Berhenti Sejenak, Membaca Kembali Arah YAPHI

Berhenti Sejenak, Membaca Kembali Arah YAPHI

Di Ruang Anawim, Yayasan YAPHI, rangkaian hari kedua, Rabu (30/9), Membaca Ulang Renstra YAPHI dimulai dengan jeda. Andreas Subiyono dari Yayasan SHEEP mengajak peserta berhenti sejenak dari proses sehari sebelumnya untuk menyadari kembali apa yang sedang dijalani.

Dalam proses fasilitasi, jeda itu disebut stopping. Waktu untuk berhenti di antara satu kegiatan dan kegiatan berikutnya agar seseorang tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi sadar terhadap proses yang sedang berlangsung.

Bagi Andreas, stopping penting ketika seseorang memasuki proses berpikir strategis. Orang perlu memahami posisinya, apa yang sedang dipikirkan dan bagaimana semuanya berhubungan dengan pekerjaan organisasi. Dari sana, pembicaraan bergerak pada gagasan living value, organisasi yang hidup karena nilai.

Nilai, menurut Andreas, tidak cukup ditulis dalam dokumen. Ia harus terlihat dalam cara orang bekerja, mengambil keputusan dan berhubungan dengan masyarakat. Karena itu, Renstra tidak semestinya hanya dibaca ketika menyusun program atau laporan. Ia perlu menjadi milik bersama dan masuk ke dalam cara berpikir serta bertindak orang-orang di dalam organisasi.

Setiap orang juga perlu memahami hubungan antara mandat organisasi dan mandat personal. Orang datang dengan pengalaman, nilai dan cita-citanya sendiri. Ketika visi personal tidak memiliki titik temu dengan visi organisasi, ketegangan dapat muncul. Karena itu, visi dan misi perlu terus dikomunikasikan agar orang memahami mengapa organisasi bekerja dan perubahan seperti apa yang hendak dibangun.

Pembicaraan kemudian menyentuh nilai cinta, persaudaraan, kebenaran dan keadilan yang menjadi bagian dari perjalanan YAPHI.

Andreas menekankan bahwa nilai tidak boleh berhenti sebagai konsep. Jika organisasi berbicara tentang keadilan dan kebenaran, keduanya harus dapat ditemukan dalam kerja pendampingan, advokasi, pendidikan, pengorganisasian maupun publikasi. Nilai perlu menjadi kebiasaan dan cara bertindak.

Dari sini pembahasan bergerak pada istilah transformasi sosial. Andreas membedakan perubahan dengan transformasi. Perubahan dapat terjadi pada satu bagian, sementara struktur dan relasi yang mendasarinya tetap sama. Transformasi menyentuh perubahan yang lebih mendasar pada kapasitas, relasi dan posisi masyarakat.

Dalam kerangka itu, hukum bukan tujuan akhir, melainkan salah satu sarana untuk mencapai keadilan. YAPHI tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan persoalan individu. Masyarakat perlu ditempatkan sebagai subjek perubahan. Karena itu, penguatan organisasi masyarakat basis menjadi bagian penting dari kerja organisasi.

Andreas mengingatkan tiga fungsi negara dalam pemenuhan HAM, yaitu to promote, to protect, dan to fulfill. Kerangka tersebut digunakan untuk membaca kembali kontribusi program YAPHI.

 

Mengukur Perubahan

Program pendidikan, konsultasi, pendampingan, advokasi kebijakan dan pengorganisasian telah menghasilkan berbagai proses. Persoalannya, bagaimana memastikan proses tersebut benar-benar menghasilkan perubahan? Andreas mengingatkan bahwa tantangan masyarakat kini bukan hanya kekurangan informasi, tetapi juga melimpahnya informasi yang belum tentu benar. Literasi informasi menjadi bagian dari penguatan kapasitas.

Dalam perlindungan HAM, organisasi juga perlu memperhitungkan risiko terhadap pembela HAM, termasuk kemungkinan kriminalisasi. Sementara dalam advokasi kebijakan, perubahan tidak cukup diukur dari audiensi atau pertemuan. Perlu dilihat apakah terjadi perubahan kebijakan atau praktik.

Pertanyaan serupa berlaku dalam pendampingan. Apakah masyarakat semakin memahami haknya? Apakah keberanian tumbuh? Apakah akses terhadap layanan terbuka? Apakah masyarakat mampu memperjuangkan haknya secara lebih mandiri? Pertanyaan tersebut membawa pembahasan pada pentingnya baseline dan indikator.

Tujuan lima tahun YAPHI untuk membuat masyarakat Jawa Tengah dan DIY menjadi berdaya dalam pemenuhan hak perlu diterjemahkan lebih konkret. Siapa masyarakat marginal yang dimaksud? Bagaimana kondisi mereka pada awal periode? Perubahan apa yang hendak dilihat setelah lima tahun? Menurut Andreas, tanpa ukuran yang jelas, evaluasi mudah kembali pada perasaan. Program dapat terlihat berhasil karena banyak kegiatan dilakukan, sementara perubahan yang sesungguhnya belum terbaca.

Kata “berdaya” perlu diterjemahkan menjadi kapasitas. Kapasitas individu dapat berupa pengetahuan dan keterampilan, termasuk kemampuan investigasi, mediasi dan advokasi. Kapasitas organisasi berkaitan dengan tata kelola. Kapasitas kepemimpinan dibutuhkan untuk menggerakkan tindakan kolektif.

Pengorganisasian masyarakat juga tidak cukup berhenti pada peningkatan kesadaran. Perlu dilihat apakah masyarakat mampu menggunakan kesadarannya untuk memecahkan persoalan.

Pembahasan kemudian kembali pada nilai. Gagasan keutuhan ciptaan, menurut Andreas, memiliki perjalanan pemikiran dalam kerja YAPHI, dari konteks konflik dan kekerasan hingga hubungan manusia dengan alam. Krisis iklim dan bencana membuat dimensi tersebut tetap penting dibaca dalam kaitannya dengan keadilan.

Rumusan tentang transformasi sosial dan pemenuhan HAM juga perlu memiliki rujukan yang jelas. UUD 1945, Undang-Undang HAM dan instrumen HAM yang relevan dapat menjadi pijakan bersama.

Di bagian akhir, Andreas mengingatkan bahwa Renstra lima tahun berbeda dengan rencana program tahunan. Renstra memberikan arah perubahan, sedangkan program tahunan merupakan penjabaran dari arah tersebut. Karena itu, setelah tujuan lima tahun diperjelas, program perlu dibaca kembali berdasarkan kondisi awal, target perubahan dan hasil yang ingin dicapai. Setiap perubahan program perlu memiliki alasan yang dapat dijelaskan melalui analisis.

Pagi yang dimulai dengan berhenti sejenak itu akhirnya membawa YAPHI kembali pada pertanyaan paling dasar. Mengapa organisasi bekerja, untuk siapa, perubahan apa yang ingin dibangun dan bagaimana perubahan tersebut dapat dibaca.

Renstra sedang dibaca ulang bukan sekadar untuk memperbaiki kalimat. Ia sedang dicari kembali ruhnya agar nilai, mandat, program dan perubahan memiliki hubungan yang jelas. (Ast)