39 Tahun YAPHI: Tetap Tegak Berdiri di Tengah Perubahan

39 Tahun YAPHI: Tetap Tegak Berdiri di Tengah Perubahan
Tiga puluh sembilan tahun bukan waktu yang pendek bagi sebuah lembaga yang memilih berjalan bersama mereka yang mengalami ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi, dan berbagai persoalan kemanusiaan.

Di usia itu, Yayasan YAPHI tidak hanya merayakan bertambahnya umur. Perayaan menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan panjang yang telah dilalui, sekaligus bertanya tentang arah langkah ke depan.

Perayaan ulang tahun ke-39 YAPHI berlangsung dalam suasana reflektif di salah satu ruang susteran, komplek Gereja Ganjuran, Selasa (18/8). Tema “Tetap tegak berdiri dan kokoh dalam pelayanan” menjadi pengingat bahwa perjalanan pelayanan tidak selalu berada di jalan yang mudah. Ada keberhasilan yang patut disyukuri, tetapi ada pula kegagalan, kelelahan, perbedaan, bahkan saat-saat ketika harapan hampir hilang. Namun, hingga hari ini, mereka masih berdiri.

“Pekerjaan kita sehingga hanya dengan kekuatan Tuhan itulah kita boleh tetap berdiri, tetap bekerja, tetap melayani,” demikian pesan Rm. Luhur Prihadi, Pr yang disampaikan dalam perayaan tersebut.

Bagi YAPHI, berdiri tegak bukan sekadar kemampuan untuk mempertahankan keberadaan lembaga. Ia berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai yang ditanamkan para pendiri tetap hidup dalam kerja sehari-hari.
Image
Nilai itu perlu terus dihidupi, bukan sekadar disimpan sebagai sejarah.
Dalam renungan perayaan, perjalanan YAPHI dilihat sebagai bagian dari amanah yang dipercayakan Tuhan. Karena itu, kerja pelayanan tidak berhenti pada keberhasilan menyelesaikan program. “Program selesai bukan berarti pekerjaan selesai,” menjadi salah satu refleksi yang mengemuka.

Ukuran keberhasilan justru berada pada perubahan yang muncul dalam kehidupan orang-orang yang dilayani. Apakah mereka menjadi lebih berdaya? Apakah mereka mampu berdiri kembali? Apakah mereka memiliki harapan untuk menjalani hari berikutnya? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting karena kerja kemanusiaan sering kali berhadapan dengan orang-orang yang kehilangan rasa aman dan harapan.

Dalam refleksi tersebut, kisah tentang orang lapar, haus, sakit, berada di penjara, maupun mereka yang terasing menjadi pengingat bahwa pelayanan dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Memberikan makan kepada orang lapar. Memberikan minum kepada orang haus. Menyapa seseorang yang merasa sendirian. Membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak ditinggalkan.
“Ketika kita datang menyapa orang yang sedang menghadapi persoalan kemanusiaan, persoalan hukum, keadilan, atau sosial, kita tidak selalu datang untuk langsung memberikan solusi. Kita datang untuk menyapa dan memberikan pengharapan," petuah Rm. Luhur.

Bagi YAPHI, pengharapan menjadi bagian penting dari pelayanan. Seseorang yang lapar membutuhkan makanan. Tetapi setelah kebutuhan itu terpenuhi, ia membutuhkan kesempatan untuk kembali merencanakan hidupnya. Seseorang yang cemas membutuhkan lebih dari sekadar jawaban cepat. Ia membutuhkan keyakinan bahwa masih ada jalan yang bisa ditempuh. Dari sana, pelayanan tidak hanya berbicara mengenai perkara besar. Ia juga dimulai dari lingkungan terdekat.

“Mungkin ada seseorang yang membutuhkan minum, ada yang membutuhkan jaket, ada yang membutuhkan sapaan karena merasa terasing atau merasa sendirian,” demikian refleksi yang disampaikan.

Hal-hal kecil itu menjadi penting karena lembaga juga dibangun oleh relasi antarorang di dalamnya.

Menjaga Nilai di Tengah Perubahan


Perjalanan selama 39 tahun juga membawa YAPHI berhadapan dengan perubahan sosial, politik, dan hukum. Dalam situasi ketika hukum dapat dipengaruhi kepentingan tertentu dan persoalan ketidakadilan masih ditemukan, lembaga dituntut untuk terus memeriksa dirinya sendiri.

Pertanyaan yang muncul bukan hanya apakah YAPHI masih bekerja, tetapi apakah cara kerja dan pengambilan keputusannya masih berpijak pada nilai dasar, visi, dan misi yang diwariskan para pendiri. Berdiri tegak berarti menjaga agar fondasi tersebut tidak bergeser.

Renungan itu kemudian menggunakan gambaran sebuah bangunan. Sebuah bangunan membutuhkan fondasi dan tiang yang presisi. Kemiringan kecil pada bagian awal dapat menjadi semakin besar ketika bangunan semakin tinggi. Begitu pula dengan lembaga. Nilai yang terlihat kecil dalam keseharian dapat menentukan arah perjalanan dalam jangka panjang.

Karena itu, nilai-nilai yang menjadi dasar YAPHI tidak cukup hanya dipahami. Nilai tersebut perlu dibatinkan hingga menjadi bagian dari cara berpikir dan bertindak. “Semua adalah proses. Masing-masing pribadi mempunyai pengalaman dan perjalanan hidup yang berbeda-beda,” demikian disampaikan.

Perbedaan pengalaman itu justru menjadi bagian dari perjalanan bersama. Di tengah perubahan zaman, YAPHI juga diingatkan agar tidak kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran, kepekaan terhadap penderitaan, dan semangat melayani. Sebab, kekuatan lembaga tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang atau besarnya sumber daya. Dalam keterbatasan pun, sebuah lembaga tetap dapat mengambil bagian.

Perjuangan bisa dilakukan melalui perkara besar yang menjadi perhatian publik, tetapi juga melalui persoalan sehari-hari yang dihadapi masyarakat.
Image
Image

Berkat dari Perjalanan


Refleksi kemudian berlanjut dengan memberi ruang kepada peserta untuk melihat perjalanan pribadi mereka selama menjadi bagian dari YAPHI. Bagi sebagian orang, keberadaan YAPHI bukan hanya membentuk cara bekerja, tetapi juga mengubah cara memandang kehidupan.

Dipandu oleh Haryati Panca Putri, Direktur Pelaksana Yayasan YAPHI, salah seorang peserta menceritakan pengalaman pribadinya. Ia melihat perhatian yang diberikan lingkungan kerja sebagai salah satu berkat terbesar yang diterimanya. Pengalaman itu kemudian membentuk kepedulian dan empati dalam dirinya.

“Dulu mungkin saya termasuk orang yang masa bodoh, tetapi proses ini mengubah paradigma saya,” tuturnya.

Baginya, perubahan tidak selalu datang melalui sesuatu yang besar. Ia bisa tumbuh dari pengalaman sehari-hari, dari bagaimana seseorang diperlakukan, diperhatikan, dan didengarkan. Pengalaman itu kemudian ia bawa dalam kehidupan pribadi.

Bagi Yosi, peserta lainnya, berkat terbesar selama berada di YAPHI adalah kesempatan bertemu dengan banyak orang. Ia merasa perjumpaan dengan orang-orang di dalam maupun di luar lembaga telah memberinya banyak pelajaran mengenai persoalan masyarakat, pelanggaran HAM, dan berbagai pengalaman kemanusiaan. “Saya bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman semua karena ketika kita berkumpul, kita merasa aman,” ujarnya.

Rasa aman itu, menurutnya, penting karena dari sanalah pertumbuhan dapat berlangsung. YAPHI baginya bukan hanya tempat untuk bekerja. Ia menjadi ruang untuk belajar memahami, mengerti, dan kemudian bertindak. “Saya belajar bahwa hidup ini adalah tindakan,” katanya.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa pemahaman tidak cukup berhenti pada pengetahuan. Nilai yang diyakini harus diterjemahkan dalam tindakan.

Menatap Masa Depan


Perayaan ulang tahun ke-39 akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang sudah dicapai. Ia juga membawa pertanyaan tentang masa depan. "Pertanyaannya bukan hanya sudah berapa tahun lembaga ini berdiri, tetapi berapa tahun lagi kita mampu tetap berdiri tegak?” menjadi salah satu refleksi yang mengemuka. Pertanyaan itu terasa penting di tengah perubahan politik, hukum, dan sosial yang terus berlangsung.

Tidak ada yang benar-benar mengetahui seperti apa situasi beberapa tahun mendatang. Namun, masa depan lembaga tidak sepenuhnya ditentukan oleh peristiwa besar. Ia juga dibentuk oleh langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini. Karena itu, menjaga lembaga tetap tegak berarti menjaga orang-orang di dalamnya tetap memiliki semangat pelayanan.

Sri Hariris, salah seorang pembina, mengingatkan bahwa komitmen pelayanan harus terus dijaga. “Ketika kita sudah berkomitmen untuk melayani, kita harus melayani dengan sungguh-sungguh dan berlandaskan firman Tuhan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar orang-orang yang bekerja di dalam YAPHI tidak berhenti belajar. “Jangan ketika kita sudah merasa tahu lalu berhenti belajar. Kita harus terus belajar dan semakin sungguh-sungguh melayani dengan hati yang benar-benar merasakan panggilan Tuhan.”

Tantangan ke depan, menurutnya, tidak akan selalu menjadi lebih ringan. Justru mungkin semakin berat. Namun, keyakinan bahwa Tuhan menyertai perjalanan menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah.

Pada usia ke-39, YAPHI akhirnya tidak hanya merayakan masa lalu. Ia sedang mengikat kembali komitmen untuk masa depan. Berdiri tegak berarti tetap berpegang pada nilai. Tetap melayani ketika keadaan tidak mudah. Tetap menyapa mereka yang merasa sendirian. Tetap mendengarkan mereka yang tidak didengar. Dan tetap memperjuangkan keadilan ketika ketidakadilan belum selesai.

Sebab, kerja pelayanan tidak selalu menghasilkan perubahan yang dapat segera dilihat. Kadang ia hanya berupa satu sapaan, satu pendampingan, satu gelas air, atau satu perjumpaan yang membuat seseorang kembali memiliki harapan.

Dari hal-hal kecil itulah perjalanan panjang sebuah lembaga terus dibangun. Dan setelah 39 tahun, YAPHI kembali diingatkan,bukan hanya bagaimana tetap ada, tetapi bagaimana tetap tegak berdiri, dengan nilai keadilan, kebenaran dan cinta persaudaraan. (Ast)