Pemahaman itu kemudian diperdalam melalui permainan "Confirm Aku Dong". Peserta diminta memutuskan apakah akan menerima permintaan pertemanan dari beberapa akun media sosial dengan profil yang tampak meyakinkan. Setelah diskusi berlangsung, fasilitator mengungkapkan bahwa identitas pada akun-akun tersebut ternyata tidak sesuai dengan profil yang ditampilkan. Dari simulasi ini, peserta belajar bahwa pelaku dapat membangun citra positif untuk memperoleh kepercayaan calon korban, sehingga penting untuk tidak mudah menerima pertemanan dari orang yang tidak dikenal.
Selain itu, peserta juga dikenalkan pada perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang memungkinkan foto, suara, maupun video dimanipulasi hingga tampak seperti asli. Fasilitator mengingatkan bahwa kemampuan teknologi tersebut menuntut setiap pengguna media sosial untuk lebih kritis dalam menerima informasi dan memverifikasi identitas seseorang di ruang digital.
Fasilitator juga menjelaskan bahwa KBGO merupakan bentuk kekerasan berbasis gender yang memanfaatkan teknologi digital sebagai medianya. Dampaknya tidak berhenti di dunia maya, tetapi dapat memengaruhi kesehatan mental, pendidikan, kehidupan sosial, hingga keamanan fisik korban.
Peserta juga diajak memahami bagaimana relasi kuasa sering menjadi pintu masuk terjadinya KBGO, misalnya ketika seseorang merasa berhak meminta kata sandi media sosial pasangan, memantau lokasi setiap saat, atau memaksa mengirimkan foto dan video pribadi. Menurut fasilitator, hubungan pertemanan maupun pacaran tidak pernah memberikan hak kepada seseorang untuk mengendalikan akun, data pribadi, ataupun tubuh orang lain.
Melalui studi kasus yang diangkat dalam sesi diskusi, peserta melihat bagaimana pelaku dapat membangun kepercayaan korban terlebih dahulu sebelum melakukan ancaman dan pemerasan menggunakan konten pribadi yang telah dikirimkan. Karena itu, remaja diingatkan agar tidak mudah tergiur tawaran menguntungkan maupun permintaan mengirimkan foto atau video pribadi.
Tak hanya membahas ancaman, fasilitator juga membekali peserta dengan langkah-langkah menjaga keamanan digital. Mulai dari menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan verifikasi dua langkah, membatasi informasi pribadi di media sosial, hingga menyimpan bukti apabila mengalami kekerasan digital. Peserta juga diperkenalkan dengan prinsip BERANI sebagai panduan aman berinternet, yaitu berhati-hati memilih teman dan informasi, mengevaluasi sebelum berinteraksi, merahasiakan data pribadi, mengatur privasi akun, berani menolak, serta menginformasikan kejadian kepada orang yang dipercaya.
Dalam sesi evaluasi, sejumlah peserta mengaku memperoleh wawasan baru mengenai berbagai bentuk KBGO, risiko manipulasi menggunakan AI, pentingnya perlindungan data pribadi, hingga cara menghadapi pemerasan berbasis konten digital. Salah seorang peserta bahkan membagikan pengalamannya ketika akun media sosialnya diretas dan digunakan untuk mengunggah konten pornografi. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan akun digital merupakan hal yang tidak boleh diabaikan.
Melalui kegiatan ini, YAPHI berharap para remaja semakin memahami bahwa ruang digital tidak selalu menjadi tempat yang aman. Dengan bekal pengetahuan mengenai KBGO, perlindungan data pribadi, dan keamanan bermedia sosial, peserta diharapkan mampu menggunakan teknologi secara lebih bijak, berani melindungi diri, serta tidak ragu mencari bantuan apabila mengalami maupun menyaksikan kekerasan di ruang digital. (Renny Talitha Candra)