"Akal membantu manusia berpikir, menganalisis, menyimpan pengetahuan, dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk," jelasnya.
Menurut Vera, banyak persoalan sosial, termasuk kekerasan, berakar pada kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang tidak terpenuhi atau terpenuhi dengan cara yang keliru.
Ia memberi contoh kebutuhan kasih sayang yang tidak terpenuhi pada anak. Ketika anak tidak mendapatkan perhatian, sentuhan, waktu bersama, maupun kata-kata positif dari orang tua, dampaknya bisa memengaruhi perkembangan konsep dirinya.
Sebaliknya, ketika kebutuhan kasih sayang terpenuhi dengan baik, anak akan tumbuh lebih percaya diri dan memiliki pandangan positif terhadap dirinya.
Membangun Konsep Diri Positif
Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep diri. Vera menjelaskan bahwa konsep diri adalah cara seseorang memandang, menilai, dan membayangkan dirinya sendiri.
Konsep diri dibentuk oleh banyak faktor, mulai dari pengalaman hidup, pola asuh keluarga, lingkungan sosial, budaya, kondisi fisik, hingga media sosial.
Menurutnya, seseorang yang memiliki konsep diri positif cenderung lebih mudah menerima kelebihan dan kekurangannya. Mereka tidak mudah goyah oleh penilaian negatif orang lain dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.
Sebaliknya, konsep diri negatif sering membuat seseorang mudah tersinggung, kehilangan kepercayaan diri, dan sulit berkembang. Karena itu, peserta diajak untuk mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Caranya antara lain dengan menerima kekurangan, memaafkan kesalahan masa lalu, membangun afirmasi positif, membuat target yang realistis, serta menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
"Kita tidak perlu membandingkan diri dengan kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial. Yang penting adalah mengenali dan mensyukuri apa yang kita miliki," kata Vera.
Langkah Kecil untuk Perubahan Besar
Menjelang akhir sesi, peserta menyampaikan evaluasi sederhana namun jujur.
Salah satu peserta meminta agar pertemuan berikutnya berlangsung lebih santai dan tidak terlalu terburu-buru.
"Jangan spaneng, besok yang santai saja," ujarnya yang langsung disambut tawa peserta lain.
Meski demikian, pertemuan perdana Sekolah Pelita menunjukkan bahwa upaya pencegahan kekerasan bisa dimulai dari hal yang sangat mendasar: mengenali diri sendiri.
Di tengah maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kerap muncul di ruang publik, Komasipera memilih memulai langkah dari akar persoalan. Bukan hanya mengajarkan cara menangani korban, tetapi juga membantu masyarakat memahami manusia, relasi, dan kebutuhan-kebutuhan dasar yang sering kali terabaikan.
Karena sebelum mampu melindungi orang lain, seseorang perlu terlebih dahulu memahami dirinya sendiri. ( Ast)