Mencegah Sebelum Terjadi: Sekolah Pelita Mengajak Warga Serengan Mengenali Diri dan Memutus Rantai Kekerasan

Mencegah Sebelum Terjadi: Sekolah Pelita Mengajak Warga Serengan Mengenali Diri dan Memutus Rantai Kekerasan
Siang itu, panas Kota Surakarta terasa menyengat. Namun cuaca yang terik tidak menyurutkan langkah 28 peserta yang datang ke Aula Kecamatan Serengan, Kamis (18/6/2026). Mereka berasal dari berbagai latar belakang: kader kesehatan, anggota PPT, KLA, pegiat perlindungan perempuan dan anak, karang taruna, serta tokoh masyarakat dari sejumlah kelurahan di Kecamatan Serengan.

Hari itu menjadi penanda dimulainya Kelas Pencegahan dan Literasi Tindakan Anti Kekerasan Kota Surakarta (Pelita), sebuah ruang belajar yang diinisiasi Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Perempuan dan Anak (Komasipera) untuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di tingkat masyarakat.

Berbeda dengan berbagai program yang selama ini lebih banyak berfokus pada pendampingan korban setelah kekerasan terjadi, Sekolah Pelita hadir dengan pendekatan yang berbeda yakni mencegah sebelum kekerasan terjadi.

Sejak awal kegiatan, panitia sudah menegaskan pentingnya prinsip keamanan dan penghormatan terhadap identitas peserta. Adi Cahyo selaku pembawa acara menjelaskan bahwa dalam formulir presensi terdapat beberapa kolom tambahan, termasuk informasi terkait disabilitas dan persetujuan dokumentasi.
"Ada beberapa orang yang mungkin tidak nyaman identitasnya ditampilkan, terutama korban kekerasan. Karena itu kita perlu menghormati persetujuan mereka untuk didokumentasikan atau tidak," ujarnya.

Bagi Komasipera, perlindungan identitas bukan sekadar urusan administrasi. Pengalaman mendampingi korban selama ini menunjukkan bahwa rasa aman menjadi bagian penting dalam proses pemulihan maupun pembelajaran bersama.

Selain menjelaskan teknis kegiatan, Adi juga memperkenalkan Sekolah Pelita sebagai program pembelajaran berkelanjutan yang akan dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. Setidaknya terdapat sebelas materi yang akan dibahas secara bertahap, mulai dari konsep diri, gender, hak asasi manusia, hak anak, sensitivitas disabilitas, kekerasan berbasis online, hingga perlindungan hukum bagi perempuan dan anak.

Dari Penanganan Menuju Pencegahan

Ketua Komasipera, Ida Mufti, mengakui bahwa selama ini sebagian besar upaya perlindungan perempuan dan anak masih berpusat pada penanganan kasus.
Menurutnya, banyak lembaga telah hadir untuk mendampingi korban ketika kekerasan sudah terjadi. Namun upaya pencegahan yang sistematis dan terstruktur masih sangat terbatas.

"Selama ini kita lebih banyak bergerak ketika kasus sudah terjadi. Kita mendampingi, menemani, dan membantu penyelesaiannya. Tetapi bagaimana supaya kekerasan itu tidak terjadi lagi? Nah, itulah yang ingin kita bangun melalui Sekolah Pelita," kata Ida.

Ia menjelaskan bahwa Komasipera merupakan forum lintas komunitas dan lembaga yang berfokus pada isu perempuan dan anak. Forum ini menjadi ruang diskusi, berbagi pengalaman, sekaligus wadah belajar bersama bagi masyarakat sipil.
Menurut Ida, persoalan kekerasan tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan kerja sama berbagai pihak agar masyarakat memiliki pemahaman yang utuh tentang akar masalah maupun cara pencegahannya.

"Kita ingin masyarakat tidak hanya mengenal kasus, tetapi juga memahami bagaimana mencegahnya. Karena pencegahan jauh lebih baik daripada menangani dampaknya setelah terjadi," ujarnya.
Menjaga Ketahanan Keluarga

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Kecamatan Serengan. Dalam sambutannya, Tri Widodo, Camat Serengan menyoroti berbagai persoalan kekerasan yang belakangan sering muncul di masyarakat.

Menurutnya, banyak kasus kekerasan berawal dari persoalan rumah tangga yang tidak terselesaikan dengan baik. Tekanan ekonomi, konflik keluarga, dan ketidakmampuan mengelola emosi sering kali menjadi pemicu munculnya kekerasan.
"Kita harus menjaga keutuhan keluarga. Anak-anak adalah modal masa depan. Kalau keluarga tidak sehat, dampaknya akan panjang bagi kehidupan sosial masyarakat," ujarnya.

Ia mengapresiasi langkah Komasipera yang memilih pendekatan pencegahan melalui pendidikan masyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu terus dibekali kemampuan untuk mengenali tanda-tanda kekerasan serta membangun relasi yang sehat dalam keluarga.

Tri Widodo juga berharap kondisi sosial yang selama ini relatif kondusif di wilayahnya dapat terus dipertahankan melalui kerja sama seluruh elemen masyarakat.
Image
Mengenali Diri Sebelum Menolong Orang Lain

Materi perdana Sekolah Pelita terasa cukup unik. Alih-alih langsung membahas kekerasan, peserta justru diajak masuk ke ruang refleksi yang sangat personal: mengenali diri sendiri.

Fasilitator, Vera Kartika Giantari, membuka sesi dengan mengajak peserta menyepakati suasana belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

"Kita akan belajar bersama. Tidak ada jawaban yang salah. Yang penting kita berani menyampaikan apa yang kita pikirkan dan rasakan," katanya.
Peserta kemudian diminta menjawab empat pertanyaan sederhana namun mendalam. Pertanyaan itu dituliskan di empat lembar kertas berwarna berbeda:

Siapa saya? Dari mana saya berasal? Untuk apa saya hidup? Dan ke mana tujuan akhir hidup saya?

Awalnya ruangan terlihat hening. Namun perlahan para peserta mulai menuliskan jawabannya.

Ketika hasil refleksi dibacakan, tampak bahwa sebagian besar peserta memandang diri mereka sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Ada yang menulis bahwa manusia adalah makhluk sosial yang harus mampu beradaptasi dan hidup berdampingan dengan orang lain. Ada pula yang menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang belum sempurna dan masih terus belajar memperbaiki diri.

Sebagian peserta memaknai asal-usul manusia dari sudut pandang agama. Mereka menulis bahwa manusia berasal dari tanah, dari segumpal air mani, dilahirkan oleh seorang ibu, dan pada akhirnya merupakan ciptaan Tuhan.

Jawaban menjadi semakin beragam ketika peserta diminta menjelaskan tujuan hidup mereka.

Ada yang menulis bahwa hidup adalah kesempatan untuk beribadah dan menjalankan perintah Tuhan. Ada yang ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Ada pula yang ingin membahagiakan keluarga, mendidik anak-anak, menikmati hidup dengan penuh rasa syukur, serta memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Menariknya, hampir seluruh peserta memiliki jawaban yang serupa ketika ditanya mengenai tujuan akhir hidup. Sebagian besar menuliskan keinginan untuk kembali kepada Tuhan dan memperoleh kehidupan yang baik di akhirat.

Ada yang menuliskan harapan sederhana: masuk surga. Ada pula yang menambahkan bahwa sebelum mencapai tujuan tersebut mereka ingin membawa anak-anaknya menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

Bagi Vera, refleksi semacam itu penting karena banyak orang menjalani kehidupan sehari-hari tanpa pernah benar-benar berhenti untuk bertanya mengenai tujuan hidupnya.

"Kita sering sibuk bekerja, mengurus rumah, mengurus keluarga. Tahu-tahu hari sudah malam, besok mengulang lagi. Padahal mungkin kita jarang memberi waktu kepada diri sendiri untuk bertanya, sebenarnya apa tujuan hidup kita," ujarnya.
Tiga Bekal Manusia

Dari refleksi tersebut, Vera kemudian mengajak peserta memahami tiga bekal utama yang dimiliki setiap manusia.

Pertama adalah jasmani, yaitu kebutuhan fisik seperti makan, minum, tidur, dan kesehatan.

Kedua adalah naluri. Menurut Vera, manusia memiliki naluri mempertahankan diri, naluri kasih sayang, naluri melanjutkan keturunan, serta naluri spiritual.

Ketiga adalah akal, yang membedakan manusia dari makhluk lain.
Image
"Akal membantu manusia berpikir, menganalisis, menyimpan pengetahuan, dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk," jelasnya.

Menurut Vera, banyak persoalan sosial, termasuk kekerasan, berakar pada kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang tidak terpenuhi atau terpenuhi dengan cara yang keliru.

Ia memberi contoh kebutuhan kasih sayang yang tidak terpenuhi pada anak. Ketika anak tidak mendapatkan perhatian, sentuhan, waktu bersama, maupun kata-kata positif dari orang tua, dampaknya bisa memengaruhi perkembangan konsep dirinya.

Sebaliknya, ketika kebutuhan kasih sayang terpenuhi dengan baik, anak akan tumbuh lebih percaya diri dan memiliki pandangan positif terhadap dirinya.

Membangun Konsep Diri Positif

Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep diri. Vera menjelaskan bahwa konsep diri adalah cara seseorang memandang, menilai, dan membayangkan dirinya sendiri.

Konsep diri dibentuk oleh banyak faktor, mulai dari pengalaman hidup, pola asuh keluarga, lingkungan sosial, budaya, kondisi fisik, hingga media sosial.

Menurutnya, seseorang yang memiliki konsep diri positif cenderung lebih mudah menerima kelebihan dan kekurangannya. Mereka tidak mudah goyah oleh penilaian negatif orang lain dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.

Sebaliknya, konsep diri negatif sering membuat seseorang mudah tersinggung, kehilangan kepercayaan diri, dan sulit berkembang. Karena itu, peserta diajak untuk mulai berdamai dengan dirinya sendiri.

Caranya antara lain dengan menerima kekurangan, memaafkan kesalahan masa lalu, membangun afirmasi positif, membuat target yang realistis, serta menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

"Kita tidak perlu membandingkan diri dengan kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial. Yang penting adalah mengenali dan mensyukuri apa yang kita miliki," kata Vera.

Langkah Kecil untuk Perubahan Besar

Menjelang akhir sesi, peserta menyampaikan evaluasi sederhana namun jujur.

Salah satu peserta meminta agar pertemuan berikutnya berlangsung lebih santai dan tidak terlalu terburu-buru.

"Jangan spaneng, besok yang santai saja," ujarnya yang langsung disambut tawa peserta lain.

Meski demikian, pertemuan perdana Sekolah Pelita menunjukkan bahwa upaya pencegahan kekerasan bisa dimulai dari hal yang sangat mendasar: mengenali diri sendiri.

Di tengah maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kerap muncul di ruang publik, Komasipera memilih memulai langkah dari akar persoalan. Bukan hanya mengajarkan cara menangani korban, tetapi juga membantu masyarakat memahami manusia, relasi, dan kebutuhan-kebutuhan dasar yang sering kali terabaikan.

Karena sebelum mampu melindungi orang lain, seseorang perlu terlebih dahulu memahami dirinya sendiri. ( Ast)