Setelah mengenal 3R, fasilitator membawa anak-anak mengikuti perjalanan sebuah bungkus makanan. Anak-anak ditanya tentang jajanan yang biasa mereka beli. Ada nasi goreng, seblak, dan berbagai makanan lain. Mereka juga ditanya tentang kemasan yang digunakan.
Plastik
Ketika plastik sudah tidak digunakan, jawabannya hampir seragam, dibuang ke tempat sampah. Pertanyaan berikutnya membuat mereka berpikir lebih jauh. Setelah masuk tempat sampah, ke mana plastik itu pergi. Sebagian besar belum mengetahui perjalanan tersebut. Fasilitator kemudian menjelaskan bahwa sampah yang berada di tempat sampah akan diambil petugas dan dibawa ke TPS. Di sana sampah dipilah antara organik dan anorganik. Sampah kemudian dapat dibawa ke TPST untuk mendapatkan pengolahan lebih lanjut. Sampah yang masih tersisa akan menuju TPA.
Dari perjalanan itu, anak-anak diperkenalkan pada 3B, bau, banjir, dan banyak penyakit. Sampah yang terus menumpuk bukan hanya persoalan kebersihan. Ia dapat membawa persoalan lain bagi kehidupan. Karena itu, 3R kembali menjadi penting. Anak-anak kemudian membuat prakarya berupa boneka lebah dari botol bekas minuman. Botol dilapisi karton, diberi warna, mata, dan antena.
Sebuah benda bekas yang sebelumnya hendak dibuang berubah menjadi mainan. Di kelas 4 dan 5, lingkungan hadir melalui makanan. Adi dan Ninik mendampingi 30 anak, terdiri dari 15 siswa kelas 4 dan 15 siswa kelas 5. Percakapan dimulai dari hal yang paling dekat dengan anak-anak, sarapan. Setelah itu, fasilitator bertanya tentang makanan tradisional. Anak-anak belum mudah menjelaskan pengertiannya. Mereka lebih lancar menyebutkan contoh makanan yang mereka kenal.
Pembicaraan kemudian dipersempit pada makanan yang ada di sekitar mereka. Lima kelompok dibentuk. Setiap kelompok memperoleh gambar bahan makanan seperti padi, kacang tanah, jagung, dan ikan. Mereka diminta mencari tahu bagaimana bahan tersebut sampai ke piring dan makanan apa saja yang dapat dibuat darinya. Saat kelompok saling berkunjung, berbagai pengetahuan lokal muncul.
Jagung, misalnya, tidak berhenti sebagai jagung. Ada nasi jagung dan olahan lainnya yang dikenal anak-anak. Ketela, ubi, rebung, bonggol pisang, dan jantung pisang juga ikut masuk dalam percakapan. Anak-anak mulai melihat bahwa bahan makanan yang berada di sekitar mereka memiliki cerita panjang sebelum sampai di meja makan. Ada tanah, air, tangan yang menanam, petani dan nelayan.