Sebelum praktik dimulai, muncul diskusi menarik mengenai pembentukan kelompok belajar. Sebagian peserta mengusulkan agar latihan dilakukan bersama rekan satu organisasi sehingga hasilnya lebih mudah diterapkan ketika kembali ke lembaga masing-masing.
Namun, sebagian peserta lain justru menginginkan kelompok lintas organisasi tetap dipertahankan. Mereka menilai keberagaman pengalaman menjadi kekuatan utama proses belajar.
"Saya justru merasa lebih menarik kalau tetap bersama teman-teman dari organisasi lain. Pendekatan yang tidak kami miliki bisa muncul dari pengalaman organisasi lain. Pembelajaran seperti ini lebih kaya," ujar seorang peserta.
Peserta lain memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, apabila hasil latihan memang akan diterapkan sebagai rencana tindak lanjut organisasi, bekerja bersama rekan satu lembaga akan lebih memudahkan proses implementasi.
Setelah mempertimbangkan berbagai masukan, fasilitator mengajak seluruh peserta mengambil keputusan bersama. Akhirnya disepakati bahwa kelompok lintas organisasi tetap dipertahankan sebagai ruang belajar bersama, sementara hasil pembelajaran nantinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing organisasi.
Keputusan tersebut menjadi cerminan semangat kolaborasi yang sejak awal dibangun dalam pelatihan Together. Beragam latar belakang peserta justru dipandang sebagai modal untuk saling memperkaya pengalaman.
Selanjutnya, setiap kelompok diminta menyusun sebuah persona, yaitu gambaran utuh mengenai individu atau kelompok yang menjadi sasaran inovasi. Persona tidak hanya berisi identitas seperti nama, usia, dan pekerjaan, tetapi juga memuat kondisi sosial, kekhawatiran, harapan, sumber kekuatan, tantangan, serta kebutuhan yang mereka alami.
Melalui latihan ini, peserta diajak keluar dari cara berpikir berbasis asumsi. Mereka diminta benar-benar membayangkan kehidupan orang yang akan mereka dampingi.
Salah satu kelompok memilih menggambarkan sosok Ibu Yunani, perempuan berusia 35 tahun dari komunitas adat yang kehilangan lahan akibat konflik dengan perusahaan. Kehilangan tanah membuat suaminya kehilangan pekerjaan sebagai penyadap karet sehingga penghasilan keluarga berhenti.
Bagi kelompok tersebut, persoalan yang dihadapi Ibu Yunani bukan sekadar masalah ekonomi. Tanah memiliki makna yang jauh lebih luas sebagai identitas budaya, ruang spiritual, sekaligus sumber penghidupan masyarakat adat.
Kelompok lain menghadirkan sosok seorang nenek penyintas banjir yang tinggal di pengungsian. Ia kehilangan ladang sebagai sumber nafkah, rumahnya masih terendam, dan akses komunikasi dengan keluarganya sangat terbatas. Di tengah situasi tersebut, kebutuhan paling mendasar baginya bukan hanya makanan, tetapi juga kepastian mengenai masa depan keluarganya.
Sementara itu, kelompok lain menyusun persona Bu Sukinah, seorang perempuan lanjut usia berumur 75 tahun yang terdampak kekeringan. Dalam diskusi kelompok, peserta menggambarkan bagaimana lansia memiliki kebutuhan yang berbeda dengan kelompok usia produktif.
Selain membutuhkan air bersih dan bantuan pangan, Bu Sukinah juga membutuhkan akses toilet yang ramah lansia, layanan kesehatan, pendamping spiritual, hingga seseorang yang bersedia mendengarkan cerita dan kegelisahannya selama berada di pengungsian.
Presentasi berbagai persona tersebut menjadi momen reflektif bagi seluruh peserta. Hampir semua tokoh yang mereka pilih berasal dari kelompok rentan, seperti perempuan, lansia, masyarakat adat, hingga penyintas bencana.
Melihat hasil tersebut, fasilitator mengajak peserta menyadari bahwa empati merupakan fondasi utama dalam kerja-kerja kemanusiaan.
"Kalau kita ingin menciptakan program atau inovasi, kita harus benar-benar menempatkan diri di posisi mereka. Selama ini kita sering berasumsi bahwa program yang kita buat sudah tepat. Padahal belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat," tegasnya.
Menurut fasilitator, proses mengenali manusia beserta konteks kehidupannya menjadi langkah pertama sebelum berbicara tentang solusi. Dengan memahami pengalaman hidup masyarakat secara utuh, inovasi yang lahir diharapkan benar-benar menjawab persoalan yang mereka hadapi, bukan sekadar memenuhi asumsi para pelaksana program.
Memasuki sesi berikutnya, peserta diajak melangkah ke tahapan Define, yaitu mendefinisikan persoalan berdasarkan hasil empati yang telah dilakukan. Fasilitator mengingatkan bahwa kegagalan banyak program sering kali bukan karena kurangnya ide, melainkan karena persoalan yang ingin diselesaikan belum benar-benar dipahami.
"Kita sering terburu-buru mencari solusi. Padahal yang perlu dipastikan terlebih dahulu adalah apakah kita sudah memahami tantangan yang sebenarnya," ujar fasilitator di hadapan peserta.
Setiap kelompok kemudian diminta menuliskan sebanyak mungkin tantangan yang dihadapi oleh persona mereka. Tantangan tersebut tidak langsung dijawab dengan solusi, tetapi dikelompokkan berdasarkan jenis persoalan, seperti aspek sosial, ekonomi, hukum, kesehatan, hingga akses informasi. Cara ini membantu peserta melihat hubungan antarpermasalahan dan menentukan prioritas yang paling mungkin diselesaikan.
Fasilitator menjelaskan bahwa organisasi sering memiliki keinginan menyelesaikan semua persoalan sekaligus. Namun, keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya membuat setiap organisasi perlu menentukan fokus.
"Semua masalah tidak harus kita selesaikan. Pilihlah satu tantangan yang paling penting, paling berpengaruh terhadap kehidupan mereka, dan paling mungkin kita intervensi sesuai kapasitas organisasi," jelasnya.
Setelah menentukan prioritas, peserta diminta mengubah persoalan tersebut menjadi sebuah pertanyaan. Alih-alih menuliskan solusi, mereka menyusun kalimat seperti, 'Bagaimana kita dapat membantu Bu Sukinah memperoleh layanan yang sesuai dengan kebutuhannya?' atau 'Bagaimana membantu Ibu Yunani mendapatkan kembali penghidupan yang layak?'
Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi dasar memasuki tahap Ideation, yakni proses menghasilkan berbagai kemungkinan solusi.
Dalam sesi ini, fasilitator meminta seluruh peserta menanggalkan kebiasaan menghakimi sebuah ide sejak awal. Tidak ada gagasan yang dianggap salah selama masih menjawab persoalan yang telah dirumuskan.
"Semakin banyak ide, semakin baik. Jangan buru-buru mengatakan itu tidak mungkin. Bangun ide teman kita, tambahkan, kembangkan. Inovasi lahir dari keberanian membayangkan sesuatu yang berbeda," katanya.
Suasana kelas pun berubah menjadi lebih hidup. Setiap kelompok berdiskusi sambil menempelkan kertas-kertas kecil berisi gagasan di sekitar persona yang telah mereka buat. Berbagai ide bermunculan, mulai dari sistem pendampingan keluarga, penguatan ekonomi berbasis komunitas, pengembangan jejaring relawan desa, hingga penguatan akses informasi bagi kelompok rentan.
Namun, sebelum ide-ide tersebut dikembangkan menjadi prototipe, fasilitator mengajak peserta berhenti sejenak untuk membahas satu hal yang sering terlupakan dalam inovasi, yaitu etika kemanusiaan.
Menurutnya, setiap inovasi harus selalu mempertimbangkan dampak yang mungkin muncul terhadap masyarakat.