Pendidikan sebagai Pintu Kemerdekaan
Zahra dari Permahi membawa pembicaraan kembali kepada persoalan yang lebih konkret yakni sekolah. Ia melihat masih banyak anak putus sekolah karena persoalan ekonomi. Di wilayah kepulauan terluar, masalahnya bahkan lebih kompleks.
Ada daerah yang hanya memiliki sekolah hingga SD atau SMP. Anak yang ingin melanjutkan ke SMA harus menyeberang ke pulau yang lebih besar. Jarak, biaya, dan keterbatasan fasilitas membuat pendidikan menjadi sesuatu yang tidak mudah diperoleh semua anak.
Suro kemudian mengingatkan sejarah pendidikan dalam gerakan kemerdekaan. Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, dan gerakan sekolah Kayu Tanam menunjukkan bahwa pendidikan sejak awal memiliki hubungan erat dengan perjuangan membangun bangsa.
Sebuah negara merdeka, kata Suro, membutuhkan masyarakat yang cerdas.
Kemerdekaan tanpa akses pendidikan yang setara akan selalu menyisakan ketimpangan.
Bhinneka yang tidak berhenti sebagai semboyan. Syabila menginginkan Indonesia memperkuat Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, perpecahan harus diminimalkan dan makna keberagaman perlu diperluas.
Suro kemudian membawa peserta kembali kepada sejarah. Indonesia, menurutnya, tidak dibangun karena semua orang memiliki identitas yang sama. Indonesia lahir dari kesepakatan berbagai kelompok untuk membangun hubungan antardaerah dan melawan kolonialisme serta imperialisme. Bhinneka Tunggal Ika memiliki akar sejarah panjang. Perbedaan bukan gangguan terhadap bangsa Indonesia. Perbedaan justru merupakan bagian dari fondasi bangsa.
Persoalan muncul ketika perbedaan mulai dianggap sebagai penyimpangan. Imam mengaitkannya dengan humanisme. Ia menyinggung kelompok LGBT yang kerap menghadapi stigma hanya karena identitasnya. Menurutnya, toleransi beragama tidak cukup jika tidak disertai pemahaman tentang kemanusiaan. "Setiap orang tetap manusia dan warga negara yang memiliki hak, " katanya.
Percakapan itu menunjukkan bahwa imajinasi mengenai negara tidak berhenti pada gedung pemerintahan. Ia masuk ke ruang yang sangat personal, bagaimana seseorang diperlakukan karena identitasnya.
Mengorganisasi yang Dekat
Suro berkali-kali mengembalikan pembicaraan kepada satu kata: pengorganisasian. Perubahan besar, menurut dia, tidak bisa hanya ditunggu. Anak muda perlu mulai melihat lingkungan di sekitar mereka. Jika ada tetangga kesulitan makan, jangan hanya melihatnya sebagai persoalan pribadi. Jika ada kekerasan, persoalan akses pendidikan, atau masalah sosial lain, masyarakat perlu memahami akar persoalannya dan mencari jalan keluar bersama.
Pengorganisasian tidak dimulai dari panggung besar. Ia bisa dimulai dari sekolah, kampung, organisasi, komunitas, bahkan dari pertemanan. Suro mengingatkan bahwa sejarah Indonesia sendiri dibangun melalui rentetan panjang kekalahan.
Pemberontakan 1926, peristiwa 1928, berbagai tekanan pada masa kolonial, hingga momentum 1945 menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan waktu dan kesiapan. Ia menyebut berbagai peristiwa seperti Undang-Undang Penanaman Modal Asing, peristiwa Malari, normalisasi kehidupan kampus, hilangnya berbagai organisasi mahasiswa, Tanjung Priok, Kedung Ombo, serta berbagai peristiwa lain. Menurutnya, seluruh rentetan peristiwa tersebut merupakan bagian dari proses panjang yang akhirnya menuju Reformasi 1998.
Kemerdekaan pun tidak hanya lahir dari kelompok elite. Buruh, pelajar, intelektual, pemuda, seniman, dan berbagai kelompok masyarakat ikut mengambil bagian.
Suro menyebut kisah para tahanan politik yang dibuang ke Boven Digul dan kemudian berada di Australia. Mereka ikut mengorganisasi dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Ia juga menyebut "Indonesia Calling", film yang mendokumentasikan dukungan buruh Australia terhadap kemerdekaan Indonesia.
"Sejarah itu penting, sebab ia menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak pernah hanya milik satu kelompok, " ujarnya.
Jangan menjadi seperti kekuasaan yang ingin diubah. Di bagian lain diskusi, kritik diarahkan kepada organisasi kepemudaan. Organisasi, kata salah seorang pembicara, sering terjebak membicarakan kekuasaan: siapa menjadi ketua, siapa mendapatkan posisi, siapa masuk kementerian, siapa memperoleh jabatan.
Sementara itu, pertanyaan sederhana tentang dampak organisasi terhadap masyarakat justru sering terlupakan. Perwakilan dari KNPI menceritakan pengalaman melakukan pengabdian di Putri Cempo dan berinteraksi dengan para pemulung. Pengalaman bertemu masyarakat membuat organisasi belajar bahwa perubahan tidak cukup dibicarakan dari ruang rapat. Menurutnya, ada persoalan nyata di luar sana. Karena itu, seseorang yang kelak menjadi pejabat publik seharusnya membawa karya dan pengalaman bersama masyarakat.
Ada pula kritik yang lebih dalam: jika organisasi ingin mengubah negara, perilakunya sendiri tidak boleh sama dengan perilaku yang hendak diubah. Demokrasi tidak akan tumbuh dari organisasi yang hanya mengejar hierarki dan jabatan.
Dari Militerisme menuju Masyarakat Sipil
Suro kemudian berbicara mengenai militerisme yang menurutnya masih memengaruhi cara berpikir masyarakat. Selama puluhan tahun, masyarakat terbiasa hidup dalam budaya kepatuhan. Bahkan bahasa sehari-hari menyimpan jejaknya.
Ungkapan seperti "siap" dan "mohon izin" dapat menjadi kebiasaan yang dianggap sopan. Namun, menurut Suro, masyarakat perlu memeriksa kembali apakah kebiasaan itu juga membawa pola pikir tunduk kepada kekuasaan. Ia menginginkan kehidupan sipil yang lebih kuat.
Kekuasaan sipil harus berada di atas militer. Jabatan-jabatan publik harus diisi orang yang memiliki kemampuan, gagasan, dan pengalaman bersama masyarakat. Dari sana muncul imajinasi yang lebih radikal: negara tanpa militer.
Suro mengaitkannya dengan kebutuhan dasar masyarakat. Ketika masih banyak sekolah rusak, anggaran negara harus dipertanyakan kembali: apakah sumber daya lebih penting digunakan untuk memperkuat persenjataan atau memastikan anak-anak dapat belajar di sekolah yang layak?
Di ujung diskusi, ia menyebut tiga hal yang dianggap menghambat kemajuan: feodalisme, imperialisme dana militerisme.