Hari Anak Nasional Menjadi Ruang Aman untuk Bertumbuh dengan Belajar Melindungi Diri Sejak Dini

Hari Anak Nasional Menjadi Ruang Aman untuk Bertumbuh dengan Belajar Melindungi Diri Sejak Dini
Tawa anak-anak memenuhi aula lantai dua Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan, Surakarta pada Minggu pagi, 26 Juli 2026. Di sudut ruangan, sekelompok balita sibuk meletakkan telapak tangan lantas mereka menggambar dengan spidol warna-warni sebelum menempelkannya di atas kertas. Di ruang lain, anak-anak sekolah dasar berlarian sambil tertawa mengikuti permainan. Sementara di kelompok yang lebih besar, sejumlah anak mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan tentang perundungan, keamanan digital, hingga keberanian berkata "tidak" ketika menghadapi situasi yang membuat mereka tidak nyaman.

Suasana itu menjadi bagian dari kegiatan edukasi Budaya Aman Anak yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional kolaborasi GKJ Manahan bersama Yayasan YAPHI. Para fasilitator mengisi acara tidak dengan ceramah panjang, mereka memilih cara yang lebih dekat dengan dunia anak: bermain, bernyanyi, bergerak, berdiskusi, dan berkarya bersama. Pesan-pesan tentang perlindungan anak disampaikan melalui aktivitas yang menyenangkan sehingga mudah dipahami sekaligus diingat.

Sejak awal, panitia membagi peserta ke dalam tiga kelompok sesuai usia. Pembagian ini dilakukan agar materi dapat disampaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Kelompok usia 0–5 tahun didampingi Dunung, Aster, dan Handharu. Anak-anak kelas 1 hingga 3 SD difasilitasi Renny, Nisa, dan Adi, sedangkan kelompok kelas 4 hingga 6 SD didampingi Yosi, Tika, dan Dorkas.

Pendekatan yang berbeda pada setiap kelompok menunjukkan bahwa pendidikan perlindungan anak tidak bisa disampaikan dengan satu metode yang sama. Anak usia dini membutuhkan pengalaman bermain yang kaya akan stimulasi, sedangkan anak yang lebih besar sudah mulai mampu berdiskusi mengenai persoalan yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Di kelas balita, suasana hangat langsung terasa ketika Dunung mengajak seluruh peserta membentuk lingkaran besar, lalu lingkaran kecil. Permainan sederhana itu menjadi pembuka untuk mencairkan suasana sekaligus memperkenalkan makna kebersamaan.
Image
Satu per satu anak kemudian menyebutkan nama mereka. Meski sebagian masih malu-malu, para fasilitator terus memberi semangat agar setiap anak berani memperkenalkan diri. Dari aktivitas sederhana itu, mereka belajar bahwa persahabatan dimulai dengan saling mengenal.

Lagu-lagu anak kemudian mengiringi kelas. Senyum mulai bermunculan ketika anak-anak diajak bergerak mengikuti irama. Tidak lama kemudian, kegiatan beralih pada aktivitas membuat cap tangan. Dengan bantuan spidol, telapak tangan mungil mereka dicetak di atas kertas, lalu dihias menjadi bunga, pohon, atau bentuk-bentuk lain sesuai imajinasi masing-masing.
Bagi anak usia satu hingga dua tahun, kegiatan itu tentu belum mudah dilakukan sendiri. Karena itu, para fasilitator dari Yayasan YAPHI, pendamping Sekolah Minggu GKJ, dan orang tua mendampingi mereka selama proses berlangsung. Pendampingan bukan sekadar membantu menyelesaikan karya, melainkan juga memastikan setiap anak merasa aman sekaligus melatih kemampuan motorik halusnya.

Ketika hasil karya selesai, satu demi satu anak maju ke depan. Dengan wajah penuh kebanggaan, mereka menunjukkan gambar yang telah dibuat kepada teman-teman dan orang tua. Tepuk tangan yang diberikan bukan hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga membantu menumbuhkan rasa percaya diri sejak usia dini.

Menjelang akhir sesi, seluruh cap tangan ditempelkan pada sebuah Pohon Persahabatan. Anak-anak diminta mengantre dengan tertib sambil menunggu giliran. Dari kegiatan sederhana itu, mereka belajar bahwa menghargai orang lain dimulai dari kesediaan menunggu dan memberi kesempatan kepada teman.

Di ruang lain, suasana tak kalah meriah terjadi pada kelompok kelas 1 hingga 3 SD. Tiga fasilitator mengajak peserta mengikuti permainan perkenalan yang sekaligus menjadi pre-test.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana diajukan. Apa yang harus dilakukan jika diberi permen oleh orang yang tidak dikenal? Bagaimana jika ada orang asing mengajak berbicara? Apa yang harus dilakukan bila seseorang menyentuh tubuh tanpa izin?

Anak-anak tidak menjawab dengan mengangkat tangan. Mereka diminta maju atau mundur satu langkah sesuai pilihan jawaban. Cara ini membuat seluruh peserta aktif bergerak sekaligus berpikir mengenai situasi yang mungkin mereka hadapi.

Dari permainan itu, fasilitator dapat melihat sejauh mana pemahaman anak mengenai keamanan diri sebelum materi diberikan.

Materi utama kemudian mengangkat konsep Budaya Aman melalui langkah sederhana yang mudah diingat, yaitu Tolak, Teriak, Lari, dan Lapor atau disingkat Totelala.

Melalui permainan puzzle bergambar, anak-anak menyusun urutan tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi berbahaya. Proses belajar berlangsung seperti bermain sehingga mereka tidak merasa sedang menerima pelajaran yang berat.

Di sela-sela permainan, fasilitator juga mengajak peserta berbicara mengenai arti persahabatan. Anak-anak diajak memahami bahwa memiliki banyak teman bukan berarti harus mengikuti semua ajakan. Persahabatan yang baik justru dibangun dengan saling menghormati, saling menjaga, dan tidak menyakiti satu sama lain.

Lagu "Di Sini Senang, Di Sana Senang" serta berbagai tepuk semangat membuat suasana kelas semakin hidup. Anak-anak bernyanyi, tertawa, sekaligus menghafalkan pesan-pesan penting tentang perlindungan diri.

Sementara itu, kelompok kelas 4 hingga 6 SD mendapat materi yang lebih mendalam. Yosi bersama Tika dan Dorkas membuka sesi dengan permainan menggunakan nama-nama alat transportasi. Permainan tersebut membantu peserta saling mengenal sebelum memasuki diskusi yang lebih serius.

Setelah itu, setiap anak memperkenalkan diri, menyampaikan satu kata motivasi, dan mengungkapkan perasaan yang sedang mereka alami hari itu. Ada yang mengatakan bahagia, semangat, ceria, baik, hingga sukacita.

Aktivitas sederhana tersebut menjadi cara untuk melatih keberanian berbicara sekaligus mengenali emosi diri sendiri. Teman-teman lain mendengarkan dan memberikan dukungan sehingga tercipta suasana yang saling menghargai.

Materi kemudian berkembang pada berbagai bentuk kekerasan terhadap anak. Fasilitator menjelaskan bahwa kekerasan tidak selalu berupa pukulan atau tindakan fisik. Kekerasan juga dapat berupa kata-kata yang melukai, diskriminasi, intoleransi, perundungan, hingga kekerasan seksual.

Bullying mendapat perhatian khusus dalam sesi ini. Anak-anak diajak memahami bahwa perundungan merupakan tindakan menyakiti orang lain secara sengaja dan dilakukan berulang-ulang. Dampaknya tidak hanya membuat korban sedih, tetapi juga dapat menghilangkan rasa percaya diri, mengganggu kesehatan mental, bahkan membuat anak enggan datang ke sekolah.

Pembahasan kemudian berlanjut pada pengenalan area privasi tubuh. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, fasilitator menjelaskan bahwa bagian tubuh yang tertutup pakaian dalam merupakan area pribadi yang tidak boleh disentuh orang lain tanpa persetujuan.

Materi ini menjadi salah satu bekal penting agar anak mampu mengenali batasan tubuhnya sekaligus berani meminta pertolongan apabila mengalami situasi yang tidak aman.
Image
Image
Di tengah semakin dekatnya kehidupan anak dengan internet, pembahasan mengenai keamanan digital juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Anak-anak bercerita mengenai kebiasaan mereka menggunakan media sosial, menonton YouTube, hingga bermain gim seperti Free Fire dan Roblox.

Percakapan itu menjadi pintu masuk untuk mengingatkan bahwa tidak semua orang di dunia digital dapat dipercaya. Fasilitator mengajak peserta berhati-hati terhadap pesan pribadi, ajakan berteman, maupun komunikasi dari orang yang tidak dikenal.

Sebagai penutup, seluruh peserta kembali mengulang langkah Tolak, Teriak, Lari, dan Lapor sebagai cara sederhana yang dapat dilakukan ketika menghadapi maupun menyaksikan tindakan kekerasan.

Di akhir kegiatan, dua peserta perempuan, Vierra dan Chelsea, berbagi kesan mereka. Keduanya mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru mengenai keberanian melindungi diri, mengenali bentuk-bentuk kekerasan seksual, serta pentingnya menolak, berteriak, lari, dan melapor ketika menghadapi situasi yang membahayakan.

Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan sehingga semakin banyak anak memiliki bekal untuk menjaga dirinya sendiri. Dua anak laki-laki juga menyampaikan pesan mengenai tema Hari Anak Nasional tahun ini sebagai bentuk partisipasi mereka dalam penutupan acara.

Seluruh peserta kemudian bersama-sama mengucapkan, "Selamat Hari Anak Nasional," disertai tepuk tangan dan senyum yang memenuhi ruangan.

Dalam sesi evaluasi, para peserta dewasa memberikan apresiasi terhadap metode pembelajaran yang digunakan. Permainan, lagu, aktivitas kelompok, dan diskusi dinilai mampu membuat anak-anak tetap fokus sekaligus memahami materi tanpa merasa digurui.

Budaya mengantre selama kegiatan juga dipandang sebagai pembelajaran karakter yang penting. Anak-anak belajar menghargai giliran, bersabar, dan memperhatikan teman-temannya.

Para pendamping berharap materi seperti tepuk anti-bullying, lagu edukatif, serta pengenalan area privasi dapat terus diulang dalam kegiatan Sekolah Minggu maupun aktivitas komunitas lainnya agar pemahaman anak semakin kuat.

Salah satu catatan yang muncul dalam evaluasi adalah perlunya meningkatkan keterlibatan orang tua. Masih terlihat beberapa orang tua lebih banyak memperhatikan telepon genggam dibanding mendampingi anak selama kegiatan berlangsung. Padahal, keberhasilan pendidikan perlindungan anak tidak hanya bergantung pada fasilitator, tetapi juga pada keluarga yang menjadi lingkungan pertama tempat anak belajar.

Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung penuh antusiasme. Anak-anak mengikuti setiap sesi dengan semangat, mulai dari bermain, bernyanyi, berdiskusi, hingga membuat karya bersama. Melalui pendekatan yang ramah anak, mereka tidak hanya belajar tentang persahabatan, tetapi juga memperoleh bekal untuk mengenali batasan tubuh, memahami berbagai bentuk kekerasan, berani berkata tidak, dan mengetahui kepada siapa mereka harus melapor ketika merasa tidak aman.

Di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi anak, baik di dunia nyata maupun ruang digital, pendidikan seperti ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak bukan sekadar tanggung jawab sekolah atau komunitas. Bentuknya adalah kerja bersama keluarga, pendidik, dan masyarakat untuk memastikan setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, dihargai, dan berani menjaga dirinya sendiri. (Ast)