Catatan Festival Sungai Juwana ke-7, Merawat Sungai Menjadi Ikhtiar Merawat Kehidupan

Catatan Festival Sungai Juwana ke-7, Merawat Sungai Menjadi Ikhtiar Merawat Kehidupan
Pagi itu, tepian Sungai Juwana di Desa Gadingrejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, tidak hanya dipenuhi deretan kursi dan panggung sederhana. Di bawah langit yang cerah, orang-orang dari latar belakang yang berbeda berkumpul dalam satu tujuan menghidupkan kembali harapan bagi sungai yang selama puluhan tahun menjadi nadi kehidupan masyarakat pesisir. Dari pemangku kebijakan hadir Plt bupati, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Camat Juwana, Kepada Desa Gadingrejo, Kantor Kementerian Agama, Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) dan beberapa pihak lain.

Pejabat pemerintah, tokoh agama, akademisi, pegiat lingkungan, pelajar, hingga warga desa duduk berdampingan. Mereka datang bukan sekadar menghadiri sebuah seremoni tahunan, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memulihkan Sungai Juwana. Festival Sungai Juwana ke-7, yang digelar Senin (27/7/2026), menjadi ruang perjumpaan berbagai kepentingan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa lintas agama yang dipimpin para pemuka agama. Suasana hening menyelimuti lokasi ketika setiap orang memanjatkan harapan agar sungai yang telah memberi kehidupan bagi ribuan warga itu kembali sehat. Doa menjadi simbol bahwa persoalan lingkungan tidak lagi dipandang semata sebagai urusan teknis, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral dan spiritual.

Festival tahun ini mengusung tema "Ekologi Sungai Waras, Kebudayaan Masyarakat Waras." Tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Di balik kalimat itu tersimpan pesan bahwa kerusakan sungai sesungguhnya berakar pada cara manusia memandang alam. Ketika hubungan manusia dengan lingkungan rusak, yang ikut terluka bukan hanya ekosistem, melainkan juga kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.

Sunhadi, Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), sebagai inisiator acara, menyampaikan bahwa menjaga sungai tidak cukup dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, penerapan teknologi, ataupun penyusunan regulasi. Semua itu penting, tetapi belum cukup apabila tidak disertai perubahan cara pandang masyarakat terhadap alam.

Menurutnya, sungai bukan sekadar saluran air. Sungai merupakan ruang hidup yang membentuk sejarah, budaya, sekaligus identitas masyarakat Juwana. Karena itu, merawat sungai berarti juga merawat kehidupan bersama.

Ia menjelaskan, Festival Sungai Juwana tahun ini dirancang melalui tiga agenda besar yang saling berkaitan. Agenda pertama adalah Rembuk Kali Juwana, sebuah forum diskusi yang mengangkat pendekatan ekoteologi melalui perspektif lintas agama. Jampisawan meyakini bahwa setiap agama memiliki ajaran tentang penghormatan terhadap alam dan pentingnya menjaga ciptaan.

Untuk mewujudkan gagasan itu, mereka menggandeng Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Para pemuka agama dari berbagai keyakinan diundang duduk bersama, bukan untuk membahas perbedaan ajaran, melainkan mencari titik temu dalam menjaga lingkungan.

Agenda kedua menyasar generasi muda. Bersama tim dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), festival menghadirkan pelatihan lingkungan bagi para pelajar. Anak-anak diajak mengenal sungai sebagai bagian penting kehidupan sekaligus belajar mencintai alam sejak dini. Bagi Sunhadi, investasi terbesar dalam gerakan penyelamatan sungai bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pendidikan. Anak-anak yang tumbuh dengan kesadaran ekologis diyakini akan menjadi penjaga lingkungan pada masa depan.

Sementara agenda ketiga diwujudkan melalui lomba poster dan berbagai kegiatan seni bertema lingkungan. Melalui kreativitas, pelajar diberi ruang untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus harapan mereka terhadap kondisi Sungai Juwana.

Festival, kata Sunhadi, bukanlah tujuan akhir. Kegiatan itu hanyalah titik awal untuk membangun gerakan yang lebih besar. Karena itu, pada penyelenggaraan tahun ketujuh ini, sejumlah lembaga dan pemerintah daerah menandatangani komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga Sungai Juwana.

"Kita semua sepakat bahwa Sungai Juwana harus kembali waras. Dan kita semua akan bekerja untuk mewujudkannya," ujarnya di hadapan para peserta.
Image
Semangat yang sama disampaikan Kepala Desa Gadingrejo, Ani Suyorini. Ia menyebut desanya merasa terhormat menjadi tuan rumah festival tersebut. Kehadiran pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan para pegiat lingkungan menjadi suntikan semangat bagi warga untuk terus menjaga lingkungan di sekitar mereka.

Baginya, kegiatan seperti Festival Sungai Juwana tidak hanya menghadirkan keramaian sesaat, tetapi juga menumbuhkan budaya gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa. Ia berharap kegiatan serupa terus berlangsung pada tahun-tahun mendatang sebagai pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah investasi bagi anak dan cucu.

Harapan itu disambut langsung oleh Pelaksana Tugas Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, yang membuka festival secara resmi. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa sungai memiliki manfaat jauh lebih besar daripada sekadar aliran air.

Bagi masyarakat Pati, Sungai Juwana merupakan penyangga kehidupan. Airnya menopang pertanian, menjadi sumber air baku, sekaligus mengurangi ancaman banjir yang hampir setiap musim hujan melanda kawasan tersebut. Namun, fungsi-fungsi itu kini terus terancam akibat pendangkalan, pencemaran, dan tumbuhnya eceng gondok yang menutup permukaan sungai.

Ia mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Pemerintah daerah, katanya, sedang berupaya melakukan normalisasi sungai melalui pengadaan alat berat agar aliran air kembali lancar. Namun pekerjaan itu tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah.

Menurutnya, masyarakat juga harus ikut terlibat menjaga sungai dari sumber-sumber pencemaran. Bahkan, eceng gondok yang selama ini dianggap gulma bisa diubah menjadi peluang ekonomi apabila dikelola menjadi produk kerajinan atau bahan baku pupuk.

Di hadapan para peserta festival, Risma menegaskan bahwa air adalah sumber kehidupan. Tanpa sungai yang sehat, bukan hanya lingkungan yang akan terganggu, melainkan juga pertanian, perikanan, dan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Dengan mengucapkan basmalah, ia kemudian memukul gong sebagai tanda dibukanya Festival Sungai Juwana ke-7. Tepuk tangan bergema di tepian sungai. Namun, di balik kemeriahan pembukaan itu, semua orang memahami bahwa pekerjaan sesungguhnya baru saja dimulai.

Festival ini bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat bahwa nasib Sungai Juwana pada akhirnya bergantung pada satu hal yang sama: kesediaan manusia untuk kembali hidup berdamai dengan alam.

Para Pemuka Agama Bertemu di Tepi Sungai

Embusan angin yang kencang di musim kemarau dan suara air Sungai Juwana mengalir pelan ketika satu per satu tokoh agama mengambil tempat di depan peserta Festival Sungai Juwana ke-7. Tidak ada perdebatan tentang doktrin, tidak ada upaya mempertentangkan keyakinan. Yang hadir justru kesadaran bahwa krisis lingkungan telah menjadi persoalan bersama, melampaui batas agama, suku, maupun kepentingan politik.

Forum bertajuk Rembuk Kali Juwana menjadi salah satu agenda utama festival tahun ini. Berbeda dengan seminar lingkungan pada umumnya, diskusi tersebut mengangkat pendekatan ekoteologi, sebuah cara memandang persoalan ekologis melalui nilai-nilai keagamaan. Jampisawan, sebagai penyelenggara, percaya bahwa kerusakan sungai tidak semata-mata lahir dari lemahnya penegakan hukum atau buruknya tata kelola lingkungan, melainkan juga dari putusnya relasi manusia dengan alam.

Ketua Jampisawan, Sunhadi, mengatakan bahwa merawat sungai sesungguhnya adalah bagian dari merawat kebudayaan. Menurutnya, persoalan lingkungan bukan hanya soal teknologi dan regulasi, tetapi menyangkut cara manusia memandang kehidupan.

"Kalau hubungan manusia dengan alam tidak harmonis, maka kerusakan akan terus berulang," ujarnya.
Karena itu, penyelenggara menggandeng Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Para pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, hingga Hindu duduk bersama untuk menunjukkan bahwa setiap agama memiliki ajaran yang berpihak pada kelestarian bumi.

Dalam pemaparannya, salah seorang narasumber dari kalangan Kristen menjelaskan bahwa Alkitab sejak halaman pertama hingga halaman terakhir berbicara tentang ciptaan Tuhan. Kitab Kejadian mengisahkan penciptaan langit dan bumi, sedangkan Kitab Wahyu menutup kisah dengan gambaran langit dan bumi yang baru. Baginya, hal itu menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah dapat dipisahkan dari alam.

Ia kemudian mengajak peserta melihat kembali kisah penciptaan. Menurutnya, manusia justru diciptakan paling akhir, setelah bumi, air, tumbuhan, hewan, dan seluruh unsur kehidupan tersedia.

"Alam bisa ada tanpa manusia, tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam," katanya.

Pandangan tersebut menjadi dasar bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak bumi, melainkan bagian dari ekosistem yang diberi tanggung jawab untuk mengelolanya. Dalam Kitab Kejadian, manusia ditempatkan di Taman Eden bukan sekadar untuk mengusahakan tanah, tetapi juga memelihara dan merawatnya.

Ia menilai, dua tugas itu sering kali dipahami secara timpang. Manusia sibuk mengambil manfaat dari alam, tetapi melupakan kewajiban menjaga keberlangsungannya. Padahal bekerja dan mengelola sumber daya alam tidak boleh berubah menjadi eksploitasi yang merusak ciptaan.

Baginya, merusak lingkungan bukan sekadar persoalan sosial, melainkan juga menyakiti Sang Pencipta. Karena itu, menjaga alam merupakan bagian dari ibadah yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan serupa disampaikan perwakilan Gereja Katolik. Ia mengingat kembali ensiklik Laudato Si' yang mengajak umat Katolik memandang bumi sebagai rumah bersama. Krisis lingkungan, menurutnya, muncul ketika manusia kehilangan rasa hormat terhadap ciptaan.

Ia mengisahkan bagaimana Gereja Katolik mendorong berbagai aksi nyata, mulai dari penghijauan, penanaman mangrove, pengumpulan bibit tanaman keras, hingga penyediaan bantuan air bersih ketika musim kemarau dan dapur umum saat banjir melanda.

Baginya, keutuhan ciptaan hanya dapat terwujud ketika manusia, tumbuhan, hewan, dan seluruh unsur alam hidup dalam keseimbangan. Ketika salah satu rusak, dampaknya akan dirasakan oleh semuanya.
Image
Sementara itu, dari perspektif Buddha, persoalan lingkungan dipandang melalui hukum saling ketergantungan. Suripto menjelaskan bahwa seluruh makhluk hidup saling terhubung dan saling memengaruhi. Kerusakan yang terjadi pada satu bagian alam pada akhirnya akan kembali kepada manusia.

Ia mengungkapkan bahwa dalam kitab Vinaya Pitaka terdapat aturan yang bahkan mengatur hal-hal sederhana, seperti larangan membuang air di saluran yang mengalir atau merusak tanaman. Aturan-aturan tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap lingkungan telah menjadi bagian dari disiplin spiritual sejak lama.

Namun, menurutnya, persoalan terbesar bukan terletak pada kurangnya aturan.
"Yang menjadi pekerjaan rumah adalah pola pikir," katanya.
Perubahan lingkungan, lanjutnya, harus dimulai dari perubahan cara manusia memandang alam. Ketika pikiran dipenuhi keserakahan, alam akan diperlakukan sebagai objek eksploitasi. Sebaliknya, ketika manusia menyadari hubungan saling bergantung dengan lingkungan, perilaku menjaga alam akan tumbuh secara alami.

Pandangan dari Islam juga menekankan hal serupa. Salah seorang narasumber mengingatkan bahwa manusia diangkat sebagai khalifah di bumi. Amanah tersebut bukan berarti memberi hak untuk menguasai alam tanpa batas, melainkan tanggung jawab untuk merawatnya.

Menurutnya, kerusakan lingkungan sering kali berawal dari pemahaman agama yang terpisah antara ibadah kepada Tuhan dan tanggung jawab terhadap sesama makhluk. Akibatnya, ritual keagamaan berjalan baik, tetapi perilaku terhadap lingkungan justru bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Ia mengajak umat untuk kembali kepada esensi ajaran tauhid, yaitu memastikan setiap tindakan mendapat keridaan Tuhan.

"Tidak ada agama yang mengajarkan manusia merusak alam. Semua agama mengajarkan kebaikan," ujarnya.
Diskusi itu kemudian berkembang menjadi ruang refleksi bersama. Para peserta menyadari bahwa persoalan Sungai Juwana bukan hanya disebabkan limbah rumah tangga, industri, atau sedimentasi. Di balik semua itu terdapat persoalan budaya, gaya hidup, bahkan cara manusia memaknai alam.

Kang Husaini, moderator diskusi, mengatakan bahwa gerakan menjaga Sungai Juwana baru berusia sekitar 17 tahun. Dibandingkan besarnya tantangan yang dihadapi, usia itu masih sangat muda. Namun, ia melihat semakin banyak pihak mulai bergabung dalam gerakan tersebut.

Baginya, menghadirkan tokoh lintas agama bukan sekadar memenuhi unsur keberagaman. Kehadiran mereka diharapkan mampu membawa pesan-pesan ekologis kembali ke rumah ibadah, sekolah, dan komunitas masing-masing.
Dengan demikian, kepedulian terhadap sungai tidak berhenti sebagai wacana di ruang diskusi, melainkan menjelma menjadi gerakan yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Di tepian Sungai Juwana hari itu, agama menemukan titik temu yang sederhana: air adalah sumber kehidupan, dan menjaga sungai adalah bentuk penghormatan kepada kehidupan itu sendiri. Dari kesadaran itulah harapan untuk memulihkan Sungai Juwana perlahan mulai mengalir, setenang arus sungai yang terus mencari jalan menuju laut.

Sungai yang Sakit, Harapan yang Belum Surut

Di balik kemeriahan Festival Sungai Juwana ke-7, ada kenyataan yang tidak bisa disembunyikan. Sungai yang menjadi pusat perayaan itu sesungguhnya sedang menghadapi krisis yang semakin kompleks. Persoalannya bukan lagi sekadar sedimentasi, banjir musiman, atau tumpukan sampah yang tampak di permukaan. Ancaman kini hadir dalam bentuk yang jauh lebih sulit dilihat: mikroplastik, pencemaran limbah, dan tata kelola sungai yang masih terfragmentasi.

Isu tersebut mengemuka dalam sesi diskusi yang menghadirkan akademisi, pegiat lingkungan, pemerintah, serta organisasi masyarakat sipil. Salah satu pembicara, Dr. Djoko Rahardjo, M.Kes, akademisi dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), mengawali paparannya dengan sebuah gambaran yang mengkhawatirkan.

Menurutnya, Indonesia sedang menghadapi krisis sungai secara nasional. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang ia sampaikan dalam forum, hanya sekitar empat persen sungai di Indonesia yang masih memenuhi persyaratan kualitas air, sementara sisanya berada dalam kondisi tercemar. Angka itu menjadi peringatan bahwa persoalan Sungai Juwana bukanlah kasus yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari krisis ekologis yang lebih luas.

Namun, Djoko mengingatkan bahwa pencemaran sungai tidak bisa dipahami secara sederhana. Menurutnya, kerusakan sungai merupakan persoalan yang bertingkat dan melibatkan banyak faktor. Limbah rumah tangga, aktivitas industri, perubahan tata guna lahan, hingga gaya hidup masyarakat sama-sama memberi kontribusi terhadap menurunnya kualitas sungai.

"Masalah sungai itu bersifat multiaktor dan multiskala," ujarnya.

Artinya, pencemaran yang terjadi di Sungai Juwana tidak semata-mata berasal dari aktivitas masyarakat di sepanjang bantaran sungai. Apa yang terjadi di wilayah hulu, kebijakan di tingkat kabupaten, bahkan arah pembangunan nasional ikut menentukan kondisi sungai yang bermuara ke Laut Jawa tersebut.

Persoalan lain, lanjutnya, adalah tata kelola sungai yang tersebar di berbagai instansi. Pengelolaan aliran sungai berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), sementara kualitas lingkungan menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup. Di sisi lain, urusan irigasi, air baku, hingga pengendalian banjir juga berada pada lembaga yang berbeda.

"Belum ada satu otoritas tunggal yang benar-benar bertanggung jawab terhadap perlindungan sungai secara menyeluruh," katanya.

Kondisi tersebut membuat penyelesaian persoalan sungai sering berjalan lambat. Setiap lembaga bekerja sesuai kewenangannya, tetapi belum tentu saling terhubung dalam satu strategi pemulihan yang utuh.

Temuan lain yang memperkuat kekhawatiran itu disampaikan Haryati Panca Putri dari Yayasan YAPHI Surakarta. Selama lebih dari satu dekade, lembaganya mendampingi komunitas Jampisawan dalam berbagai kegiatan pelestarian Sungai Juwana.

Pada 2023, bersama masyarakat, mereka melakukan susur sungai sepanjang sekitar 25 kilometer. Dalam kegiatan tersebut, tim mengambil sampel air dan sedimen dari sejumlah titik untuk dianalisis di laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Gresik.

Hasilnya Menjadi Alarm yang Mengejutkan

Sampel menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di sepanjang titik pengambilan sampel. Temuan tersebut menegaskan bahwa pencemaran di Sungai Juwana tidak hanya tampak dalam bentuk sampah plastik yang mengapung, tetapi juga partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil yang telah bercampur dengan air dan sedimen. Berbagai studi juga menunjukkan Sungai Juwana telah terkontaminasi mikroplastik, dengan kelimpahan yang ditemukan pada sejumlah titik pengamatan sepanjang aliran sungai.

Ironisnya, kata Putri, hasil penelitian itu disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Pati pada saat yang hampir bersamaan dengan kampanye peningkatan konsumsi ikan.

"Di satu sisi masyarakat diajak gemar makan ikan, tetapi di sisi lain sungai tempat ikan hidup justru telah tercemar mikroplastik," katanya.

Menurutnya, kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa isu kesehatan masyarakat dan perlindungan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Sungai yang tercemar pada akhirnya akan memengaruhi rantai makanan dan kualitas hidup masyarakat.

Selain pencemaran mikroplastik, Sungai Juwana juga menghadapi persoalan yang terlihat nyata di permukaan: ledakan populasi eceng gondok.

Tanaman air itu tumbuh hampir memenuhi sebagian badan sungai. Dalam jumlah terbatas, eceng gondok memiliki fungsi ekologis. Namun ketika populasinya tidak terkendali, tanaman tersebut justru menghambat aliran air, mempercepat sedimentasi, mengurangi kadar oksigen terlarut, dan memperbesar risiko banjir.

Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengakui persoalan tersebut. Ia mengatakan pemerintah telah melakukan pembersihan eceng gondok secara berkala, tetapi pertumbuhannya berlangsung sangat cepat sehingga pekerjaan serupa harus terus diulang.

Menurutnya, eceng gondok tidak seharusnya hanya dipandang sebagai limbah. Jika dikelola dengan baik, tanaman tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan maupun bahan baku kompos yang bernilai ekonomi.

Gagasan itu sebenarnya telah dicoba oleh Jampisawan bersama Yayasan YAPHI yang menjadi salah satu pendukung acara. Putri menjelaskan, pada 2024 hingga 2025 mereka mendampingi masyarakat dalam pengadaan perahu khusus untuk mengangkut eceng gondok dari sungai. Tanaman yang diangkat kemudian diolah melalui pelatihan menjadi pupuk organik dan produk kerajinan. Sayangnya, inisiatif tersebut belum berkembang secara berkelanjutan. "Bukan pada proses produksinya yang menjadi masalah, tetapi bagaimana hasilnya bisa dipasarkan," ujarnya.
Image
Pengalaman itu menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan dukungan yang lebih luas daripada sekadar pelatihan. Rantai pemasaran, akses modal, hingga keberpihakan kebijakan menjadi bagian penting agar ekonomi berbasis restorasi lingkungan dapat bertahan.

Meski demikian, para pembicara sepakat bahwa solusi pemulihan Sungai Juwana tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah.

Djoko menilai masyarakat perlu diberi ruang lebih besar untuk ikut mengawasi kualitas sungai melalui pemantauan berbasis komunitas. Selama ini, katanya, masyarakat sering hanya menjadi objek kebijakan, padahal merekalah yang paling dekat dengan sungai dan paling merasakan dampak pencemaran.

Ia mencontohkan berbagai komunitas lokal dan masyarakat adat di Indonesia yang berhasil menjaga lingkungan melalui kearifan lokal. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan warga dapat menjadi penyeimbang sekaligus mitra pemerintah dalam menjaga sungai.

"Yang kita cari bukan siapa yang salah, tetapi bagaimana menemukan solusi bersama," katanya.

Baginya, penyelamatan Sungai Juwana hanya mungkin berhasil apabila pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, dan warga berjalan dalam arah yang sama.

Dari Sebuah Festival Menuju Gerakan Bersama

Menjelang siang hari ketika matahari bersinar di atas kepala, ketika rangkaian diskusi lintas agama dan dialog lingkungan berakhir, suasana di tepian Sungai Juwana belum benar-benar usai. Percakapan masih berlanjut dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang membahas kualitas air, ada yang mendiskusikan pemanfaatan eceng gondok, sementara sebagian lainnya berbicara tentang kemungkinan menjadikan kawasan sungai sebagai ruang wisata berbasis masyarakat.

Bagi penyelenggara, justru di situlah makna Festival Sungai Juwana berada. Festival bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang yang mempertemukan berbagai pihak untuk menyusun langkah bersama.

Ketua Jampisawan, Sunhadi, sejak awal menegaskan bahwa penyelenggaraan festival ketujuh ini bukanlah garis akhir dari perjuangan menjaga sungai. Sebaliknya, festival menjadi titik tolak lahirnya komitmen yang lebih kuat antara masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan organisasi sipil.

Komitmen tersebut tidak berhenti pada pidato-pidato pembukaan. Dalam festival ini, berbagai pihak menyepakati sebuah pernyataan bersama yang nantinya akan menjadi dasar kolaborasi menjaga Sungai Juwana. Dokumen itu akan ditandatangani dan disampaikan kepada para pemangku kepentingan sebagai pengingat bahwa penyelamatan sungai merupakan tanggung jawab bersama.

Bagi Jampisawan, kolaborasi menjadi kata kunci. Pengalaman selama hampir dua dekade mendampingi masyarakat menunjukkan bahwa tidak ada satu lembaga pun yang mampu menyelesaikan persoalan sungai sendirian.

Pemerintah memiliki kewenangan, tetapi membutuhkan partisipasi warga. Akademisi memiliki pengetahuan, tetapi memerlukan ruang untuk menerapkannya di lapangan. Organisasi masyarakat sipil mampu menggerakkan komunitas, namun tetap membutuhkan dukungan kebijakan. Begitu pula tokoh agama yang memiliki pengaruh moral di tengah masyarakat. Karena itu, Festival Sungai Juwana berusaha mempertemukan semua unsur tersebut dalam satu ruang dialog.

Selama tujuh kali penyelenggaraan, festival juga meninggalkan jejak-jejak nyata. Salah satunya adalah tumbuhnya ruang publik di sekitar sungai. Kawasan yang dahulu kurang dimanfaatkan kini mulai berkembang menjadi tempat berkumpul warga. Beberapa fasilitas sederhana, seperti area pertemuan, ruang kreatif, hingga kegiatan ekonomi masyarakat, perlahan tumbuh sebagai bagian dari dampak festival.

Meski demikian, para pegiat lingkungan menyadari bahwa pekerjaan besar masih menanti. Sampah rumah tangga masih ditemukan di sepanjang bantaran sungai.
Limbah domestik dan industri tetap menjadi ancaman. Sedimentasi belum sepenuhnya teratasi. Eceng gondok terus tumbuh mengikuti perubahan musim.
Image
Di sisi lain, kesadaran masyarakat juga belum tumbuh merata. Masih ditemukan kebiasaan membuang sampah ke sungai, membuang limbah rumah tangga tanpa pengolahan, hingga anggapan bahwa menjaga sungai sepenuhnya merupakan tanggung jawab pemerintah. Pola pikir seperti itulah yang menurut para peserta diskusi harus diubah secara perlahan melalui pendidikan dan gerakan bersama.

Karena itu, penyelenggara sengaja melibatkan pelajar dalam festival tahun ini. Melalui pelatihan lingkungan, lomba poster, pembacaan puisi, pertunjukan seni, hingga susur sungai, anak-anak diajak mengenal sungai bukan sebagai tempat membuang sampah, melainkan sebagai ruang hidup yang harus dirawat.
Malam harinya, kawasan festival kembali hidup. Puisi-puisi tentang sungai dibacakan bergantian. Tarian, pertunjukan seni, dan cerita rakyat dipentaskan di hadapan masyarakat. Sungai tidak lagi diposisikan semata sebagai objek yang rusak, tetapi sebagai sumber inspirasi budaya yang layak dirayakan.

Pendekatan kebudayaan itu dipilih karena penyelenggara percaya bahwa perubahan perilaku tidak selalu lahir dari ceramah atau aturan. Seni dan budaya memiliki kemampuan menyentuh sisi emosional manusia, membangun kedekatan dengan alam melalui cara yang lebih halus.

Harapan serupa juga disampaikan oleh para tokoh agama yang hadir dalam rembuk lintas iman. Mereka berjanji membawa pesan-pesan ekologis kembali ke rumah ibadah masing-masing. Mimbar keagamaan diharapkan tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab manusia menjaga bumi sebagai anugerah yang dititipkan.

Di akhir forum, muncul satu kesadaran yang terus berulang dalam setiap sesi diskusi bahwa krisis Sungai Juwana sesungguhnya adalah cermin hubungan manusia dengan alam.

Ketika sungai dipenuhi sampah, limbah, dan mikroplastik, yang tercemar bukan hanya airnya. Nilai-nilai gotong royong, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap lingkungan juga perlahan ikut memudar. Sebaliknya, ketika masyarakat kembali bergotong royong membersihkan sungai, menanam pohon, memanfaatkan eceng gondok, atau mengawasi kualitas air, sesungguhnya mereka sedang membangun kembali ikatan sosial yang sempat renggang.

Festival Sungai Juwana ke-7 pun meninggalkan sebuah pesan sederhana namun kuat yakni memulihkan sungai bukan sekadar mengembalikan air agar mengalir lebih jernih. Pemulihan sungai adalah proses memulihkan hubungan antara manusia dengan alam, antara pemerintah dengan masyarakat, antara ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal, serta antara nilai-nilai agama dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Perjalanan itu tentu masih panjang. Tidak ada yang dapat memastikan kapan Sungai Juwana benar-benar pulih dari pencemaran, sedimentasi, maupun ancaman kerusakan lainnya. Namun, festival ini menunjukkan bahwa harapan belum mengering.

Selama masih ada warga yang turun membersihkan bantaran sungai, pelajar yang belajar mencintai lingkungan, akademisi yang terus melakukan penelitian, tokoh agama yang menyuarakan etika ekologis, dan pemerintah yang membuka ruang kolaborasi, Sungai Juwana masih memiliki kesempatan untuk kembali menjadi sumber kehidupan.

Di tepian sungai itu, gong pembukaan memang telah lama berhenti berdentang. Namun, gema pesannya terus mengalir mengikuti arus air bahwa menjaga sungai bukan sekadar pekerjaan lingkungan hidup. Ia adalah pekerjaan kemanusiaan yang hanya dapat diselesaikan ketika semua orang bersedia berjalan bersama.

Karina Safitri, mahasiswa UGM, yang saat ini sedang KKN di Kecamatan Juwana, mengaku memperoleh banyak pengalaman baru setelah mengikuti rangkaian workshop pemantauan kualitas air sungai. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga mengajak peserta melakukan praktik langsung di lapangan. Bersama peserta lain, ia belajar mengenali indikator kualitas air, mengukur parameter fisika dan kimia, serta memahami kondisi sungai melalui metode ilmiah. "Seru sekali dan sangat menambah wawasan,"
ujarnya. Tujuh siswa SMA dan delapan mahasiswa dari berbagai fakultas serta pegiat Jampisawan mengikuti kegiatan ini. Mereka berharap pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kepedulian sekaligus keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian sungai. (Ast)