Di Ladang Itu, Petani Paranggupito Masih Menjaga Tanah dan Ingatan

Di Ladang Itu, Petani Paranggupito Masih Menjaga Tanah dan Ingatan
Tanah di Jahen, Gudangharjo, Paranggupito, Wonogiri, pagi itu menjadi tempat orang-orang berkumpul. Bukan untuk menunggu panen, bukan pula untuk menghitung hasil ladang. Para petani datang untuk memperingati Hari Tani Nasional, Selasa (23/9). Di antara tanah garapan dan kehidupan yang telah lama mereka jalani, Paguyuban Petani Paranggupito mengadakan peringatan yang sederhana. Tidak ada gedung besar. Ladang menjadi ruang pertemuan. Tanah yang selama ini mereka rawat menjadi saksi percakapan tentang hak, kehidupan, pangan, dan perjuangan yang belum selesai.

Acara dibuka dengan hening cipta. Peserta diminta menenangkan diri sejenak, kemudian berdiri menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza. Hari Tani di tempat itu terasa bukan sekadar peringatan tahunan. Ada persoalan yang jauh lebih panjang daripada sebuah acara. Ada tanah yang ingin tetap mereka kuasai dan kelola, sejarah yang ingin mereka pertahankan dan harapan agar suatu hari hak atas tanah itu benar-benar kembali kepada masyarakat.

Mulyono (72), biasa dipanggil Mbah Mul, Ketua Paguyuban Petani Paranggupito, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut. Ia secara khusus mengapresiasi warga Gudangharjo yang menjadi tuan rumah. Ia berharap peringatan Hari Tani dapat terus dilakukan secara bergilir. Tahun berikutnya, tempat lain dapat menjadi ruang berkumpul para petani. Bagi Mbah Mul, peringatan Hari Tani penting karena petani juga memiliki hari yang mengingatkan pada keberadaan dan perjuangan mereka. Petani mungkin bekerja di ladang, mengolah tanah dengan tangan, menunggu hujan, menghadapi panas, hama, dan ketidakpastian hasil. Akan tetapi, pekerjaan itu memiliki arti bagi kehidupan banyak orang. Mbah Mul juga menyampaikan terima kasih kepada YAPHI yang selama ini mendampingi perjuangan paguyuban.

Dari pendampingan tersebut, para petani tidak hanya belajar mengenai persoalan agraria. Mereka juga belajar berorganisasi dan menyusun kekuatan bersama. Di pengujung sambutannya, suara Mbah Mul mengajak peserta mengucapkan yel-yel.
“Hidup Petani Paranggupito! Hidup! ”
“Petani Prangguptip, Pantang menyerah!”
Suara itu kemudian bergema di antara mereka.
Image
Image
Yosi dari YAPHI mengingatkan bahwa kabar mengenai perkembangan reforma agraria menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Akan tetapi, setelah sebuah aturan lahir, pekerjaan belum selesai. Masyarakat tetap perlu memahami aturan tersebut. Ia menjelaskan bahwa reforma agraria berkaitan dengan tiga hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu memiliki, menguasai, dan mengelola.

Ketiganya menjadi penting ketika bicara tentang tanah di Paranggupito. Masyarakat telah lama menguasai tanah. Masyarakat pula yang selama ini mengelolanya. Tanah tersebut menjadi sumber kehidupan keluarga. Karena itu, perjuangan hak atas tanah bukan sekadar meminta sebidang tanah. Ada sejarah panjang yang membuat masyarakat memiliki hubungan dengan tanah tersebut. Tanah yang dikelola bertahun-tahun menyimpan kerja, keringat, dan kehidupan.

Yosi juga mengajak para petani terus belajar. Ia mengibaratkan organisasi seperti kendaraan yang perlu dirawat. Mobil atau sepeda motor yang hanya digunakan tanpa dirawat lama-lama akan rusak. Organisasi juga demikian. Ia harus dirawat dengan pertemuan, pengetahuan, komunikasi, dan keterlibatan anggotanya. Para petani tidak cukup hanya hadir ketika ada persoalan besar. Mereka perlu tetap bertemu meskipun tidak sedang menghadapi persoalan yang mendesak. Sebab perjuangan tanah bukan perjuangan sehari atau dua hari.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Yosi, Direktur YAPHI, Putri, menulis bahwa Hari Tani Nasional ditempatkan sebagai momentum untuk mengingat kembali sejarah panjang perjuangan petani. Petani bukan sekadar orang yang bekerja di sawah atau ladang. Dari tangan petani, pangan tumbuh. Dari tanah yang mereka rawat, kehidupan banyak orang bergantung.

Tema peringatan tahun ini berbicara mengenai reforma agraria atas inisiatif rakyat sebagai jalan menuju keadilan sosial, ekonomi, dan ekologis. Ada tiga kata yang terasa penting dalam sambutan tersebut yakni: Sosial, Ekonomi dan Ekologis. Keadilan sosial berarti masyarakat memiliki akses terhadap tanah dan sumber daya agraria secara adil. Keadilan ekonomi berarti tanah dapat menjadi sumber penghidupan yang membuat keluarga petani bertahan. Keadilan ekologis berarti tanah dan alam tetap dijaga agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tanah bukan hanya milik hari ini. Di dalam tanah ada masa depan anak-anak. Setelah sambutan, doa dipanjatkan. Para petani bersyukur karena dapat berkumpul di tegalan Gudangharjo dalam keadaan selamat. Doa juga dikirimkan kepada para petani yang telah meninggal dunia serta para leluhur. Di dekat mereka, tumpeng tiwul menjadi bagian dari peringatan. Tiwul seperti membawa kembali ingatan pada pangan yang tumbuh dari tanah sendiri. Makanan yang pernah begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Wonogiri.

Percakapan kemudian bergerak kepada hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan petani. Seorang warga meminta YAPHI tidak bosan mendampingi mereka. Ia berharap pendampingan terus berjalan sampai perjuangan masyarakat mencapai tujuan, termasuk dalam mendapatkan pengakuan hak atas tanah. Para petani juga diingatkan untuk menjaga pertemuan. Jika memungkinkan, pertemuan tidak hanya dilakukan setahun sekali. “Kalau bisa tiap bulan,” kira-kira begitu harapannya.

Ada alasan sederhana di balik permintaan tersebut. Ketika orang-orang jarang bertemu, informasi mudah terputus. Ketika sering bertemu, persoalan dapat dibicarakan sebelum menjadi lebih besar.Anak muda pun mulai disebut. Beberapa nama seperti Sukiman, Rahayu, Yuli, Rendy, dan Agus disebut sebagai anak-anak muda yang aktif dalam grup komunikasi. Mereka membantu menyampaikan informasi dan merespons berbagai persoalan.

Keterlibatan mereka menjadi penting karena perjuangan tanah membutuhkan generasi penerus. Para petani tidak hanya sedang memperjuangkan apa yang mereka miliki hari ini. Mereka juga sedang memikirkan siapa yang akan meneruskan perjuangan itu ketika usia mereka semakin tua. Pembicaraan kemudian sampai pada ekonomi keluarga.

Petani tidak mungkin hanya hidup dari perjuangan. Ladang harus menghasilkan. Keluarga harus tetap makan. Anak-anak harus tetap sekolah. Karena itu, potensi setiap wilayah perlu dilihat. Ada jahe, kelapa, kacang. dan bawang merah. Ada hasil kebun lain yang dapat dikembangkan. Hasil pertanian tidak harus berhenti sebagai bahan mentah. Ia dapat diolah menjadi makanan atau produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Paranggupito juga memiliki wilayah pesisir. Pantai-pantai yang ada dapat menjadi ruang ekonomi baru bagi masyarakat. Petani tetap dapat bertani sambil memanfaatkan peluang dari pariwisata. Hasil pertanian dapat dibawa masuk menjadi bagian dari usaha wisata. Kelapa, misalnya.

Di wilayah yang panas, orang datang mencari minuman segar. Kelapa sebenarnya sudah memiliki daya tarik sendiri. Tinggal bagaimana masyarakat mengolah dan menyajikannya agar mempunyai nilai tambah.Dari percakapan sederhana itu terlihat bahwa perjuangan agraria mempunyai wajah yang luas. Tanah harus tetap dikuasai. Tanah juga harus menghasilkan. Belum musim tanam membuat para petani diingatkan untuk mempersiapkan lahan. Batas-batas tanah perlu diperjelas supaya tidak muncul persoalan dengan tetangga.

Lahan yang masih kosong juga sebaiknya diolah. Bagi petani yang sudah sepuh dan tidak sanggup mengerjakan sendiri, persoalan tersebut dapat dibicarakan di dalam kelompok. Lahan dapat dikelola bersama dengan kesepakatan yang jelas. Yang penting, tanah tidak dibiarkan begitu saja. Ada pula pembicaraan tentang identitas petani. Profesi petani disebut sebagai pekerjaan mulia dan terhormat. Petani adalah bagian dari kehidupan bangsa karena pangan tidak tumbuh dari pasar. Pangan tumbuh dari tanah. Anak-anak perlu mengetahui hal itu.

Petani ingin dihargai bukan karena belas kasihan. Petani ingin tanahnya diakui, petani ingin pekerjaannya dihormati, petani ingin anak-anak mereka memahami bahwa makanan yang berada di atas piring tidak datang dengan sendirinya. Di ladang Jahen, pembicaraan tentang tanah akhirnya bertemu dengan pembicaraan tentang pangan.

Tanah yang diperjuangkan adalah tanah yang ingin tetap hidup, yang ditanami, dirawat, dan diwariskan. Hari Tani di Paranggupito menjadi ruang untuk mengingat semua itu. Perjuangan mereka belum selesai. Masih ada aturan yang harus dipahami. Masih ada tanah yang harus diperjuangkan, organisasi yang perlu dirawat, generasi muda yang harus diajak, anak-anak yang perlu diberi tahu dari mana makanan mereka berasal.

Di antara tanah, tiwul, percakapan, dan yel-yel yang terdengar dari ladang, para petani kembali mengingat satu hal bahwa menjadi petani bukan pekerjaan yang harus disembunyikan. Menjadi petani adalah menjaga kehidupan. (Ast)