Menumbuhkan Budaya Aman Sejak Dini: Cerita dari MI Miftahul Huda di Jakenan, Pati

Menumbuhkan Budaya Aman Sejak Dini: Cerita dari MI Miftahul Huda di Jakenan, Pati
Pagi itu, suasana di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda, Jakenan, Pati terasa berbeda. Tawa anak-anak terdengar lebih riuh dari biasanya, bercampur dengan suara tepuk tangan dan instruksi para fasilitator. Di antara puluhan siswa yang hadir di sebuah ruangan, terdapat seorang anak bernama Ilul, siswa kelas 4 yang hidup dengan kondisi hidrosefalus. Meski memiliki keterbatasan, Ilul tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan pelatihan bertema budaya aman yang diselenggarakan oleh Yayasan YAPHI.

Pelatihan ini bukanlah yang pertama. Yayasan YAPHI sebelumnya telah belasan kali hadir di madrasah ini, membangun hubungan yang hangat dengan para siswa sekaligus menanamkan nilai-nilai penting terkait perlindungan diri dan lingkungan yang aman. Kegiatan kali ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman anak-anak tentang apa itu “aman” dan “tidak aman” dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar Sambil Bermain


Di ruang kelas 3 dan 4 yang digabung, sekitar 40 anak mengikuti pelatihan yang dipandu oleh tiga fasilitator: Handharu, Tika, dan Astuti. Kegiatan diawali dengan permainan sebagai pre-test untuk mengukur pemahaman awal anak-anak. Dengan metode yang interaktif, anak-anak diajak mengenali konsep dasar tentang rasa aman dan bahaya.

Namun, seperti halnya anak-anak pada umumnya, menjaga fokus bukanlah hal mudah. Suasana kelas sempat riuh, tetapi para fasilitator dengan sigap mengembalikan perhatian anak-anak melalui permainan berbaris dan aktivitas mendengarkan instruksi. Metode ini terbukti efektif, anak-anak kembali fokus dan siap menerima materi berikutnya.

Salah satu pendekatan menarik adalah melalui “tepuk hak anak” dan “senam hak anak”, yang digunakan untuk mengulang materi dari pertemuan sebelumnya. Dengan gerakan dan irama, anak-anak tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami hak-hak mereka secara menyenangkan.

Memahami Orang, Tempat, dan Aktivitas yang Aman

Materi utama pelatihan berfokus pada tiga hal penting: orang yang aman, tempat yang aman, dan aktivitas yang aman. Handharu memulai dengan menjelaskan kriteria orang yang bisa dipercaya oleh anak-anak. Ia menggambar di papan tulis dan mengajak anak-anak berdiskusi tentang siapa saja yang membuat mereka merasa nyaman dan terlindungi.
Tidak hanya itu, anak-anak juga diajak mengenali emosi mereka sendiri. Handharu menekankan bahwa perasaan seperti sedih, marah, takut, atau cemas adalah sinyal bahwa seseorang mungkin sedang berada dalam situasi yang tidak aman. Dengan berbagai cerita, anak-anak diminta menilai apakah situasi tersebut aman atau tidak. Pendekatan ini membantu mereka belajar mengambil keputusan berdasarkan perasaan dan pengalaman.

Astuti kemudian melanjutkan dengan membahas aktivitas yang aman, baik di sekolah maupun di rumah. Di sekolah, aktivitas yang aman adalah ketika mereka belajar dengan guru yang sabar dan tidak mudah marah. Sebaliknya, suasana belajar yang penuh tekanan atau emosi negatif dianggap tidak aman.

Di rumah, anak-anak diajak memahami pentingnya ruang yang mendukung, tempat di mana mereka bisa belajar dengan tenang dan tidak dibebani pekerjaan berlebihan. Lebih penting lagi, rumah harus menjadi tempat yang aman untuk berbagi cerita, termasuk ketika mereka mengalami hal yang tidak menyenangkan seperti perundungan atau kekerasan.
Image
Image

Menjaga Konsentrasi dengan Permainan

Untuk menjaga semangat dan konsentrasi anak-anak, Tika dan Handharu menyelipkan permainan “tepuk konsentrasi”. Di tengah udara kelas yang panas, permainan ini menjadi cara efektif untuk mengembalikan fokus dan energi anak-anak. Perlahan, suasana menjadi lebih tenang dan kondusif.

Setelah sesi materi selesai, anak-anak diminta menjawab pertanyaan secara tertulis sebagai post-test. Ini menjadi cara untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka berkembang selama pelatihan.

Diskusi Mendalam di Kelas Atas

Sementara itu, di ruangan lain, siswa kelas 5 dan 6 mengikuti pelatihan dengan pendekatan yang berbeda. Dipandu oleh Dunung Sukocowati dan Anisa Ratna, mereka diajak berdiskusi dalam kelompok kecil melalui metode Focus Group Discussion (FGD).

Sebanyak tujuh kelompok dibentuk, masing-masing diberi kertas plano untuk menuliskan dan menggambarkan pemahaman mereka tentang budaya aman. Mereka mendiskusikan berbagai aspek: definisi aman dan tidak aman, serta contoh orang, tempat, dan aktivitas yang mencerminkan kedua kondisi tersebut.

Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusi mereka. Metode ini terbukti efektif karena sesuai dengan tingkat perkembangan mereka yang lebih matang. Anak-anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif mengolah dan menyampaikannya kembali.

Edukasi Dini untuk Kelas Bawah

Di ruang lainnya, siswa kelas 1 dan 2 mendapatkan materi yang disesuaikan dengan usia mereka dengan difasilitasi Renny dan Aster. Di kelas 2 dipandu oleh Justina dan Adi. Fokus utama adalah perlindungan diri, terutama dalam mencegah kekerasan seksual. Anak-anak diajarkan mengenali tubuh mereka, memahami batasan, dan mengetahui siapa saja yang boleh atau tidak boleh menyentuh bagian tubuh tertentu.

Metode yang digunakan pun sederhana dan menyenangkan, melalui gambar dan permainan tepuk tangan. Dengan cara ini, pesan penting dapat disampaikan tanpa menimbulkan rasa takut, tetapi tetap membekas dalam ingatan mereka.
Image

Suara Anak-anak: Belajar dari Pengalaman

Dalam sesi wawancara, seorang siswa kelas 6 bernama Iza mengungkapkan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat. Ia kini memahami bahwa budaya aman mencakup banyak aspek dan penting untuk terus disosialisasikan. Ia juga mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi, seperti bencana banjir yang sempat melanda kampungnya.

Bagi Iza, banjir adalah contoh nyata dari situasi tidak aman. Namun, menariknya, ada juga anak yang melihat banjir sebagai sesuatu yang menyenangkan karena bisa bermain air tanpa memikirkan risiko. Perbedaan perspektif ini menjadi bahan refleksi penting bahwa pemahaman tentang risiko perlu terus dibangun sejak dini.

Ilul dan dua temannya juga berbagi cerita serupa. Mereka mengaku sempat tidak bisa bersekolah selama dua minggu akibat banjir. Pengalaman ini memperkuat pemahaman mereka tentang pentingnya kesiapsiagaan dan keselamatan.

Menuju Masa Depan yang Lebih Aman

Pelatihan budaya aman ini bukanlah akhir, melainkan awal dari proses panjang dalam membentuk kesadaran anak-anak tentang keselamatan diri dan lingkungan. Ke depan, Yayasan YAPHI berencana melanjutkan program ini dengan materi yang lebih mendalam, termasuk tentang pengurangan risiko bencana.

Melalui pendekatan yang menyenangkan, partisipatif, dan kontekstual, anak-anak tidak hanya belajar, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang lebih peka, berani, dan sadar akan hak serta keselamatan mereka. Dan di tengah semua itu, sosok seperti Ilul menjadi pengingat bahwa setiap anak, dengan segala keunikan dan tantangannya, berhak merasa aman dan dilindungi.

Guru, Staf Sekolah Juga Belajar tentang Perdamaian Diri dan Konsep Dasar HAM

Tidak berbeda dengan semua siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, para guru dan karyawan serta perwakilan orangtua di waktu yang sama juga belajar tentang perdamaian diri serta konsep dasar HAM yang difasilitasi oleh Vera dan Dorkas. Kelas ini membutuhkan lebih banyak waktu sesuai kebutuhan materi. Dengan metode ceramah dan diskusi interaktif para peserta diajak untuk berefleksi terkait dengan pemahaman tentang pikiran yang jernih, peningkatan kepercayaan diri dan membuka ruang bertumbuh bersama, serta rasa cukup dan syukur. Sedangkan belajar konsep dasar HAM dengan tujuan supaya paham tentang hak-hak dan penghargaan kepada orang lain, mencegah kekerasan dan penyalahgunaan wewenang, bersikap adil dan bertanggung jawab. Hal ini penting untuk pendidikan dan perlindungan anak, dan bekal untuk melakukan advokasi dan perubahan sosial dan membantu memahami aturan dan hukum. (ast)