


Hari ketiga sekaligus hari terakhir workshop penyusunan Rencana Strategis YAPHI pada Kamis (1/9) yang berlangsung di Ruang Anawim, Yayasan YAPHI dimulai dengan melihat ke dalam. Sebelum berbicara tentang indikator, program, dan target lima tahun, peserta diajak berhenti sejenak untuk memeriksa apa yang berubah setelah dua hari bersama.
Perubahan tidak selalu berupa keputusan besar. Bisa berupa perasaan yang bergeser, cara memandang pekerjaan yang berubah, atau kesadaran kecil tentang sesuatu yang selama ini luput diperhatikan.
Bagi dua orang peserta yang baru bergabung sekitar satu bulan di Yayasan YAPHI, dua hari workshop terasa seperti menggosok kerak yang lama menempel. Pekerjaan yang sebelumnya terasa statis perlahan menemukan bentuk. Tujuan organisasi pun mulai terlihat seperti sebuah kendaraan yang sudah jelas hendak dibawa ke mana. Persoalannya bukan hanya mengetahui tujuan, tetapi memastikan orang-orang di dalam kendaraan memiliki pemahaman yang sama.
Dari sana muncul kesadaran bahwa organisasi tidak hanya berhadapan dengan jalan di luar. Ada orang-orang di dalamnya yang membawa pengalaman, emosi, kebiasaan, dan cara berkomunikasi masing-masing. Karena itu, kondisi orang-orang di dalam organisasi juga menjadi bagian penting dari perjalanan.
Dua hari workshop mengingatkan kembali pada visi dan misi. Berbagai pekerjaan memang telah dilakukan, tetapi belum tentu semua orang memiliki pemahaman yang sama. Istilah sederhana seperti berdaya pun bisa dimaknai berbeda. Perbedaan pemahaman semacam itu dapat memengaruhi jalan yang dipilih ketika sebuah program dijalankan.
Dinamika kelompok juga memberi pelajaran. Perdebatan yang sering dianggap sebagai konflik justru dapat menjadi jalan menemukan pemahaman bersama. Ada pula kesadaran tentang pentingnya fokus dan kemampuan benar-benar pmendengarkan di tengah pekerjaan yang membuat perhatian mudah berpindah.
Andreas Subiyono sendiri menemukan perubahan yang cukup personal. Rutinitas berjalan kaki bersama anjingnya terhenti selama dua hari workshop. Sesuatu yang biasanya dilakukan tanpa banyak dipikirkan tiba-tiba terasa hilang. Dari situ ia menyadari bahwa workshop telah membuatnya keluar dari rutinitas.
Ia juga melihat perubahan dalam perannya. Sebagai fasilitator, ia beberapa kali tergoda terlalu banyak memberikan informasi. Padahal, proses yang dibangun seharusnya menjadi ruang belajar bersama. Kesadaran itu membuatnya ingin kembali pada fungsi fasilitator, bukan menjadi orang yang paling tahu.
Dari refleksi tersebut, pembahasan bergerak pada pertanyaan yang lebih teknis. Jika tujuan organisasi telah dirumuskan, bagaimana mengetahui bahwa tujuan tersebut benar-benar tercapai?
Di sinilah indikator menjadi penting. Indikator digunakan untuk membaca perjalanan organisasi. Andreas mengibaratkannya seperti perjalanan menuju Yogyakarta. Tujuannya sudah jelas, tetapi perjalanan membutuhkan bahan bakar, waktu, dan alat untuk mengetahui bagaimana perjalanan berlangsung. Jika perkiraan awal dua liter bensin dan dua jam ternyata berbeda dengan kenyataan, perbedaan itu perlu dibaca untuk mengetahui apa yang terjadi selama perjalanan.
Begitu pula dengan Renstra lima tahun. Yang perlu diukur bukan hanya berapa banyak kegiatan dilakukan, tetapi perubahan apa yang terjadi, pada siapa, dalam jumlah berapa, dan dengan kualitas seperti apa.
Pembahasan kemudian mengarah pada peningkatan kapasitas masyarakat. Informasi tentang HAM belum otomatis menjadi pengetahuan. Pengetahuan pun belum tentu berubah menjadi kemampuan bertindak. Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat perlu dilihat dari pengetahuan sekaligus kemampuan pengorganisasian.
YAPHI juga perlu melihat tanggung jawab negara dalam penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan HAM. Regulasi menjadi salah satu ukuran yang dapat didorong, termasuk regulasi mengenai perempuan, anak, korban kekerasan berbasis gender, difabel, dan kelompok marginal.
Tetapi keberadaan regulasi belum otomatis berarti hak warga terpenuhi. Pengalaman pendampingan kasus menunjukkan adanya aturan yang belum berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu, pemenuhan HAM juga perlu dilihat dari pengalaman konkret orang yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan.
Jumlah kasus yang dapat ditangani selama lima tahun tidak cukup ditentukan berdasarkan keinginan. Pengalaman masa lalu, kecenderungan kasus, dan kapasitas organisasi perlu menjadi dasar untuk menentukan angka.
Setelah masyarakat dan negara, peserta kemudian melihat ke dalam organisasi. Pembahasan mengerucut pada tata kelola, manajemen, dan administrasi.
Tata kelola berkaitan dengan bagaimana organisasi diatur, termasuk legalitas, kebijakan, rencana strategis, dan pembagian peran. Manajemen berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi sumber daya. Administrasi menjadi bagian yang menopang seluruh proses tersebut.
Persoalannya bukan sekadar apakah dokumen organisasi tersedia, tetapi apakah orang-orang di dalamnya memahami struktur dan menjalankan aturan tersebut. Karena itu, indikator internal juga perlu melihat sumber daya manusia dan kemampuan organisasi menjalankan sistem yang telah dibangun.
Dari sini peserta kembali melihat hubungan antara pemberdayaan dan advokasi. Pemberdayaan berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, sementara advokasi bergerak pada perjuangan agar hak dasar dihormati dan dipenuhi. Keduanya saling beririsan dan tidak dapat dipisahkan dalam kerja HAM.
Indikator lima tahun kemudian diturunkan menjadi target tahunan. Target tidak harus sama setiap tahun karena situasi politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan terus berubah. Aspirasi masyarakat juga perlu menjadi pertimbangan, begitu pula kekuatan dan kapasitas organisasi sendiri.
Tiga hal itu menjadi pijakan dalam menentukan target: perubahan situasi di luar organisasi, kebutuhan masyarakat, dan kekuatan yang dimiliki YAPHI.
Pada bagian akhir, peserta kembali diingatkan bahwa kerja HAM tidak berhenti pada pendekatan hukum. Hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial, dan budaya perlu dibaca dalam satu kerangka. Perspektif ekofeminisme yang mulai dipertimbangkan YAPHI juga membuka ruang untuk melihat hubungan antara keadilan gender dan keadilan ekologis.
Hari ketiga tidak ditutup dengan jawaban yang selesai. Ia justru meninggalkan pekerjaan yang lebih konkret: menentukan ukuran perjalanan.
Tujuan lima tahun sudah diletakkan. Jalan masih harus dipilih. Target harus dihitung. Dan kendaraan yang selama tiga hari dibicarakan bersama itu kini bersiap dijalankan.