Diskusi itu kemudian berkembang menjadi ruang refleksi bersama. Para peserta menyadari bahwa persoalan Sungai Juwana bukan hanya disebabkan limbah rumah tangga, industri, atau sedimentasi. Di balik semua itu terdapat persoalan budaya, gaya hidup, bahkan cara manusia memaknai alam.
Kang Husaini, moderator diskusi, mengatakan bahwa gerakan menjaga Sungai Juwana baru berusia sekitar 17 tahun. Dibandingkan besarnya tantangan yang dihadapi, usia itu masih sangat muda. Namun, ia melihat semakin banyak pihak mulai bergabung dalam gerakan tersebut.
Baginya, menghadirkan tokoh lintas agama bukan sekadar memenuhi unsur keberagaman. Kehadiran mereka diharapkan mampu membawa pesan-pesan ekologis kembali ke rumah ibadah, sekolah, dan komunitas masing-masing.
Dengan demikian, kepedulian terhadap sungai tidak berhenti sebagai wacana di ruang diskusi, melainkan menjelma menjadi gerakan yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Di tepian Sungai Juwana hari itu, agama menemukan titik temu yang sederhana: air adalah sumber kehidupan, dan menjaga sungai adalah bentuk penghormatan kepada kehidupan itu sendiri. Dari kesadaran itulah harapan untuk memulihkan Sungai Juwana perlahan mulai mengalir, setenang arus sungai yang terus mencari jalan menuju laut.
Sungai yang Sakit, Harapan yang Belum Surut
Di balik kemeriahan Festival Sungai Juwana ke-7, ada kenyataan yang tidak bisa disembunyikan. Sungai yang menjadi pusat perayaan itu sesungguhnya sedang menghadapi krisis yang semakin kompleks. Persoalannya bukan lagi sekadar sedimentasi, banjir musiman, atau tumpukan sampah yang tampak di permukaan. Ancaman kini hadir dalam bentuk yang jauh lebih sulit dilihat: mikroplastik, pencemaran limbah, dan tata kelola sungai yang masih terfragmentasi.
Isu tersebut mengemuka dalam sesi diskusi yang menghadirkan akademisi, pegiat lingkungan, pemerintah, serta organisasi masyarakat sipil. Salah satu pembicara, Dr. Djoko Rahardjo, M.Kes, akademisi dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), mengawali paparannya dengan sebuah gambaran yang mengkhawatirkan.
Menurutnya, Indonesia sedang menghadapi krisis sungai secara nasional. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang ia sampaikan dalam forum, hanya sekitar empat persen sungai di Indonesia yang masih memenuhi persyaratan kualitas air, sementara sisanya berada dalam kondisi tercemar. Angka itu menjadi peringatan bahwa persoalan Sungai Juwana bukanlah kasus yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari krisis ekologis yang lebih luas.
Namun, Djoko mengingatkan bahwa pencemaran sungai tidak bisa dipahami secara sederhana. Menurutnya, kerusakan sungai merupakan persoalan yang bertingkat dan melibatkan banyak faktor. Limbah rumah tangga, aktivitas industri, perubahan tata guna lahan, hingga gaya hidup masyarakat sama-sama memberi kontribusi terhadap menurunnya kualitas sungai.
"Masalah sungai itu bersifat multiaktor dan multiskala," ujarnya.
Artinya, pencemaran yang terjadi di Sungai Juwana tidak semata-mata berasal dari aktivitas masyarakat di sepanjang bantaran sungai. Apa yang terjadi di wilayah hulu, kebijakan di tingkat kabupaten, bahkan arah pembangunan nasional ikut menentukan kondisi sungai yang bermuara ke Laut Jawa tersebut.
Persoalan lain, lanjutnya, adalah tata kelola sungai yang tersebar di berbagai instansi. Pengelolaan aliran sungai berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), sementara kualitas lingkungan menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup. Di sisi lain, urusan irigasi, air baku, hingga pengendalian banjir juga berada pada lembaga yang berbeda.
"Belum ada satu otoritas tunggal yang benar-benar bertanggung jawab terhadap perlindungan sungai secara menyeluruh," katanya.
Kondisi tersebut membuat penyelesaian persoalan sungai sering berjalan lambat. Setiap lembaga bekerja sesuai kewenangannya, tetapi belum tentu saling terhubung dalam satu strategi pemulihan yang utuh.
Temuan lain yang memperkuat kekhawatiran itu disampaikan Haryati Panca Putri dari Yayasan YAPHI Surakarta. Selama lebih dari satu dekade, lembaganya mendampingi komunitas Jampisawan dalam berbagai kegiatan pelestarian Sungai Juwana.
Pada 2023, bersama masyarakat, mereka melakukan susur sungai sepanjang sekitar 25 kilometer. Dalam kegiatan tersebut, tim mengambil sampel air dan sedimen dari sejumlah titik untuk dianalisis di laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Gresik.