Sebelum masuk ke materi yang lebih mendalam, Deta mencairkan suasana dengan mengajak peserta memetakan harapan, kekhawatiran, dan aturan bersama. Tawa sempat pecah di beberapa sudut ruangan saat sesi perkenalan kelompok kecil berlangsung, dimana para peserta saling membagikan keunikan pribadi, mulai dari yang mengidentifikasi diri sebagai "manusia ceria", mantan cheerleader, hingga mereka yang hobi menulis. Keceriaan itu ditutup dengan pengerjaan pre-test sembari menikmati rehat kopi.
Menatap Realita dan Berbagi Cerita di Ruang Diskusi
Usai rehat, suasana berubah menjadi lebih reflektif saat Tri Sulistyowati dari YSI memandu sesi pertama. Di sinilah lembar-lembar pengalaman lapangan dibuka. Para peserta mulai menguraikan tantangan nyata yang selama ini mereka hadapi.
Perwakilan dari GKJW, misalnya, menyoroti tantangan internal organisasi terkait belum meratanya pemahaman prosedur kerja kemanusiaan di antara anggota. Sementara itu, isu-isu sosial yang pelik juga mulai bermunculan. Tri Sulistyowati lantas membagikan kisah tentang sulitnya melacak perpindahan pengungsi secara instan yang kerap terjadi tanpa kejelasan pihak yang mengorganisir. Isu ini berkelindan erat dengan kekhawatiran dari Mitra Wacana mengenai pola kejahatan perdagangan orang (human trafficking) yang bergerak begitu cepat memanfaatkan kemajuan teknologi digital.
Di sisi lain, M. Zuhdi dari CAPPA membawa cerita dari wilayah perhutanan sosial. Ia memaparkan keprihatinan tentang memudarnya budaya pangan lokal di kalangan anak-anak akibat derasnya promosi makanan instan pabrikan. Kondisi ini berkolerasi langsung dengan tingginya angka stunting di beberapa wilayah dampingan. Menghadapi hal tersebut, CAPPA melakukan inovasi dengan mengintegrasikan pendidikan lingkungan; mereka mengajak anak-anak menanam, mengolah, dan mengenal kembali pangan tradisional mereka sendiri.
Dari diskusi ini, pemaknaan inovasi semakin kaya. Kelompok MBG membagikan cerita kesuksesan mereka mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dengan website dan WhatsApp untuk memajukan UMKM masyarakat. Ada pula organisasi keagamaan yang menyusun buku bertema kemanusiaan berlandaskan nilai teologis untuk membangun kesadaran relawan. Cerita lain datang dari pendamping petani yang berinovasi meningkatkan nilai jual madu hutan dengan cara memperbaiki kemasan dan menonjolkan narasi masyarakat adat sebagai penjaga hutan. Semua sepakat bahwa inovasi bukan sekadar menghasilkan produk baru, melainkan menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Bergeser Menuju Desain yang Berpusat pada Manusia
Memasuki paruh kedua hari pertama, Martin, fasilitator dari YSI mengambil alih kemudi pelatihan. Ia membawa peserta berkenalan dengan pendekatan Human-Centered Design (HCD) atau desain yang berpusat pada manusia. Melalui pendekatan ini, Martin mengingatkan sebuah pesan penting: setiap inovasi pada dasarnya lahir untuk menjawab persoalan manusia, sehingga komunitas yang terdampak harus menjadi pusat dari perancangan solusi.
Sebagai latihan, setiap kelompok diminta merefleksikan program-program masa lalu yang dirancang dengan baik di atas kertas namun ternyata gagal menjawab kebutuhan masyarakat secara utuh. Berbagai pengakuan jujur pun mengalir. Sola dari Jaga Balai menceritakan pengalaman penanganan bencana di Semeru, di mana lemahnya koordinasi menyebabkan pendataan kebutuhan logistik korban menjadi tidak akurat.