“Ketika kita datang menyapa orang yang sedang menghadapi persoalan kemanusiaan, persoalan hukum, keadilan, atau sosial, kita tidak selalu datang untuk langsung memberikan solusi. Kita datang untuk menyapa dan memberikan pengharapan," petuah Rm. Luhur.
Bagi YAPHI, pengharapan menjadi bagian penting dari pelayanan. Seseorang yang lapar membutuhkan makanan. Tetapi setelah kebutuhan itu terpenuhi, ia membutuhkan kesempatan untuk kembali merencanakan hidupnya. Seseorang yang cemas membutuhkan lebih dari sekadar jawaban cepat. Ia membutuhkan keyakinan bahwa masih ada jalan yang bisa ditempuh. Dari sana, pelayanan tidak hanya berbicara mengenai perkara besar. Ia juga dimulai dari lingkungan terdekat.
“Mungkin ada seseorang yang membutuhkan minum, ada yang membutuhkan jaket, ada yang membutuhkan sapaan karena merasa terasing atau merasa sendirian,” demikian refleksi yang disampaikan.
Hal-hal kecil itu menjadi penting karena lembaga juga dibangun oleh relasi antarorang di dalamnya.
Menjaga Nilai di Tengah Perubahan
Perjalanan selama 39 tahun juga membawa YAPHI berhadapan dengan perubahan sosial, politik, dan hukum. Dalam situasi ketika hukum dapat dipengaruhi kepentingan tertentu dan persoalan ketidakadilan masih ditemukan, lembaga dituntut untuk terus memeriksa dirinya sendiri.
Pertanyaan yang muncul bukan hanya apakah YAPHI masih bekerja, tetapi apakah cara kerja dan pengambilan keputusannya masih berpijak pada nilai dasar, visi, dan misi yang diwariskan para pendiri. Berdiri tegak berarti menjaga agar fondasi tersebut tidak bergeser.
Renungan itu kemudian menggunakan gambaran sebuah bangunan. Sebuah bangunan membutuhkan fondasi dan tiang yang presisi. Kemiringan kecil pada bagian awal dapat menjadi semakin besar ketika bangunan semakin tinggi. Begitu pula dengan lembaga. Nilai yang terlihat kecil dalam keseharian dapat menentukan arah perjalanan dalam jangka panjang.
Karena itu, nilai-nilai yang menjadi dasar YAPHI tidak cukup hanya dipahami. Nilai tersebut perlu dibatinkan hingga menjadi bagian dari cara berpikir dan bertindak. “Semua adalah proses. Masing-masing pribadi mempunyai pengalaman dan perjalanan hidup yang berbeda-beda,” demikian disampaikan.
Perbedaan pengalaman itu justru menjadi bagian dari perjalanan bersama. Di tengah perubahan zaman, YAPHI juga diingatkan agar tidak kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran, kepekaan terhadap penderitaan, dan semangat melayani. Sebab, kekuatan lembaga tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang atau besarnya sumber daya. Dalam keterbatasan pun, sebuah lembaga tetap dapat mengambil bagian.
Perjuangan bisa dilakukan melalui perkara besar yang menjadi perhatian publik, tetapi juga melalui persoalan sehari-hari yang dihadapi masyarakat.