Catatan Workshop ToGETHER : Dari Pengalaman Bencana, Mereka Menemukan Celah dalam Respons Kemanusiaan

Catatan Workshop ToGETHER : Dari Pengalaman Bencana, Mereka Menemukan Celah dalam Respons Kemanusiaan
Pengalaman menghadapi bencana sering kali baru memperlihatkan persoalan yang sebelumnya tidak terlihat. Di atas kertas, respons bencana mungkin tampak sederhana: bencana terjadi, bantuan dikumpulkan, relawan bergerak, lalu bantuan disalurkan kepada masyarakat terdampak. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan cerita yang jauh lebih rumit.

Ada bantuan yang menumpuk karena tidak sesuai kebutuhan. Ada masyarakat terdampak yang justru tidak tersentuh bantuan karena berada di wilayah terpencil. Ada relawan yang datang tanpa mengetahui kondisi lapangan. Ada pula organisasi yang sama-sama ingin membantu, tetapi tidak memiliki pembagian peran dan mekanisme koordinasi yang jelas.

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi peserta workshop project ToGETHER yang difasilitasi oleh Tri Sulistyowati, Martin Dennise Silaban dan Nathanael Prasetya Adi dari Yayasan Sheep Indonesia (YSI) bersama kelima mitra yakni Cappa_Keadilan Ekologi, GKJW, Jaga Balai, Mitra Wacana dan Yayasan YAPHI, 19-22/8 di Balkondes Wringin Putih, Borobudur. Para peserta diminta kembali mengingat berbagai respons bencana yang pernah mereka lakukan.

Mereka tidak diminta langsung mencari akar masalah. Sebaliknya, peserta diajak terlebih dahulu melihat pengalaman konkret bencana apa yang pernah terjadi, apa yang dilakukan organisasi, apa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, mengapa hal itu terjadi, dan apa yang seharusnya berbeda. Dari sana, satu per satu persoalan mulai terlihat.
Image

Data yang Tidak Tersedia, Bantuan yang Salah Sasaran


Jaga Balai menjadi salah satu kelompok yang membagikan pengalamannya. Organisasi ini pernah aktif melakukan respons bencana, terutama pada periode 2008 hingga 2016. Dari berbagai pengalaman tersebut, ada dua persoalan yang terus berulang yakni data dan koordinasi. Dalam situasi bencana, data bukan sekadar angka. Data menentukan ke mana relawan harus bergerak, wilayah mana yang harus diprioritaskan, serta kebutuhan apa yang harus dibawa.

Seorang peserta menceritakan pengalamannya ketika harus memasuki wilayah yang belum pernah mereka kenal. Tanpa data dan informasi yang memadai, tim kesulitan mengetahui lokasi terdalam, jalur evakuasi, hingga akses yang aman. Ia pernah mengalami situasi ketika harus masuk ke gang-gang sempit pada tengah malam untuk mencari warga terdampak. “Kalau punya data itu akan memudahkan untuk mengambil jalur mana yang memang aman untuk dilalui,” ujarnya.
Persoalan lainnya adalah keterbatasan peralatan. Tidak semua wilayah memiliki perahu, lampu penerangan, maupun perlengkapan yang sesuai dengan karakter bencananya. Padahal, kebutuhan setiap wilayah berbeda. Karena itu, respons tidak bisa hanya mengandalkan pola yang sama untuk semua tempat. Menurutnya, salah satu yang penting adalah memastikan desa memahami kondisi wilayahnya sendiri. Desa perlu mengetahui ancaman yang ada, jalur evakuasi, kapasitas relawan, serta sumber daya yang dimiliki.

Dengan begitu, ketika lembaga dari luar datang, mereka tidak perlu memulai semuanya dari awal. Mereka dapat bekerja bersama masyarakat lokal yang sudah mengetahui wilayah dan kebutuhannya.
Ketika semua ingin membantu, tetapi tidak ada yang memimpin, bisa saja kemudian koordinasi menjadi kacau.

Pengalaman lain datang dari Edi asal lembaga Cappa Keadilan Ekologis dalam merespons kebakaran hutan. Saat itu, organisasi tidak bekerja sendirian. Mereka membangun aliansi dengan sejumlah organisasi lain. Bentuk responsnya beragam, mulai dari membagikan makanan, obat-obatan, dan masker hingga membuat sekat kanal dan mendukung penanaman tanaman yang diharapkan dapat membantu pemulihan lingkungan. Namun, persoalan muncul ketika banyak pihak terlibat tanpa pembagian peran yang jelas.

“Karena tidak ada komando, karena kita tidak menentukan siapa yang memimpin, masing-masing orang punya pikirannya masing-masing,” katanya. Akibatnya, peran antarorganisasi menjadi tumpang tindih. Banyak pihak melakukan hal yang sama, sementara kebutuhan lain justru tidak tertangani.

Masalah koordinasi juga terjadi di dalam organisasi. Keputusan yang sudah dibicarakan di tingkat pimpinan tidak selalu sampai kepada orang-orang yang turun langsung ke lapangan. Pengalaman tersebut membuat mereka menyadari bahwa respons bencana tidak cukup hanya mengandalkan spontanitas dan niat membantu.

Aliansi perlu memiliki ruang konsultasi dan koordinasi yang dilakukan secara reguler. Perencanaan juga harus dilakukan bersama sejak awal, termasuk menentukan lokasi prioritas, mekanisme distribusi, pembagian peran, serta siapa yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Tanpa itu, respons mudah berubah menjadi kegiatan yang reaktif.

Salah satu persoalan yang paling terasa adalah distribusi bantuan. Dalam situasi bencana, masyarakat dari berbagai wilayah bisa berkumpul di satu titik untuk mendapatkan bantuan. Namun, warga yang tinggal jauh dari titik tersebut bisa justru tidak mendapatkan informasi. “Orang datang ke titik itu begitu saja. Ada yang kebanyakan dapatnya, ada yang jauh-jauh malah tidak dapat informasi,” ujar Edi.

Bagi peserta, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan distribusi bukan hanya soal logistik. Di dalamnya terdapat persoalan data, koordinasi, perencanaan, akses, hingga kewenangan. Bantuan berlimpah, tetapi tidak sesuai kebutuhan.

Pengalaman Muhammmad Mansur dari Mitra Wacana ketika merespons erupsi Merapi 2010 memperlihatkan persoalan yang hampir serupa. Saat itu, solidaritas masyarakat sangat besar. Para mahasiswa dan pelajar asal Pati di Yogyakarta menggalang bantuan untuk warga terdampak erupsi. Bantuan datang dalam berbagai bentuk. Ada mi, beras, pisang, pakaian, dan berbagai barang lainnya.
Masalahnya, tidak semua bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Jenis bantuannya nggak sesuai dengan prioritas kebutuhan sebenarnya di lapangan,” ceritanya. Karena bantuan terus datang, sebagian barang kemudian menumpuk. Dalam beberapa kasus, barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan justru memenuhi posko.

Situasi tersebut menjadi pengalaman penting bagi mereka yang saat itu belum memiliki pelatihan khusus dalam manajemen bantuan kemanusiaan. Respons lebih banyak didorong oleh rasa solidaritas. Ketika mengetahui ada bencana, orang merasa harus melakukan sesuatu. Namun, tidak ada pengetahuan yang cukup mengenai bagaimana melakukan asesmen kebutuhan, menentukan prioritas, dan memastikan bantuan tidak menjadi beban baru.

Padahal, kebutuhan masyarakat dapat berubah seiring perkembangan bencana. Bantuan yang dibutuhkan pada hari-hari pertama belum tentu sama dengan kebutuhan beberapa minggu kemudian. Menurut Mansur, bantuan berupa uang yang mulai banyak diterima pada fase berikutnya justru lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya prinsip bahwa bantuan harus berbasis kebutuhan, bukan sekadar berdasarkan apa yang tersedia dari pihak pemberi bantuan.

Ketika Relawan Belum Siap


Pengalaman serupa muncul dari respons erupsi Semeru pada 2021. Saat itu, Pendeta Yoga, salah seorang peserta dari GKJW masih menjadi mahasiswa dan ikut terlibat dalam penyaluran bantuan di Pronojiwo, Lumajang. Dalam respons tersebut, mereka bekerja bersama perangkat desa dan Badan Permusyawaratan Desa. Informasi mengenai kebutuhan kemudian dikumpulkan dan disebarkan melalui jejaring komunitas serta lembaga keagamaan. Namun, persoalan kembali muncul pada pendataan.

Relawan yang terlibat belum semuanya memiliki kompetensi dalam melakukan asesmen maupun pendataan kebutuhan. Akibatnya, informasi mengenai barang yang diperlukan tidak selalu terkumpul dengan baik. Persoalan lain adalah pendataan donasi. Berapa jumlah bantuan yang terkumpul, bantuan apa saja yang tersedia, dan kebutuhan apa yang masih kurang tidak selalu dapat diketahui dengan cepat.

Kondisi lapangan juga membuat situasi semakin sulit. Cuaca dan berbagai kendala teknis menyebabkan pendataan yang seharusnya selesai pada waktu tertentu harus mundur. Rapat bahkan baru dapat dilakukan pada malam hari. Informasi yang terlambat akhirnya berdampak pada keputusan berikutnya, termasuk jenis bantuan yang perlu disalurkan.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa kemampuan relawan menjadi bagian penting dalam kualitas respons. Niat baik saja tidak cukup. Relawan perlu memahami bagaimana melakukan asesmen, mengelola informasi, dan bekerja dalam koordinasi dengan pihak lain.

Banjir yang Tidak Selesai Karena Persoalan Tata Kelola


Vera, peserta dari Yayasan YAPHI kemudian membawa peserta pada pengalaman lain yakni banjir di wilayah Sungai Juwana. Menurutnya, sedimentasi sungai dan pembangunan tanggul justru memperburuk kondisi banjir. Air yang seharusnya dapat mengalir ke laut tertahan sehingga genangan bertahan selama berminggu-minggu. Akibatnya, akses bantuan menjadi semakin sulit.

Bantuan tidak terdistribusi dengan baik. Masyarakat terdampak bahkan sempat mengalami kelaparan karena tidak dapat memasak sendiri. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa bencana tidak selalu semata-mata disebabkan oleh faktor alam. Tata kelola lingkungan dan kebijakan pembangunan dapat memperbesar dampak bencana.

Respons kemanusiaan kemudian berhadapan dengan persoalan yang lebih besar: bagaimana menghadapi kebijakan yang justru meningkatkan risiko? Bagi organisasi, tantangannya juga tidak ringan. Kapasitas sumber daya manusia terbatas. Respons dilakukan karena rasa solidaritas dan tanggung jawab sosial terhadap wilayah dampingan, tetapi belum selalu didukung perencanaan khusus untuk respons bencana. Di sisi pemerintah daerah, persoalan mitigasi juga masih menjadi pekerjaan rumah.

Dari Cerita Menjadi Peta Persoalan


Setelah mendengar berbagai pengalaman tersebut, fasilitator mengajak peserta melihat benang merahnya. Banjir, kebakaran hutan, dan erupsi memiliki karakter yang berbeda. Namun, persoalan yang muncul ternyata memiliki kemiripan. Ada persoalan data dan informasi. Ada bantuan yang tidak tepat sasaran karena data kebutuhan tidak tersedia atau tidak diperbarui. Ada persoalan koordinasi. Banyak pihak hadir, tetapi tidak selalu jelas siapa melakukan apa, siapa yang mengambil keputusan, dan bagaimana pembagian perannya.

Ada persoalan kapasitas sumber daya manusia. Relawan datang dengan niat membantu, tetapi belum tentu memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Ada pula persoalan manajemen risiko bencana. Kajian risiko sudah menjadi kebutuhan penting, tetapi belum selalu tersedia, diperbarui, atau digunakan sebagai dasar perencanaan pembangunan.

Dari proses tersebut, peserta kemudian mulai mengelompokkan pengalaman ke dalam beberapa dimensi. Yang pertama adalah manajemen logistik atau bantuan kemanusiaan, terutama berkaitan dengan kesesuaian bantuan dengan kebutuhan masyarakat. Yang kedua adalah manajemen data dan koordinasi.

Banjir Tak Kunjung Surut, Bantuan Pun Tersendat


Banjir bukan semata perkara air yang menggenangi rumah dan jalan. Di baliknya terdapat persoalan tata kelola lingkungan, kebijakan pemerintah, kapasitas organisasi, hingga mekanisme distribusi bantuan yang menentukan apakah warga terdampak benar-benar mendapatkan pertolongan atau justru harus menunggu dalam situasi serba terbatas.

Hal itu menjadi salah satu pengalaman yang dibagikan Vera dari YAPHI ketika mempresentasikan hasil refleksi kelompok dalam workshop tentang respons kemanusiaan dan advokasi. Pengalaman YAPHI merespons banjir di wilayah dampingan menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana sebuah bencana dapat berubah menjadi persoalan kemanusiaan ketika sistem pencegahan dan respons tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam kasus yang dipaparkan Vera, persoalan bermula dari kondisi Sungai Juana yang mengalami sedimentasi. Alih-alih menyelesaikan persoalan aliran air secara menyeluruh, pembangunan tanggul justru dinilai memperparah situasi. Air yang seharusnya dapat mengalir menuju laut akhirnya tertahan dan menggenang lebih lama. "Banjir yang harusnya bisa langsung lari ke laut, jadi tidak bisa,” kata Vera ketika menjelaskan situasi yang dihadapi masyarakat.

Dampaknya bukan hanya soal rumah dan lingkungan yang terendam. Bagi warga yang terdampak, genangan yang berlangsung selama beberapa waktu membuat aktivitas sehari-hari lumpuh. Mereka kesulitan memasak karena kondisi rumah dan lingkungan tidak memungkinkan. Pada saat yang sama, distribusi bantuan juga tidak berjalan lancar. “Beberapa hari masyarakat terdampak mengalami kelaparan karena mereka tidak bisa memasak sendiri,” ujar Vera.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa bencana tidak berdiri sendiri. Ada rangkaian persoalan yang saling berkelindan, mulai dari kondisi lingkungan, kebijakan pembangunan, kapasitas pemerintah daerah, hingga mekanisme penyaluran bantuan. Bagi YAPHI, keterlibatan dalam respons tersebut juga berangkat dari alasan yang sederhana: solidaritas dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari wilayah dampingan.

Namun, niat baik saja tidak cukup Vera mengakui bahwa keterbatasan sumber daya manusia dan kapasitas internal menjadi salah satu persoalan ketika organisasi harus merespons situasi bencana. Respons tersebut juga lebih bersifat spontan karena belum terdapat perencanaan khusus di dalam program organisasi yang secara sistematis memasukkan respons bencana.

Di sisi lain, persoalan tidak hanya berada di dalam organisasi. Pemerintah kabupaten juga dinilai belum memiliki mitigasi dan aturan yang memadai untuk menghadapi risiko bencana di wilayah tersebut. Dengan demikian, pengalaman YAPHI menunjukkan adanya jarak antara kebutuhan masyarakat dengan kesiapan sistem penanggulangan bencana.
Image
Image

Bencana dan Kebijakan yang Saling Berkaitan


Dalam diskusi, pengalaman Vera kemudian ditempatkan dalam pembacaan yang lebih luas. Ketika sebuah wilayah mengalami bencana, pertanyaan penting bukan hanya bagaimana bantuan diberikan setelah bencana terjadi, tetapi mengapa risiko tersebut muncul dan mengapa dampaknya bisa menjadi semakin besar. Dalam kasus banjir yang diceritakan Vera, sedimentasi sungai dan pembangunan tanggul menjadi bagian dari persoalan tata kelola lingkungan. Kebijakan pembangunan yang tidak mempertimbangkan risiko bencana dapat menciptakan kerentanan baru bagi masyarakat.

Karena itu, respons kemanusiaan tidak seharusnya berhenti pada pembagian bantuan.Ada kebutuhan untuk melihat kebijakan yang berada di belakang sebuah bencana. Jika pembangunan justru memperbesar risiko, maka kerja kemanusiaan perlu bergerak lebih jauh dengan mempertanyakan kebijakan tersebut. Pengalaman lapangan dapat menjadi bahan untuk kerja advokasi.

Bagi Vera, ada setidaknya dua hal yang perlu dibenahi. Pertama, dari sisi internal organisasi, perlu ada perencanaan yang lebih matang ketika sebuah organisasi hendak melakukan respons bencana. Kedua, dari sisi pemerintah daerah, diperlukan mitigasi dan kebijakan yang mampu mengantisipasi risiko, bukan sekadar bertindak ketika bencana sudah terjadi.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari refleksi bersama dalam workshop. Peserta diajak tidak hanya mengidentifikasi persoalan yang mereka temukan ketika merespons bencana, tetapi juga melihat pola yang muncul dari berbagai pengalaman organisasi.

Dari sejumlah pengalaman yang dipresentasikan, persoalan distribusi bantuan muncul berulang kali. Bantuan tidak selalu sesuai kebutuhan, tidak selalu sampai kepada kelompok yang paling membutuhkan, dan dalam beberapa kasus justru menumpuk di satu tempat sementara wilayah lain masih kekurangan. Pengalaman tersebut membuat persoalan data dan informasi menjadi penting.Tanpa data yang memadai, organisasi maupun relawan akan kesulitan menentukan siapa yang membutuhkan bantuan, jenis bantuan apa yang diperlukan, dan wilayah mana yang paling mendesak untuk dijangkau.

Dalam pengalaman YAPHI, persoalan itu juga berkaitan dengan akses menuju masyarakat terdampak. Ketika banjir berlangsung lama dan akses terganggu, distribusi bantuan membutuhkan informasi yang akurat sekaligus koordinasi dengan aktor lokal.Di sinilah masyarakat lokal sebenarnya memiliki posisi penting. Mereka mengetahui wilayahnya, mengenali warga yang membutuhkan bantuan, dan memahami kondisi lingkungan yang mungkin tidak diketahui oleh organisasi dari luar. Namun, kapasitas mereka juga perlu diperkuat agar dapat berperan secara optimal dalam penanggulangan bencana.

Dari Respons Darurat Menuju Perubahan


Pengalaman Vera menjadi salah satu contoh bahwa respons kemanusiaan dan advokasi sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Respons kemanusiaan menjawab kebutuhan mendesak warga. Namun, ketika persoalan yang sama terus berulang, organisasi perlu bertanya: apa yang harus diubah agar situasi tersebut tidak terus terjadi?

Pertanyaan itu membawa diskusi menuju empat persoalan besar yang kemudian dirumuskan bersama peserta workshop: manajemen logistik atau bantuan kemanusiaan, manajemen data dan informasi, manajemen sumber daya manusia, serta manajemen risiko bencana. Keempatnya saling berhubungan.

Manajemen bantuan yang buruk dapat membuat bantuan tidak tepat sasaran. Ketiadaan data membuat kebutuhan warga sulit dipetakan. Keterbatasan kapasitas SDM memengaruhi kualitas respons. Sementara lemahnya manajemen risiko membuat organisasi dan pemerintah kembali menghadapi persoalan yang sama ketika bencana datang. Dalam konteks tersebut, pengalaman YAPHI tidak berhenti sebagai cerita tentang satu peristiwa banjir. Ia menjadi pengetahuan lapangan yang dapat digunakan untuk membaca persoalan yang lebih besar.

Bagi organisasi masyarakat sipil seperti YAPHI, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian. Ia membutuhkan kapasitas, koordinasi, data, keberpihakan pada kebutuhan warga, sekaligus keberanian untuk melihat kebijakan yang berada di balik sebuah bencana. Sebab ketika air surut, persoalan belum tentu selesai.

Jika sedimentasi sungai tetap dibiarkan, jika kebijakan pembangunan tidak mempertimbangkan risiko, jika masyarakat tidak memiliki kapasitas menghadapi bencana, dan jika sistem distribusi bantuan masih bermasalah, maka bencana yang sama hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali. Kerja kemanusiaan perlu berubah menjadi kerja advokasi: memastikan pengalaman warga yang terdampak tidak berhenti sebagai catatan tentang bencana, tetapi menjadi dasar untuk menuntut perubahan. (Ast)