Catatan Peningkatan Kapasitas Mitra Kemanusiaan oleh YSI : Mengakar pada Manusia, Tumbuh dalam Inovasi

Catatan Peningkatan Kapasitas Mitra Kemanusiaan oleh YSI : Mengakar pada Manusia, Tumbuh dalam Inovasi
Suasana di dalam ruang pertemuan mendadak hening ketika Deta, pemandu acara dari Yayasan Sheep Indonesia (YSI), mengajak seluruh peserta mengheningkan cipta. Di luar, cuaca tampak berawan, namun di dalam ruangan, semangat sepuluh orang perwakilan organisasi masyarakat sipil tetap cerah. Mereka berasal dari Yayasan YAPHI, Wacana Mitra, CAPPA, GKJW dan Jaga Balai. Mereka berkumpul untuk sejenak berhenti dari rutinitas kesibukan lapangan, bersyukur, dan bersiap memulai perjalanan belajar bersama selama dua hari ke depan.

Pelatihan peningkatan kapasitas inovasi yang difasilitasi oleh tim YSI pada 29-30 Juni di Hotel Mantravana, Yogyakarta ini bukanlah sebuah kegiatan yang berdiri sendiri. Seperti yang diingatkan oleh Parlan dalam pengantarnya, momen ini adalah buah dari rangkaian pendampingan panjang yang telah berjalan hampir satu tahun, termasuk merefleksikan hasil monitoring dari Tawangmangu untuk menyusun kembali desain mentoring yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.

Setelah pengarahan teknis mengenai prosedur keselamatan dan kenyamanan di lokasi diberikan oleh Nathan, Parlan membuka cakrawala peserta tentang makna sejati dari sebuah inovasi.

"Dalam inovasi, bukan hanya orangnya yang penting, tetapi juga kebijakan dan ekosistem di dalam organisasi tersebut," tegas Parlan.

Inovasi dalam kerja kemanusiaan tidak harus selalu muluk-muluk atau bertumpu pada teknologi canggih. Inovasi adalah keberanian melakukan perubahan menuju praktik yang lebih baik. Ketika suatu metode lama diterapkan di wilayah atau situasi baru yang berbeda dan berhasil menjawab kebutuhan setempat, itu pun sudah merupakan sebuah praktik inovatif.
Image
Sebelum masuk ke materi yang lebih mendalam, Deta mencairkan suasana dengan mengajak peserta memetakan harapan, kekhawatiran, dan aturan bersama. Tawa sempat pecah di beberapa sudut ruangan saat sesi perkenalan kelompok kecil berlangsung, dimana para peserta saling membagikan keunikan pribadi, mulai dari yang mengidentifikasi diri sebagai "manusia ceria", mantan cheerleader, hingga mereka yang hobi menulis. Keceriaan itu ditutup dengan pengerjaan pre-test sembari menikmati rehat kopi.


Menatap Realita dan Berbagi Cerita di Ruang Diskusi

Usai rehat, suasana berubah menjadi lebih reflektif saat Tri Sulistyowati dari YSI memandu sesi pertama. Di sinilah lembar-lembar pengalaman lapangan dibuka. Para peserta mulai menguraikan tantangan nyata yang selama ini mereka hadapi.

Perwakilan dari GKJW, misalnya, menyoroti tantangan internal organisasi terkait belum meratanya pemahaman prosedur kerja kemanusiaan di antara anggota. Sementara itu, isu-isu sosial yang pelik juga mulai bermunculan. Tri Sulistyowati lantas membagikan kisah tentang sulitnya melacak perpindahan pengungsi secara instan yang kerap terjadi tanpa kejelasan pihak yang mengorganisir. Isu ini berkelindan erat dengan kekhawatiran dari Mitra Wacana mengenai pola kejahatan perdagangan orang (human trafficking) yang bergerak begitu cepat memanfaatkan kemajuan teknologi digital.

Di sisi lain, M. Zuhdi dari CAPPA membawa cerita dari wilayah perhutanan sosial. Ia memaparkan keprihatinan tentang memudarnya budaya pangan lokal di kalangan anak-anak akibat derasnya promosi makanan instan pabrikan. Kondisi ini berkolerasi langsung dengan tingginya angka stunting di beberapa wilayah dampingan. Menghadapi hal tersebut, CAPPA melakukan inovasi dengan mengintegrasikan pendidikan lingkungan; mereka mengajak anak-anak menanam, mengolah, dan mengenal kembali pangan tradisional mereka sendiri.

Dari diskusi ini, pemaknaan inovasi semakin kaya. Kelompok MBG membagikan cerita kesuksesan mereka mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dengan website dan WhatsApp untuk memajukan UMKM masyarakat. Ada pula organisasi keagamaan yang menyusun buku bertema kemanusiaan berlandaskan nilai teologis untuk membangun kesadaran relawan. Cerita lain datang dari pendamping petani yang berinovasi meningkatkan nilai jual madu hutan dengan cara memperbaiki kemasan dan menonjolkan narasi masyarakat adat sebagai penjaga hutan. Semua sepakat bahwa inovasi bukan sekadar menghasilkan produk baru, melainkan menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Bergeser Menuju Desain yang Berpusat pada Manusia

Memasuki paruh kedua hari pertama, Martin, fasilitator dari YSI mengambil alih kemudi pelatihan. Ia membawa peserta berkenalan dengan pendekatan Human-Centered Design (HCD) atau desain yang berpusat pada manusia. Melalui pendekatan ini, Martin mengingatkan sebuah pesan penting: setiap inovasi pada dasarnya lahir untuk menjawab persoalan manusia, sehingga komunitas yang terdampak harus menjadi pusat dari perancangan solusi.

Sebagai latihan, setiap kelompok diminta merefleksikan program-program masa lalu yang dirancang dengan baik di atas kertas namun ternyata gagal menjawab kebutuhan masyarakat secara utuh. Berbagai pengakuan jujur pun mengalir. Sola dari Jaga Balai menceritakan pengalaman penanganan bencana di Semeru, di mana lemahnya koordinasi menyebabkan pendataan kebutuhan logistik korban menjadi tidak akurat.
Image
Image
Alfi dari Mitra Wacana juga membagikan kisah evaluasi penanganan psikososial anak pascagempa Yogyakarta tahun 2006–2007. Setelah bertahun-tahun berlalu dan tim mendapatkan kapasitas baru, mereka menyadari bahwa sebagian metode yang digunakan dulu justru berpotensi memicu kembali trauma anak. Cerita serupa datang dari YAPHI yang mendapati buletin edukasi cetak yang mereka produksi dengan biaya besar ternyata hanya menumpuk di rumah warga tanpa dibaca.

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi tamparan emosional sekaligus pelajaran berharga bagi peserta. M. Zuhdi menekankan bahwa kegagalan program seringkali bukan karena rancangannya yang buruk, melainkan karena proses penyusunannya mengabaikan pelibatan masyarakat sejak awal dan hanya bersandar pada asumsi sepihak. Ditambah lagi, Vera mengingatkan adanya tantangan relasi kuasa, seperti pengalaman di Urutsewu, di mana masyarakat enggan menyampaikan kebutuhan aslinya karena berada di bawah tekanan pihak tertentu.

Martin kemudian merangkum seluruh dinamika ini dengan menegaskan pentingnya mengubah pendekatan program-centered (fokus pada target program) menjadi human-centered. Memahami masyarakat membutuhkan proses empati yang mendalam, hadir, mengamati, dan mengikuti keseharian mereka, bukan sekadar wawancara singkat atau kuesioner formal.

Menutup Hari dengan Komitmen Tindakan Nyata

Sebelum matahari hari pertama benar-benar tenggelam, para peserta diajak melakukan refleksi personal menggunakan metode sederhana yang disebut “Tiga Hal”. Di atas kertas-kertas catatan tempel yang penuh warna, mereka menuliskan pengetahuan baru yang mereka pahami, pengalaman emosional yang paling menyentuh, serta satu tindakan konkret yang ingin segera mereka praktikkan setelah kembali ke lembaga masing-masing.

Refleksi ini menjadi jembatan penting yang memastikan bahwa seluruh proses belajar hari itu tidak berhenti menjadi materi pelatihan semata di atas meja. Proses mentoring dan peningkatan kapasitas ini ditargetkan terus bergulir hingga periode evaluasi akhir tahun 2027. Harapannya, kerja jaringan ini akan melahirkan ekosistem organisasi yang matang, dimana setiap lembaga mitra kemanusiaan di Indonesia memiliki keberanian untuk melahirkan inovasi yang realistis, adaptif, dan benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat luas. (Vera)