Diskusi berkembang ketika peserta mulai menyadari bahwa banyak praktik yang selama ini dianggap lumrah ternyata menyimpan ketidakadilan gender.
Putri menjelaskan bahwa budaya patriarki menjadi salah satu akar utama yang membuat relasi kuasa berlangsung timpang. Ketimpangan tersebut kemudian diperkuat oleh kebijakan yang belum berpihak pada korban, serta normalisasi kekerasan yang membuat masyarakat menganggap tindakan tertentu sebagai sesuatu yang biasa.
Alih-alih hanya mendengarkan materi, peserta kemudian diajak memetakan persoalan menggunakan metode pohon masalah. Sebuah gambar pohon besar ditempel di dinding. Akar melambangkan penyebab utama kekerasan, batang menjadi faktor pendukung, sementara daun dan buah menggambarkan bentuk maupun dampak kekerasan.
Peserta menuliskan hasil identifikasi mereka pada kertas-kertas kecil sebelum menempelkannya pada bagian pohon yang sesuai. Perlahan, pohon itu dipenuhi berbagai catatan: patriarki, ketimpangan relasi kuasa, pola asuh, minimnya pendidikan kesetaraan, budaya menyalahkan korban, hingga lemahnya perlindungan hukum.
Di bagian daun dan buah, muncul beragam dampak yang selama ini dirasakan korban, mulai dari trauma, kehilangan rasa percaya diri, depresi, kekerasan berulang, perceraian, hingga putusnya masa depan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan.
Metode visual tersebut membuat peserta lebih mudah memahami bahwa kekerasan bukanlah persoalan individu semata, melainkan hasil dari sistem sosial yang saling berkaitan.
Usai beristirahat, pembelajaran berlanjut melalui media yang berbeda. Seluruh peserta diajak menonton film 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita, karya sutradara Robby Ertanto Soediskam.
Film yang dirilis pada 2010 itu menghadirkan kisah tujuh perempuan dengan latar kehidupan berbeda. Masing-masing menghadapi persoalan yang tidak sederhana, mulai dari poligami, kekerasan dalam rumah tangga, kehamilan yang tidak direncanakan, pelecehan seksual, hingga tekanan sosial yang membatasi pilihan hidup mereka.
Sepanjang film diputar, suasana ruangan beberapa kali berubah hening. Beberapa peserta tampak larut dalam cerita. Sebagian lainnya sesekali menganggukkan kepala, seolah menemukan potongan pengalaman yang pernah mereka lihat atau alami sendiri.
Film itu kemudian menjadi pintu masuk untuk melakukan refleksi bersama.