Pertanyaan tentang hak asasi manusia sering terdengar dalam berbagai ruang. Orang berbicara tentang hak, keadilan, kesetaraan, kebebasan, hingga perlindungan. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya hak asasi manusia dan mengapa pemahaman itu penting dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk dalam sesi pembelajaran dasar Hak Asasi Manusia (HAM) yang disampaikan Haryati Panca Putri, biasa dipanggil Putri. Ia mengajak peserta tidak langsung masuk pada pembahasan undang-undang, pasal, atau aturan hukum. Pembelajaran dimulai dari sesuatu yang lebih dekat: mengenali hak yang melekat pada setiap manusia.
Putri menempatkan pertemuan Kelas Pelita yang digagas oleh Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Perempuan dan Anak Surakarta (Komasipera) yakni komunitas yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil dan individu pemerhati di Kota Surakarta sebagai ruang belajar bersama. Tidak ada posisi yang lebih tinggi atau lebih rendah antara pemberi materi dan peserta. Yang membedakan hanya latar belakang pengetahuan dan pengalaman.
“Pelita ini menjadi kelas belajar bersama,” ujarnya di hadapan 25 peserta Kelas Pelita sesi ketiga di Aula Kecamatan Serengan, Rabu (26/8).
Bagi Putri, memahami HAM penting agar seseorang tidak hanya mengetahui haknya, tetapi juga mampu menghormati hak orang lain. Hak asasi melekat pada setiap manusia sejak lahir. Hak itu bersifat kodrati, universal, tidak dapat dibagi-bagi, dan tidak boleh dicabut secara sewenang-wenang.
Setiap orang lahir dengan martabat yang sama. Karena itu, suku, agama, ras, jenis kelamin, maupun status sosial tidak boleh menjadi dasar untuk memperlakukan seseorang secara berbeda. Namun, prinsip tersebut tidak selalu mudah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembedaan bahkan dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat. Di dalam keluarga, misalnya, orang tua dapat membandingkan seorang anak dengan anak lain. Anak laki-laki diperlakukan berbeda dari anak perempuan. Anak yang dianggap lebih pintar mendapatkan perlakuan berbeda dibandingkan saudaranya.
Hal-hal semacam itu kerap dianggap biasa. Padahal, menurut Putri, kebiasaan membedakan dan membandingkan seseorang dapat menjadi bagian dari persoalan penghormatan terhadap martabat manusia. Pemahaman HAM menjadi penting karena manusia membutuhkan perlindungan dari perlakuan sewenang-wenang. Kekerasan, diskriminasi, penghinaan, dan tindakan yang merendahkan orang lain merupakan persoalan yang berkaitan dengan martabat manusia.
Putri membawa pengalaman pendampingan yang dilakukan lembaganya di Solo. Dalam satu bulan, terdapat sejumlah kasus kekerasan yang diterima untuk didampingi. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan bukan persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ia mengingatkan peserta yang bekerja sebagai pendamping dan penggerak di wilayah masing-masing agar memahami konsep HAM dengan baik. Pengetahuan tersebut dibutuhkan ketika mereka berhadapan dengan kasus kekerasan maupun persoalan hukum.
HAM, menurut Putri, memberikan dasar bagi seseorang untuk bertanya ketika menghadapi ketidakadilan. Mengapa tindakan tertentu dilakukan? Mengapa seseorang diperlakukan berbeda? Mengapa negara tidak memberikan perlindungan? Dan kepada siapa persoalan tersebut harus disampaikan? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bagian penting dalam kerja advokasi.