Kubis kertas itu berpindah dari satu peserta ke peserta lainnya. Tidak ada yang tahu pertanyaan mana yang akan mereka dapatkan sebelum kubus itu berhenti di tangan masing-masing. Ketika sisi kubis terbuka, peserta diminta menjawab pertanyaan sederhana: siapa diri saya, apa tujuan hidup saya, apa kelebihan yang saya miliki, dan nilai baik apa yang selama ini ada dalam diri saya.
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pembuka Kelas Pelita, ruang belajar yang dibentuk Komasipera di Kecamatan Serengan pada Kamis (23/7) yang berlangsung di Aula Kecamatan Serengan, Surakarta. Alih-alih langsung berbicara mengenai kekerasan terhadap perempuan atau ketidaksetaraan gender, pertemuan justru dimulai dari sesuatu yang paling dekat: mengenali diri sendiri.
Adi C. Kristiyanto dari Yayasan YAPHI memandu permainan tersebut sebagai pengingat materi pertemuan sebelumnya tentang konsep diri. Suasana cair. Tawa beberapa peserta sesekali terdengar ketika mereka mencoba menjawab. Namun di balik permainan sederhana itu tersimpan satu pesan: seseorang akan sulit melihat persoalan di sekelilingnya bila ia belum mengenali dirinya sendiri.
Pelan-pelan, pembahasan bergerak menuju tema yang lebih luas. Vera Kartika Giantari, fasilitator pada sesi utama, mengajak peserta kembali pada keyakinan bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan tujuan. Tidak ada manusia yang lahir tanpa potensi.
Menurutnya, setiap orang telah dibekali kemampuan oleh Sang Pencipta. Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya potensi, melainkan apakah potensi itu masih dikenali atau justru tertutup oleh pengalaman hidup, beban sosial, maupun cara pandang masyarakat.
Dari titik itulah pembicaraan memasuki persoalan gender. Vera mengawali dengan membedakan dua istilah yang sering dipakai bergantian, padahal memiliki makna berbeda: jenis kelamin dan gender.
Jenis kelamin, katanya, adalah kodrat biologis. Laki-laki dan perempuan memiliki ciri biologis yang tidak dapat dipertukarkan. Sebaliknya, gender adalah peran yang dibentuk masyarakat. Apa yang dianggap pantas dilakukan laki-laki maupun perempuan tidak selalu sama di setiap daerah dan bisa berubah mengikuti perkembangan zaman.
Ia mengajak peserta menyebutkan berbagai sifat yang selama ini dilekatkan kepada laki-laki dan perempuan. Jawaban bermunculan. Perempuan dianggap lembut, penyayang, pandai memasak, mudah terbawa perasaan, hamil, melahirkan, dan menyusui. Sementara laki-laki dinilai tegas, kuat, keras, berjakun, berkumis, dan berotot.
Diskusi kemudian berkembang menjadi ruang berpikir bersama. Mana yang benar-benar kodrat? Mana yang sesungguhnya hanya hasil konstruksi sosial?
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi mengubah arah pembicaraan. Peserta mulai menyadari bahwa banyak sifat yang selama ini dianggap "alami" ternyata lahir dari kebiasaan masyarakat yang diwariskan turun-temurun.
Ketika konstruksi sosial diterima tanpa dipertanyakan, perlahan ia berubah menjadi pembenaran atas berbagai ketimpangan.
Perempuan, misalnya, sering dianggap tidak layak memimpin karena dinilai terlalu mengedepankan perasaan. Mereka lebih sering ditempatkan sebagai pelengkap daripada pengambil keputusan.
Di ruang kerja, perempuan dipercaya menjadi sekretaris, tetapi tidak selalu diberi kesempatan memimpin organisasi. Di rumah, mereka diharapkan mengurus pekerjaan domestik sekaligus tetap produktif mencari nafkah. Di lingkungan sosial, mereka kembali diminta aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.