YAPHI Sosialisasikan Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Gereja Giri Kinasih

YAPHI Sosialisasikan Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Gereja Giri Kinasih

Pukul 13.00  kami ber-12 orang dari Yayasan YAPHI sampai di pelataran Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gereja Giri Kinasih, Kecamatan Girimarto, Wonogiri. Gereja tersebut hanya berjarak seratusan langkah dari kantor Kecamatan.  Setelah dipersilakan masuk dan mempersiapkan diri untuk sebuah acara yang bakal selesai hingga pukul enam petang hari, pada Jumat (20/2) itu,  kami sudah berhadapan dengan nasi,sayur dan lauk di atas meja besar yang langsung kami santap bersama.  Sebentar lagi sosialisasi tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak segera dimulai.

Brian, usianya empat tahun, sejak kedatangan kami selalu aktif bergerak. Ia segera bergabung dengan teman-temannya, anak-anak sebaya, ada beberapa usianya di atasnya. Adi, fasilitator membuka pertemuan siang itu dengan memperkenalkan diri dengan metode bermain. Sebelumnya disampaikan tentang safeguarding, sebagai panduan untuk memastikan terkait  kondisi, perasaan, kegiatan dan tempat kegiatan yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Selanjutnya ia mengajak anak-anak itu, berjumlah 13 anak, menyanyikan lagu pujian "Mari kita bersuka ria" Maka terdengarlah, “Mari kita bersuka ria. Karna ini hari bahagia, kita berkumpul jadi satu, puji Tuhan semesta itu…

Nesa dan Abi, dua peserta anak kemudian menyanyikan lagu berikutnya, sebuah lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak sekolah Minggu : “Kingkong badannya besar, tapi aneh kakinya pendek, lebih aneh binatang bebek, lehernya Panjang kakinya pendek, lebih aneh binatang bebek, lehernya Panjang kakinya pendek, Haleluya Tuhan Maha Kuasa, Haleluya Tuhan Maha Kuasa

Setelah terjadi beberapa percakapan-percakapan dalam bentuk tanya jawab yang santai dan  membuat suasana semakin menggembirakan, Adi kemudian menyampaikan tujuan acara yang kami gelar, bahwa mengajak anak-anak bermain salah satu tujuannya adalah supaya tidak main roblox  dan mobile legends dan permainan game lainnya. “Ayo, yang bawa HP, dikumpulkan ya,” ajak Adi. Adi dibantu oleh fasilitator Anissa dan Aster.

Mereka mengajarkan bagaimana dampak jika sering berlama-lama main ponsel, juga belajar untuk mencegah kekerasan dengan media pemutaran video, “Jadi ingat yaaa….Jangan main ponsel, ayo stop bullying, tangan ke atas menggapai, bahwa kita terhubung untuk hal-hal baik.”

Diky, kelas 5 SD menjawab pertanyaan penulis, mengapa senang ikut kegiatan dan sama sekali tidak beranjak pulang. Menurutnya kegiatan siang itu seru. “Banyak teman karena sama kakak-kakak YAPHI diajak bermain. Tadi diajari tidak boleh memukul teman. Tidak boleh ejek-ejekan. Tidak boleh mainan ponsel pas bermain dengan Kakak Yaphi,”katanya.

“Kegiatan begini lagi mau nggak?”tanya penulis yang langsung dijawab oleh Diky, “Mau ikut lagi besok.  Lebih seru ini dibanding sekolah Minggu. Karena pelajarannya beda,”jawab Diky yang berterus-terang jika sebenarnya ia merasa agak capek. Maka kegiatan tersebut berakhir dengan sesi menggambar di kertas masing-masing.

Sementara itu, di ruangan yang berbeda, sembilan remaja dan tiga ibu sebagai pengurus majelis gereja mengikuti proses sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang difasilitasi oleh Dorkas, Yosi dan Handharu. Sesi perkenalan menjadi bagian pertama setelah Dorkas menyampaikan safeguarding, panduan yang sama seperti disampaikan di kelas anak-anak. Selanjutnya, bagian yang asik segera menyapa yakni nyanyi bareng “Hari ini Kurasa Bahagia”. Hari ini kurasa bahagia, berkumpul bersama, saudara seiman…kau sahabatku. Kau saudaraku. Tak ada yang memisahkan kita…nyanyian diiringi dengan permainan gitar oleh Ega.

Sesi Permainan untuk Lebih Kenal

Yosi, tim  fasilitator kemudian mengajak para peserta untuk menggerakkan seluruh badannya dengan menggunakan metode bermain berkelompok dengan tema bencana, dari 15 orang peserta, dibagi menjadi lima kelompok sehingga masing-masing kelompok beranggotakan tiga orang. Tujuan permainan ini adalah untuk melatih konsentrasi, fokus pada panduan fasilitator, serta bentuk kerja sama tim agar solid.

Seperti yang diungkapkan oleh Cindy,siswa kelas 2 SMA dan Cakra kelas 1 SMP, mengomentari permainan ini dengan satu kata,”serruuuuuuuu…!”. Demikian pula yang disampaikan oleh Anik, pengurus majelis gereja, juga berkomentar bahwa kegiatan yang dilakukan bersama Yayasan YAPHI siang itu lebih bermanfaat sebab  daripada anak-anak bermain ponsel.

Permainan berikutnya difasilitasi oleh Dorkas dengan menggali, tepatnya melakukan asesmen, yang juga bisa dipakai pre Test, dengan menggulirkan berbagai pertanyaan. Dengan mata tertutup, para remaja diajak untuk berpikir dan memutuskan untuk menjawab ‘Ya’ atau “Tidak”. Beberapa pertanyaan tersebut adalah : Cowok nggak merokok itu nggak keren, 2. Orang makan bubur ayam nggak diaduk orang aneh, 3. Kalau di gereja buka Alkitab lewat HP tidak akan mengganggu kok,4.  Kalau kita punya pacar kita wajib tahu email dan password pacar, 5. Kita tidak perlu meminta izin ketika akan menguplaod dan mengunggah foto  teman, 6. Memanggil nama teman dengan sebutan nama orangtua atau sebutan lain itu hal yang lucu, 7. Memukul anak adalah salah satu cara mendidik, Bersiul ketika ada lawan jenis lewat adalah bentuk pujian karena dia cantik atau ganteng, 8. Mau berteman dengan orang yang kita kenal lewat medsos atau game online itu tidak apa apa karena dia baik, 9. Anak yang bekerja mengamen atau mengemis itu adalah bentuk bakti anak pada orangtua, 10.  Gak perlu mengadu daripada dianggap cepu

Sesi Pemutaran Film

Sesi berikutnya, para fasilitator kemudian memutar sebuah film produksi tahun 2021 oleh Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan yang bercerita tentang tokoh Mahesa dan bercerita tentang pembulian. Usai film diputar, para remaja lantas menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh fasilitator.

Beranjak dari pemutaran film tersebut, yang dilanjutkan dengan tanya jawab, kemudian sesi berlanjut dengan hal yang lebih serius lagi yakni apa itu definisi tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dimulai dari pengartian terminologi kekerasan

Apa itu kekerasan? Dari seluruh peserta, mereka menjawab masing-masing dengan interpretasinya, bahwa kekerasan itu adalah : cat calling, merendahkan  bully, dipermalukan, mengeluarkan kata kotor, mencubit, menampar, menggetarkan, mengucilkan, pemerkosaan, dan pemukulan.

Ajakan refleksi menjadi sesi yang menarik dan diampu oleh Handharu. Para peserta mengenakan penutup mata dari masker. Handharu memulai bernarasi.  Para peserta menunduk, ada yang duduk dengan tegak, namun tubuh seimbang dan ada yang bersila dan tegap menatap arah muka.

Ada suara qiu qiu qiu …ketika ada seorang perempuan lewat. Ada komentar bentuk tubuh lantas  ada tawa. Orang lain bilang itu pujian. Kalau nggak cakap nggak, katanya. Mungkin kita berpikir ah, hanya goda, tapi tubuh tahu, jantung berdebar, kunci rumah digenggam erat. Karena tidak ada yang tahu apakah hari itu ia  akan aman. Ada yang pulang ke rumah dan memilih diam. Karena setiap kesalahan dibalas hentakan atau pukulan dan kita belajar bahwa bercerita itu berbahaya bahwa menangis itu memalukan bahwa tangis dimaknai sendiri.  Mereka (para korban) tumbuh kelihatan tua tapi di dalam hati ada yang mati. Yang paling menyakitkan itu bukan hanya  pelaku tapi yang melihat hanya diam. Takut dianggap cepu padahal satu kalimat saja bisa menyelamatkan orang. Itu tidak lucu. Padahal satu kalinya bisa menyelamatkan.

Handharu melanjutkan, Kekerasan tidak hanya meninggalkan sakit di kulit tapi meningalkan ketakutan. Takut ditolak. Takut diterima. Ada yang merasa sulit hidup. Ada yang tersenyum di foto tapi menangis di hidup dan orang lain tidak tahu. Kalau hari ini ada di antara  kalian ada yang seperti itu. Saya ingin  kalian dengar. Kalian tidak lemah. Kalian tidak rusak. Kalian tidak sendirian. Luka bukan tanda kegagalan. Luka tanda kalian bertahan dan bertahan itu tidak mudah

Memulihkan diri tidak selalu besar, kadang kecil. Berani cerita ke tema,  berani ngomong “saya tidak nyaman”. Berani meminta bantuan karena meminta bantuan itu tidak kalah. Tapi itu memulai hidup kalian lebih baik.

Mungkin hari ini kalian punya pilihan. Tetap menjadi orang ikut tertawa, atau menjadi orang yang membuat orang lain nyaman. Tidak harus menjadi pahlawan tidak harus kuat tapi cukup peduli  karena mungkin orang yang duduk di samping kalian sedang berjuang diam-diam dan satu tindakan yang baik bisa menyelamatkan hidupnya. Suatu hari ini nanti orang mungkin  lupa siapa paling pintar, siapa paling keren tapi mereka tidak akan lupa siapa yang membuat ia menjadi aman. Dan mungkin orang itu adalah kalian.”

Sesi Sosialisasi Bersama Para Orangtua

Sore hari, masih di tempat yang sama yakni  Gereja Giri Kinasih, Haryati Panca Putri, Direktur Pelaksana Yayasan YAPHI mengawali sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak bersama audiens para orangtua dengan memperkenalkan Yayasan YAPHI. “Tujuan kami, bagaimana pelayanan kami di lingkup  DIY dan Jateng ini  dengan  berbagai strategi dalam upaya perlindungan perempuan dan anak. Selain itu, kami mendampingi 500 korban HAM berat, peristiwa 65/66. Di antara mereka, yang paling muda usianya 70 tahun dan yang kami layani  adalah masyarakat tanpa membedakan SARA,”ujar perempuan yang akrab dipanggil Putri.

Sesi berikutnya pemaparan materi oleh Dunung. Ia mengajak 20 peserta untuk belajar dan memahami makna kekerasan dan memberikan waktu saling bercerita. “Tidak ada murid dan tidak ada guru di sini. Sebelum diskusi kita mulai, saya beritahu bahwa  akan ada dokumentasi dan foto, apakah bapak ibu bersedia difoto?” Dunung menawarkan consent informed.

Mengawali sosialisasi dengan menampilkan potongan atau cuplikan berita yang dimuat oleh media  tentang kekerasan yang terjadi di Kabupaten Wonogiri, Dunung juga menampilkan data-data kekerasan yang terjadi. Setelahnya, dia menjabarkan secara terminologi tentang macam-macam kekerasan, dan apa dampak yang dialami jika terjadi kekerasan, dan mengapa kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa terjadi. “Mengapa kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi ?  Karena dinormalisasi. Siapa yang paling rentan? Anak, perempuan dan istri.Kenapa anak dan perempuan rentan? Karena lemah, ketergantungan ekonomi, sub ordinat dianggap sebagai barang milik. Budaya patriarkat yang menyuburkan kekerasan. "Kowe pilih pilihanmu dewe ra sakno dewe, " demikian Dunung bernarasi.

Hal yang paling ditekankan pada saat sosialisasi tersebut adalah bahwa ada payung hukum yang mengatur tentang perbuatan kekerasan. Dan upaya pertama yang mesti dilakukan adalah mendampingi dan memberdayakan korban.

(Ast)

Peserta sosialisasi remaja
Peserta sosialisasi remaja
Peserta anak-anak
Peserta anak-anak
Peserta bapak dan ibu
Peserta bapak dan ibu