Bersama YAPHI, MI Miftahul Huda Menjaga Lingkungan dengan Belajar, dari Keran Air, Sampah, hingga Sepotong Nasi Jagung

Bersama YAPHI, MI Miftahul Huda Menjaga Lingkungan dengan Belajar, dari Keran Air, Sampah, hingga Sepotong Nasi Jagung
Sebuah botol air mineral diletakkan di hadapan anak-anak. Botol berukuran satu setengah liter itu bukan sekadar botol. Bagian bawahnya sudah dilubangi. Air yang dituangkan ke dalamnya perlahan mengalir keluar. Anak-anak kemudian diminta bergantian menutup lubang tersebut. Permainan itu berlangsung sederhana. Ada yang menutup lubang, ada yang menunggu giliran, ada pula yang memperhatikan air yang terus berkurang ketika lubang dibiarkan terbuka.

Bagi fasilitator, botol itu sedang menjadi sebuah toren. Lubang di bawahnya menjadi keran. Dari permainan tersebut, anak-anak kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda, Jakenan, Pati, diajak memahami sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, air tidak selalu tersedia tanpa batas.
Image
Image
Hari itu, Selasa (22/9), difasilitasi oleh Yayasan YAPHI, sekolah menjadi ruang belajar tentang lingkungan. Tanah, air, sampah, hewan, makanan, perubahan iklim, hingga bencana menjadi bahan percakapan. Anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan. Mereka bergerak, bermain, menggambar, mewarnai, membuat prakarya, berdiskusi, menonton video, hingga menyusun komitmen. Tema “Mengenal Lingkungan” membawa setiap kelas pada pengalaman yang berbeda.

Di kelas 2, pembelajaran difokuskan pada air sebagai sumber kehidupan dan keberlanjutan. Kegiatan yang difasilitasi Dorkas, Anisa, dan Damar diawali dengan pretest. Anak-anak ditanya tentang kebiasaan menggunakan air di rumah dan sekolah. Apakah keran selalu ditutup setelah digunakan. Apakah air pernah digunakan secara berlebihan. Apakah mereka pernah bermain air ketika mandi. Bagaimana dengan kebiasaan membuang sampah.

Sebagian besar anak telah mengetahui bahwa membuang sampah ke sungai atau kali merupakan tindakan yang tidak baik. Persoalan lain muncul dari kebiasaan yang tampaknya kecil, bermain air ketika mandi. Ada pula yang mengaku masih sering lupa mematikan keran.
Image
Image
Fasilitator kemudian bertanya tentang air cucian beras. Apakah air tersebut bisa digunakan kembali untuk menyiram tanaman. Banyak anak baru mengetahui bahwa air yang selama ini dianggap sebagai sisa ternyata masih dapat dimanfaatkan. Permainan botol kemudian menjadi cara untuk mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman.

Air dalam botol terus berkurang ketika lubang tidak ditutup. Anak-anak dapat melihat sendiri apa yang terjadi. Tidak membutuhkan penjelasan panjang. Mereka melihat air yang keluar, berkurang, lalu habis. Pesan yang ingin ditanamkan adalah kebiasaan menjaga air dapat dimulai dari diri sendiri. Ketika berwudu, misalnya, keran tidak perlu dibiarkan terbuka. Ketika melihat teman lupa menutup keran, mereka dapat saling mengingatkan.

Anak-anak juga diajak mengingat pengalaman ketika mengalami kesulitan air. Mayoritas pernah merasakannya. Setelah permainan, kegiatan berlanjut dengan gambar dan warna. Anak-anak dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Mereka mewarnai gambar yang berisi ajakan sederhana untuk menghemat air. Gambar-gambar tersebut kemudian ditempel di sekitar tempat wudu, kamar mandi, dan wastafel. Karya anak-anak itu sengaja diletakkan di tempat yang sering mereka datangi. Sebuah gambar dapat menjadi pengingat ketika tangan hendak meninggalkan keran dalam keadaan terbuka.

Di kelas 1, lingkungan dikenalkan melalui cara yang lebih dekat dengan dunia anak-anak. Aster dan Renny mendampingi 19 siswa yang hadir. Satu siswa tidak masuk karena sakit. Setelah berkenalan, anak-anak diajak berkeliling sekolah. Mereka bergerak dalam barisan seperti kereta api. Dalam perjalanan itu, fasilitator memperkenalkan tanah, daun, udara, angin, dan panas matahari.

Bagi anak-anak kelas 1, lingkungan bukan sekadar sesuatu yang harus dihafalkan. Mereka diajak merasakan langsung. Kaki menginjak tanah. Tubuh merasakan angin. Mata melihat daun. Kulit merasakan panas matahari. Sebelum kegiatan berjalan lebih jauh, dilakukan pretest dan review materi sebelumnya. Beberapa anak masih mengingat kegiatan yang telah dilakukan, meski ada yang lupa istilahnya. Belajar di kelas 1 memang membutuhkan cara tersendiri. Anak-anak masih mudah berlari dan berpindah perhatian. Karena itu, permainan dan lagu diselipkan dalam kegiatan. Mereka diajak mengenal berbagai hewan, mewarnai gambar, menyebutkan hewan yang mereka pelihara di rumah, dan mengenali suara hewan. Ada pula anak yang membutuhkan pendekatan lebih personal. Fasilitator mengajaknya berbicara melalui pertanyaan sederhana dan mengulang pertanyaan ketika diperlukan. Dalam kegiatan absensi, beberapa anak juga belum mampu menuliskan namanya sendiri. Teman mereka diminta membantu. Dari hal kecil itu, anak-anak belajar mengenal nama dan keberadaan teman di sekitarnya.
Pembicaraan kemudian sampai pada banjir. Anak-anak ditanya tentang pengalaman ketika banjir datang. Ada yang mengaku pernah bermain air ketika banjir. Mereka kemudian diajak memahami bahwa sampah yang dibuang sembarangan dapat menjadi salah satu penyebab banjir. Anak-anak pun diajak menyayangi hewan dan menjaga lingkungan.

Jika kelas 1 mengenal lingkungan melalui bermain, kelas 3 mulai diajak melihat perjalanan sampah dengan lebih jauh. Sekitar 31 anak mengikuti kegiatan yang difasilitasi Yosi, Tika, dan Tina. Mereka berkenalan dengan konsep 3R, reduce, reuse, dan recycle. Anak-anak mendapatkan gambar-gambar yang harus mereka kelompokkan. Gambar ditempel pada plano sesuai kategori 3R. Dari sana muncul berbagai jawaban. Mengurangi penggunaan pasta gigi secara berlebihan menjadi salah satu contoh reduce. Kardus bekas yang digunakan untuk membungkus kado menjadi contoh reuse. Sampah organik yang diolah menjadi kompos juga disebutkan.
Setelah mengenal 3R, fasilitator membawa anak-anak mengikuti perjalanan sebuah bungkus makanan. Anak-anak ditanya tentang jajanan yang biasa mereka beli. Ada nasi goreng, seblak, dan berbagai makanan lain. Mereka juga ditanya tentang kemasan yang digunakan.

Plastik
Ketika plastik sudah tidak digunakan, jawabannya hampir seragam, dibuang ke tempat sampah. Pertanyaan berikutnya membuat mereka berpikir lebih jauh. Setelah masuk tempat sampah, ke mana plastik itu pergi. Sebagian besar belum mengetahui perjalanan tersebut. Fasilitator kemudian menjelaskan bahwa sampah yang berada di tempat sampah akan diambil petugas dan dibawa ke TPS. Di sana sampah dipilah antara organik dan anorganik. Sampah kemudian dapat dibawa ke TPST untuk mendapatkan pengolahan lebih lanjut. Sampah yang masih tersisa akan menuju TPA.

Dari perjalanan itu, anak-anak diperkenalkan pada 3B, bau, banjir, dan banyak penyakit. Sampah yang terus menumpuk bukan hanya persoalan kebersihan. Ia dapat membawa persoalan lain bagi kehidupan. Karena itu, 3R kembali menjadi penting. Anak-anak kemudian membuat prakarya berupa boneka lebah dari botol bekas minuman. Botol dilapisi karton, diberi warna, mata, dan antena.

Sebuah benda bekas yang sebelumnya hendak dibuang berubah menjadi mainan. Di kelas 4 dan 5, lingkungan hadir melalui makanan. Adi dan Ninik mendampingi 30 anak, terdiri dari 15 siswa kelas 4 dan 15 siswa kelas 5. Percakapan dimulai dari hal yang paling dekat dengan anak-anak, sarapan. Setelah itu, fasilitator bertanya tentang makanan tradisional. Anak-anak belum mudah menjelaskan pengertiannya. Mereka lebih lancar menyebutkan contoh makanan yang mereka kenal.

Pembicaraan kemudian dipersempit pada makanan yang ada di sekitar mereka. Lima kelompok dibentuk. Setiap kelompok memperoleh gambar bahan makanan seperti padi, kacang tanah, jagung, dan ikan. Mereka diminta mencari tahu bagaimana bahan tersebut sampai ke piring dan makanan apa saja yang dapat dibuat darinya. Saat kelompok saling berkunjung, berbagai pengetahuan lokal muncul.

Jagung, misalnya, tidak berhenti sebagai jagung. Ada nasi jagung dan olahan lainnya yang dikenal anak-anak. Ketela, ubi, rebung, bonggol pisang, dan jantung pisang juga ikut masuk dalam percakapan. Anak-anak mulai melihat bahwa bahan makanan yang berada di sekitar mereka memiliki cerita panjang sebelum sampai di meja makan. Ada tanah, air, tangan yang menanam, petani dan nelayan.
Pembelajaran tentang makanan pun perlahan berubah menjadi pembicaraan tentang keberlanjutan pangan. Anak-anak diajak memahami bahwa jika terjadi kekeringan atau kondisi tertentu yang mengganggu produksi pangan, makanan dari luar daerah juga belum tentu mudah didatangkan. Karena itu, mengenal dan menjaga sumber pangan di sekitar menjadi bagian dari menjaga kehidupan. Kesadaran tersebut melahirkan sebuah inisiatif kecil.

Menjelang Hari Tani pada 24 September, anak-anak kemudian membuat video ucapan. “Selamat Hari Tani, terima kasih petani, terima kasih nelayan. Kalian pahlawan pangan bagi kami.” Ucapan itu sederhana. Di baliknya ada pengenalan terhadap orang-orang yang selama ini bekerja menghadirkan makanan di meja makan.

Sementara kelas 6 mendapatkan materi tentang kebencanaan dan perubahan iklim. Astuti dan Handharu mendampingi 20 siswa. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan review tentang hak anak melalui tepuk anak. Setelah itu anak-anak mengerjakan pretest dengan sepuluh pertanyaan mengenai pola hidup sehat dan kebiasaan menjaga lingkungan. Permainan kebencanaan kemudian mengajak mereka bergerak. Anak-anak dibagi dalam kelompok kecil dan diperkenalkan pada berbagai bencana seperti banjir, gempa bumi, dan angin ribut.

Gerak menjadi bagian dari pembelajaran. Anak-anak belajar fokus dan tanggap terhadap situasi yang berkaitan dengan bencana. Video perubahan iklim kemudian membawa mereka pada pembahasan yang lebih luas. Pemanasan global, efek rumah kaca, dan berbagai bencana diperkenalkan sebagai bagian dari perubahan yang terjadi pada lingkungan. Sebagian istilah tersebut merupakan pengetahuan baru bagi mereka.
Setelah mendapatkan materi, anak-anak diajak berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri. Apa yang bisa dilakukan. Jawabannya kemudian ditulis sebagai komitmen. Setiap anak menuliskan satu tindakan yang akan dilakukan untuk menjaga lingkungan, baik di rumah maupun di sekolah. Kertas itu dimasukkan ke dalam amplop dan ditempel di dinding kelas.

Tiga bulan kemudian, amplop tersebut akan kembali dibuka. Anak-anak akan melihat apakah tulisan yang mereka buat telah menjadi kebiasaan. Di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda, belajar lingkungan berlangsung melalui banyak pintu. Air masuk lewat permainan botol. Sampah datang melalui bungkus jajanan. Makanan tradisional membawa anak-anak mengenal petani dan nelayan. Hewan hadir melalui lagu dan gambar. Perubahan iklim diperkenalkan melalui video. Bencana dikenalkan melalui gerak.

Semua berangkat dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan anak. Sebab menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Ia bisa berawal dari keran yang ditutup setelah digunakan. Dari sampah yang tidak dilempar sembarangan. Dari sepotong kardus yang digunakan kembali, dari air cucian beras yang disiramkan ke tanaman dan juga dari makanan lokal yang mulai dikenal dan dihargai.


Sementara itu, ketika para siswa belajar tentang bagaimana mereka menjaga lingkungan, di ruangan lain para guru dan pengurus yayasan meneruskan agenda pelatihan terkait Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) difasilitasi oleh Dunung dan Putri.
(Ast)