Tidak hanya teori, peserta juga diajak untuk melakukan praktik langsung. Mereka belajar bagaimana berinteraksi dengan berbagai ragam disabilitas, seperti difabel netra dengan tongkat putih, termasuk teknik mendampingi saat berjalan; komunikasi dengan teman tuli; hingga cara berinteraksi dengan pengguna kursi roda, disabilitas wicara, dan cerebral palsy. Pendekatan praktik ini memberikan pengalaman nyata yang memperkuat pemahaman peserta.
Diskusi berlangsung dinamis saat sesi tanya jawab dibuka. Salah satu pertanyaan datang dari Pendeta Yudha yang menanyakan cara berkomunikasi dengan jemaat lansia yang mengalami tuli, namun tidak memahami bahasa isyarat. Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa komunikasi dapat dilakukan melalui berbagai cara alternatif, seperti bahasa tulis sederhana, gestur, atau pendekatan komunikasi yang disesuaikan dengan kemampuan individu. Jawaban ini sekaligus menegaskan pentingnya fleksibilitas dan empati dalam berinteraksi.
Pelatihan ditutup dengan pelaksanaan post-test untuk mengukur pemahaman peserta setelah mengikuti sesi, yang sebelumnya telah diawali dengan pre-test. Evaluasi ini menjadi indikator awal untuk melihat sejauh mana materi yang disampaikan mampu meningkatkan pengetahuan dan perspektif peserta.
Selama kurang lebih dua setengah jam, kegiatan berlangsung dengan partisipatif dan interaktif. Melalui pelatihan ini, Yayasan YAPHI tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang peserta terhadap isu disabilitas. Harapannya, para anggota Satgas mampu mengintegrasikan perspektif inklusif dalam kerja-kerja pencegahan kekerasan di komunitas mereka masing-masing. (Ast)