Pembahasan mengenai hak anak memiliki sejarah panjang. Salah satu rumusan yang dikenal adalah sepuluh hak anak, antara lain hak bermain, pendidikan, perlindungan, nama, kebangsaan, makanan, kesehatan, rekreasi, kesamaan, serta kesempatan berperan dalam pembangunan. Sepuluh hak tersebut sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah semua hak tersebut sudah benar-benar dirasakan anak? Dalam Konvensi Hak Anak, hak anak kemudian dibicarakan dalam cakupan yang lebih luas, mulai dari hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan pengganti, kesehatan dan kesejahteraan dasar, pendidikan, waktu luang dan kegiatan budaya, hingga perlindungan khusus.
Ada empat prinsip umum yang menjadi dasar pemenuhan hak anak, yakni non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup dan tumbuh berkembang, serta penghargaan terhadap pendapat anak. Keempat prinsip itu semestinya hadir dalam setiap keputusan yang menyangkut kehidupan anak.
Di lingkungan keluarga, penghormatan terhadap hak anak dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, mendengarkan. Shoim memberikan contoh ketika seorang anak pulang ke rumah dan mengatakan bahwa nilai ulangannya sangat rendah. Respons orang tua menjadi penting.Orangtua tidak harus langsung marah atau memberikan ceramah panjang. Ada pola komunikasi yang diperkenalkan, yakni puji, informasi, dan saran.
Ketika anak jujur menyampaikan nilai ulangannya, kejujuran itu dapat lebih dulu dihargai. Setelah itu, orang tua menggali informasi mengenai apa yang terjadi. Mengapa nilainya rendah? Apa yang membuat anak mengalami kesulitan? Setelah informasi diperoleh, barulah orang tua memberikan saran. Cara tersebut menempatkan anak sebagai subjek yang memiliki pengetahuan mengenai pengalaman dirinya sendiri. Orang dewasa tidak selalu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hanya dari sebuah hasil atau kesalahan.
Dalam menggali informasi, orang tua perlu menggunakan pertanyaan yang tepat, tidak bertubi-tubi, berbicara dengan nada rendah, dan lebih banyak mendengarkan. Pengasuhan semacam ini menjadi bagian dari pemenuhan hak anak. Sebaliknya, kekerasan juga dapat muncul dari hal yang dianggap biasa. Membentak, menjewer, menjambak, menampar, atau memberikan panggilan yang merendahkan dapat meninggalkan dampak bagi anak.