping gereja, atau keluarga yang membuatmu merasa aman."
Namun ia mengingatkan bahwa teman sebaya bukanlah tempat terbaik untuk menyimpan persoalan seperti itu.
"Yang penting jangan dipendam sendiri."

Perlahan suasana berubah. Anak-anak yang semula hanya mendengarkan mulai berani bertanya. Ada yang penasaran apakah menerima permen dari orang asing boleh dilakukan. Ada yang bertanya apakah pergi ke toilet pusat perbelanjaan harus ditemani orang tua. Ada pula yang bertanya bagaimana jika seseorang meminta mereka merahasiakan sesuatu.

Setiap pertanyaan dijawab dengan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan keseharian mereka. Tanpa disadari, pagi itu anak-anak sedang belajar sesuatu yang jarang diajarkan di ruang kelas: bahwa keberanian bukanlah melawan orang lain, melainkan keberanian menjaga diri sendiri.

Permainan yang digunakan di halaman adalah sebuah papan ular tangga berukuran besar dan
dibentangkan di paving. Anak-anak bukan lagi sekadar pemain, melainkan pion yang bergerak dari satu
kotak ke kotak lain. Setiap langkah ditentukan oleh lemparan dadu, tetapi untuk bisa maju mereka harus lebih dulu menjawab berbagai situasi yang mungkin mereka hadapi dalam kehidupan nyata.

Tidak ada pertanyaan tentang angka atau pelajaran sekolah. Yang muncul justru persoalan yang semakin akrab dengan dunia anak-anak masa kini.
Kelompok pun berganti. Pertanyaan yang sama diajukan kepada mereka.
"Kalau ada orang yang baru dikenal memberi hadiah dengan syarat mengirim foto pribadi, apa yang kamu lakukan?"
Seorang anak menjawab lantang, "Tidak mau!"
"Kalau ada yang mengajak pergi berdua sambil bilang jangan cerita ke siapa-siapa?" "Tolak."
"Kalau ada orang memegang bagian tubuhmu dan kamu tidak nyaman?" "Lapor ke orang tua."

Jawaban demi jawaban mengalir tanpa ragu. Anak-anak tampak berdiskusi lebih dulu dengan teman sekelompok sebelum mengangkat tangan. Sesekali terdengar tawa ketika ada kelompok yang salah menjawab, tetapi permainan segera kembali serius ketika fasilitator menjelaskan alasan di balik setiap jawaban.

Permainan itu sesungguhnya bukan tentang siapa yang lebih dulu mencapai garis akhir. Yang sedang dibangun adalah cara berpikir anak ketika menghadapi situasi berisiko.
Di sela permainan, fasilitator membuka ruang yang lebih luas. Mereka meminta peserta menceritakan pengalaman pribadi, jika pernah mengalami hal-hal yang membuat tidak nyaman.

Tak disangka, tangan-tangan kecil mulai terangkat. Seorang anak bercerita pernah menerima pesan WhatsApp dari nomor yang sama sekali tidak dikenalnya. la mengaku tidak membalas pesan tersebut.

"Aku lihat dulu profilnya. Karena enggak kenal, langsung aku blokir," katanya. Fasilitator mengangguk.
"ltu langkah yang bagus."

Anak lain bercerita pernah salah menyimpan nomor telepon sehingga tanpa sengaja mengobrol dengan orang asing. Begitu sadar nomor itu bukan milik temannya, ia segera menghentikan percakapan dan memberi tahu orang tuanya.

Cerita demi cerita membuat suasana berubah menjadi ruang belajar bersama. Tidak ada yang ditertawakan. Tidak ada pula yang ddisalahkan Yang menarik perhatian fasilitator justru keberanian anak-anak untuk berbicara.

Dorkas mengatakan, kesempatan bercerita merupakan bagian penting dalam pendidikan perlindungan anak.

"Anak-anak sangat aktif. Bahkan ada jawaban-jawaban yang berada di luar dugaan kami. Mereka berani menceritakan pengalaman mereka sendiri. ltu menunjukkan mereka mulai memahami materi yang kami sampaikan," ujarnya.

Percakapan masih berkutat pada dunia digital. Salah seorang anak mengaku sering melihat orang asing menghubunginya melalui media sosial. Anak lain bertanya mengenai keamanan mengunggah foto di internet.
Image
Pertanyaan itu membawa diskusi pada tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu. Fasilitator menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (Al), membuat foto seseorang dapat disalahgunakan apabila tersebar tanpa pengawasan. "Karena itu jangan sembarangan membagikan foto pribadi. Gunakan media sosial dengan bijak," kata salah seorang fasilitator.

Anak-anak juga diajak memahami bahwa pelaku kejahatan tidak selalu menggunakan ancaman. Banyak yang justru memulai dengan perhatian, hadiah, pujian, bahkan rayuan agar korban merasa percaya.

"Kalau ada orang bilang, 'Aku kasih hadiah, tapi jangan cerita ke siapa-siapa,' itu justru tanda bahaya," ujar fasilitator.

Yang membuat diskusi terasa hidup adalah keberanian peserta menghubungkan materi dengan pengalaman di rumah.

Seorang anak menceritakan ibunya pernah diteror melalui aplikasi pinjaman daring meskipun utangnya telah dilunasi. Ancaman itu bahkan menyebar hingga ke nomor telepon ayahnya. Fasilitator memanfaatkan cerita tersebut untuk menjelaskan bahwa pelaku kejahatan sering menggunakan ancaman agar korban takut melapor.

"Kalau ada yang mengancam, jangan diam. Tetap cerita kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya," kata mereka.

Di sudut halaman yang lain, suasana tak kalah riuh. Sejumlah pendamping dari Yayasan YAPHI mengajak anak-anak belajar mengenali dampak penggunaan game online melalui cara yang jauh dari kesan menggurui. Mereka menggunakan permainan tebak gambar sebagai media belajar, membuat anak-anak antusias menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.

Satu per satu gambar berbagai jenis permainan digital ditampilkan. Dari situ, para fasilitator mengajak peserta berdiskusi tentang manfaat sekaligus risiko yang dapat muncul jika game online dimainkan tanpa batas. Anak-anak dikenalkan pada berbagai jenis permainan yang berpotensi menimbulkan kecanduan dan membuat mereka menghabiskan terlalu banyak waktu di depan gawai.

Alih-alih hanya melarang, para pendamping menawarkan alternatif yang lebih dekat dengan kehidupan anak. Mereka memperkenalkan kembali beragam permainan tradisional yang selama ini mulai jarang dimainkan. Anak-anak diajak mengingat permainan yang mengharuskan mereka berlari, bergerak, bekerja sama, dan berinteraksi langsung dengan teman sebaya.

Melalui pendekatan itu, YAPHI ingin menunjukkan bahwa bermain tidak selalu harus dilakukan lewat layar telepon genggam. Permainan tradisional dinilai mampu mendukung perkembangan fisik sekaligus melatih kemampuan sosial dan emosional anak. Di tengah derasnya arus teknologi digital, menghidupkan kembali ruang bermain di luar rumah menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu anak tumbuh lebih sehat, aktif, dan tidak bergantung pada game online.

Di pengujung kegiatan, setelah anak-anak pulang, para pendamping gereja dan tim YAPHI berkumpul mengevaluasi jalannya pelatihan. Mereka sepakat bahwa metode bermain ternyata jauh lebih efektif dibandingkan penyampaian materi secara satu arah.
Salah seorang pendamping paroki menilai pendekatan tersebut berhasil menempatkan anak sebagai subjek pembelajaran.

"Anak-anak terlihat memahami bahwa diri mereka sangat berharga. Harapannya mereka tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi bisa menerapkannya di sekolah, di rumah, dan dalam pergaulan sehari-hari. Mereka juga bisa mengingatkan teman-temannya," ujarnya. Ia mengaku terkesan karena materi perlindungan anak dipadukan dengan permainan yang sesuai dengan dunia anak.

"Biasanya gereja mengajarkan iman. Hari ini kami belajar bahwa mendampingi anak juga berarti mengajarkan bagaimana menjaga dirinya."

Matias, salah satu pendamping remaja di paroki, melihat kegiatan itu sebagai pembelajaran bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi para pengurus gereja.

"Hari ini kami belajar apa yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak. Tantangan mereka sekarang jauh berbeda karena mereka hidup di era digital. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan lagi, bahkan untuk kelompok remaja dengan materi yang lebih sesuai usia mereka," katanya.

Pendamping lain, Clara, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai cara menyampaikan materi kepada anak.

"Metode permainan seperti ini membuat anak jauh lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan. Kami mendapat banyak ide baru untuk pendampingan di gereja," ujarnya.

Sementara itu, Haryati Panca Putri dari YAPHI menilai perlindungan anak tidak lagi bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi. Menurutnya, anak-anak sekarang tumbuh dalam situasi yang jauh lebih kompleks. Mereka berhadapan dengan media sosial, berbagai bentuk kekerasan digital, hingga ancaman eksploitasi yang terus berkembang.

"Kita harus mencari cara-cara baru dalam mendampingi anak. Jangan sampai teknologi justru menguasai mereka. Orang dewasa juga harus terus belajar supaya mampu melindungi anak-anak," katanya.

Ia menambahkan bahwa YAPHI selama ini bekerja tidak hanya pada isu anak dan perempuan, tetapi juga berbagai persoalan sosial lain. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan mengenai perlindungan diri tidak bisa dilakukan sekali selesai. Dibutuhkan kerja sama antara keluarga, sekolah, gereja, dan komunitas agar anak benar-benar memiliki lingkungan yang aman. (Ast)