Padahal, setiap manusia memiliki hak yang sama untuk menangis, bermimpi, bekerja, maupun menentukan pilihan hidupnya.
Suasana ruangan kembali hening ketika layar proyektor mulai menampilkan film pendek Impossible Dreams. Film itu tidak menghadirkan tokoh-tokoh besar.
Ia hanya memperlihatkan kehidupan sehari-hari sebuah keluarga.
Seorang perempuan bangun lebih pagi dibanding anggota keluarga lainnya. Ia memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengurus anak, melayani suami, lalu mengulang semuanya keesokan hari. Sementara anak perempuannya perlahan mewarisi pekerjaan yang sama. Tak ada dialog panjang. Tetapi gambar-gambar sederhana itu terasa begitu dekat.
Beberapa peserta tampak menghela napas panjang. Yang lain saling berpandangan sambil tersenyum tipis, seolah sedang melihat cermin kehidupan mereka sendiri.
Usai film diputar, Dunung mengurai lima bentuk ketidakadilan gender yang muncul di dalamnya. Stereotip yang memberi label tertentu kepada perempuan.
Subordinasi yang menempatkan perempuan pada posisi kedua. Marginalisasi yang membatasi akses perempuan terhadap pendidikan maupun pekerjaan. Beban ganda ketika perempuan bekerja di luar rumah tetapi tetap memikul seluruh pekerjaan domestik. Dan kekerasan yang dapat hadir dalam bentuk fisik, psikologis, seksual, maupun ekonomi.
Materi yang berat itu kemudian ditutup dengan sebuah iklan televisi produksi ABC.
Dalam iklan tersebut, seorang suami tampak ikut memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Ruangan kembali dipenuhi tawa. Bukan karena iklannya lucu, melainkan karena para peserta menyadari bahwa sesuatu yang selama ini dianggap tidak lazim ternyata sangat mungkin dilakukan.
Diskusi pun mengalir.
Budianti, seorang guru yang mengikuti pelatihan, mengangkat tangan. Menurutnya, materi semacam ini semestinya diberikan kepada pasangan muda sebelum mereka membangun keluarga.
"Banyak persoalan rumah tangga sebenarnya berawal dari pembagian peran yang tidak pernah dibicarakan," katanya.
Pendapat itu disambut anggukan peserta lain.
Menanggapi diskusi tersebut, Putri mengajak peserta membedakan antara menjalankan peran dan hidup dalam ketertundukan.
Ia memberi contoh sederhana. Di banyak kampung, suami yang mencuci piring atau menjemur pakaian masih sering diejek sebagai laki-laki yang takut kepada istrinya. Padahal, membantu pasangan bukanlah tanda kehilangan wibawa. Sebaliknya, itulah bentuk tanggung jawab bersama.
"Mari kita bongkar beban-beban lama itu, dimulai dari diri kita sendiri," ujarnya.
Menjelang sore, pelatihan ditutup dengan cara yang tidak biasa. Peserta diminta memejamkan mata. Mereka menarik napas perlahan. Kemudian, mengikuti suara fasilitator, mereka mengucapkan afirmasi untuk diri sendiri.
"Terima kasih Tuhan untuk tubuh yang berharga ini. Saya akan mengerjakan pekerjaan yang baik, dan jauhkan saya dari orang-orang yang tidak baik."
Kalimat itu terdengar lirih, tetapi memenuhi ruangan.
Setelahnya, setiap peserta diminta memeluk atau mengecup dirinya sendiri.
Barangkali perubahan besar memang tidak lahir dalam satu hari. Budaya patriarki yang mengakar puluhan bahkan ratusan tahun tentu tidak runtuh hanya karena satu pelatihan.
Namun pagi itu, di sebuah balai desa yang sederhana, para perempuan membawa pulang sesuatu yang lebih berharga daripada selembar sertifikat. Mereka membawa pulang keberanian untuk mempertanyakan kebiasaan yang selama ini dianggap kodrat, keberanian untuk mengajak pasangan berbagi tanggung jawab, dan keyakinan bahwa kesetaraan tidak selalu dimulai dari ruang sidang atau gedung parlemen.
Sering kali, ia justru bermula dari meja makan, dari dapur, dari ruang keluarga, tempat setiap orang belajar saling menghormati sebagai manusia yang setara. (Anissa Ratna/Ast)