Hari ketiga pelatihan advokasi yang diselengarakan oleh Yayasan Sheep Indonesia (YSI) bersama Mitra ToGETHER yakni Yayasan YAPHI, Cappa Keadilan Ekologi, GKJW, Jaga Balai dan Mitra Wacana pada 19-22/8 di Balkondes Wringin Putih, Borobudur, Magelang, memasuki bagian yang lebih praktis. Setelah selama dua hari peserta diajak mengenali persoalan, merumuskan tuntutan, tujuan perubahan, serta memetakan aktor, pembahasan kemudian bergerak pada satu pertanyaan penting: bagaimana cara mencapai perubahan yang diinginkan?
Martin Dennise Silaban, fasilitator dari YSI mengawali sesi dengan mengingatkan peserta bahwa sebuah institusi pada akhirnya tetap digerakkan oleh manusia. Lembaga boleh berubah, kebijakan bisa berganti, tetapi keputusan selalu dibuat oleh orang-orang yang berada di dalamnya.“Bagaimanapun dia mewakili institusi, tetap keputusan itu dibuat orang, dibuat person, personal,” kata Martin.
Ia memberi contoh sederhana. Ketika orang menyebut sebuah lembaga seperti BPBD, DPRD, organisasi masyarakat sipil, gereja, NGO, atau institusi pemerintah lainnya, yang bekerja dan mengambil keputusan di dalamnya bukanlah institusi sebagai benda abstrak, melainkan orang-orang yang memiliki kepentingan, pengalaman, hubungan, kebiasaan, bahkan tekanan yang berbeda-beda. Karena itu, setelah peserta memetakan lembaga atau aktor yang memiliki pengaruh tinggi sekaligus mendukung tuntutan mereka, langkah berikutnya adalah memilih satu sosok yang lebih spesifik untuk dipelajari.
“Dipilih satu lembaga, lalu coba didalami. Dipilih satu persona dari lembaga itu,” ujarnya.
Konsep persona sebenarnya bukan hal baru bagi sebagian peserta. Tri Sulistyowati, fasilitator, menghubungkannya dengan pelatihan sebelumnya. Dalam kerja inovasi, persona digunakan untuk mengenali secara lebih mendalam siapa orang yang hendak dibantu: bagaimana kehidupannya, posisi sosialnya, keluarganya, kondisi wilayahnya, hingga hal-hal yang memengaruhi cara berpikirnya. Dalam advokasi, pendekatan yang sama digunakan untuk membaca aktor."Di sini ketika kita bicara persona, bagaimana kita mengenal siapa-siapa yang ada di dalam lembaga-lembaga yang teman-teman pilih tadi,” kata Tri.
Dengan demikian, pemetaan aktor tidak berhenti pada nama lembaga. Peserta didorong mencari tahu siapa orang yang memiliki pengaruh di dalamnya, siapa yang dapat menjadi pintu masuk, siapa yang memiliki hubungan dekat dengan pengambil keputusan, bahkan siapa yang mungkin menjadi jembatan menuju aktor tersebut.
Martin mencontohkan, untuk mendekati seorang pejabat, peserta tidak cukup hanya mengetahui jabatan dan institusinya. Mereka perlu mengenal latar belakang orang tersebut, hobinya, lingkungan pergaulannya, hingga cara paling mungkin untuk membangun percakapan. “Kalau mau mendekati seseorang yang ada di sini, ikutan running. Punya modal enggak untuk ikutan?” katanya, menggambarkan bagaimana hal-hal yang tampak sederhana justru dapat menjadi pintu masuk membangun relasi. Bagi Martin, informasi semacam itu bukan sekadar basa-basi. Ia dapat menjadi bagian dari strategi advokasi.
Sebab, dalam pengalaman perubahan sosial, keputusan tidak selalu lahir dari jalur formal. Ada kalanya surat resmi, pertemuan formal, atau permohonan audiensi tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, percakapan informal melalui orang yang dikenal justru membuka pintu.