Di tengah semakin dekatnya kehidupan anak dengan internet, pembahasan mengenai keamanan digital juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Anak-anak bercerita mengenai kebiasaan mereka menggunakan media sosial, menonton YouTube, hingga bermain gim seperti Free Fire dan Roblox.
Percakapan itu menjadi pintu masuk untuk mengingatkan bahwa tidak semua orang di dunia digital dapat dipercaya. Fasilitator mengajak peserta berhati-hati terhadap pesan pribadi, ajakan berteman, maupun komunikasi dari orang yang tidak dikenal.
Sebagai penutup, seluruh peserta kembali mengulang langkah Tolak, Teriak, Lari, dan Lapor sebagai cara sederhana yang dapat dilakukan ketika menghadapi maupun menyaksikan tindakan kekerasan.
Di akhir kegiatan, dua peserta perempuan, Vierra dan Chelsea, berbagi kesan mereka. Keduanya mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru mengenai keberanian melindungi diri, mengenali bentuk-bentuk kekerasan seksual, serta pentingnya menolak, berteriak, lari, dan melapor ketika menghadapi situasi yang membahayakan.
Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan sehingga semakin banyak anak memiliki bekal untuk menjaga dirinya sendiri. Dua anak laki-laki juga menyampaikan pesan mengenai tema Hari Anak Nasional tahun ini sebagai bentuk partisipasi mereka dalam penutupan acara.
Seluruh peserta kemudian bersama-sama mengucapkan, "Selamat Hari Anak Nasional," disertai tepuk tangan dan senyum yang memenuhi ruangan.
Dalam sesi evaluasi, para peserta dewasa memberikan apresiasi terhadap metode pembelajaran yang digunakan. Permainan, lagu, aktivitas kelompok, dan diskusi dinilai mampu membuat anak-anak tetap fokus sekaligus memahami materi tanpa merasa digurui.
Budaya mengantre selama kegiatan juga dipandang sebagai pembelajaran karakter yang penting. Anak-anak belajar menghargai giliran, bersabar, dan memperhatikan teman-temannya.
Para pendamping berharap materi seperti tepuk anti-bullying, lagu edukatif, serta pengenalan area privasi dapat terus diulang dalam kegiatan Sekolah Minggu maupun aktivitas komunitas lainnya agar pemahaman anak semakin kuat.
Salah satu catatan yang muncul dalam evaluasi adalah perlunya meningkatkan keterlibatan orang tua. Masih terlihat beberapa orang tua lebih banyak memperhatikan telepon genggam dibanding mendampingi anak selama kegiatan berlangsung. Padahal, keberhasilan pendidikan perlindungan anak tidak hanya bergantung pada fasilitator, tetapi juga pada keluarga yang menjadi lingkungan pertama tempat anak belajar.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung penuh antusiasme. Anak-anak mengikuti setiap sesi dengan semangat, mulai dari bermain, bernyanyi, berdiskusi, hingga membuat karya bersama. Melalui pendekatan yang ramah anak, mereka tidak hanya belajar tentang persahabatan, tetapi juga memperoleh bekal untuk mengenali batasan tubuh, memahami berbagai bentuk kekerasan, berani berkata tidak, dan mengetahui kepada siapa mereka harus melapor ketika merasa tidak aman.
Di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi anak, baik di dunia nyata maupun ruang digital, pendidikan seperti ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak bukan sekadar tanggung jawab sekolah atau komunitas. Bentuknya adalah kerja bersama keluarga, pendidik, dan masyarakat untuk memastikan setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, dihargai, dan berani menjaga dirinya sendiri. (Ast)