Bumi adalah tempat yang kita pijak setiap hari, ruang hidup yang tak pernah benar-benar kita tinggalkan. Namun, di tengah rutinitas dan kemudahan hidup moderen, manusia sering kali abai terhadap relasi paling mendasar ini. Dalam sebuah diskusi komunitas, sejumlah pegiat lingkungan dan sosial mencoba mengajak publik untuk kembali memikirkan ulang: bagaimana sebenarnya kita bisa merawat bumi, dimulai dari hal-hal kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari?
Siaran Ngobrol Bareng Yaphi (NGO-PHI) edisi ke-28 oleh Yayasan Yaphi untuk memperingati Hari Bumi kali ini menghadirkan berbagai perspektif dari pelaku gerakan akar rumput, seperti yang dilakukan oleh Septina Setyaningrum dari Ruang Solidaritas Joli Jolan dan Eksan Hartanto dari Sanggar Rojolele, Delanggu Klaten. Keduanya berbagi pengalaman tentang bagaimana kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar, melainkan dari praktik sederhana yang konsisten.
Krisis Ekologi dan Kemunduran Pertanian
Eksan memaparkan kondisi ekosistem pertanian di Delanggu, Klaten, yang dalam satu dekade terakhir mengalami kemunduran. Wilayah yang dahulu dikenal sebagai lumbung pertanian kini menghadapi berbagai persoalan: menurunnya kualitas tanah, berkurangnya kelembagaan petani, hingga minimnya regenerasi.
Mayoritas petani saat ini berusia di atas 60 tahun, sementara generasi muda semakin enggan terjun ke sektor pertanian. Hal ini diperparah dengan ketergantungan pada pupuk sintetis yang telah berlangsung sejak era revolusi hijau. Dampaknya, tanah menjadi kurang subur, rentan terhadap banjir, dan lebih mudah terserang hama.
Fenomena ini dapat dipahami melalui teori Modernisasi Ekologis, yang menjelaskan bahwa modernisasi berbasis teknologi sering kali menciptakan masalah lingkungan baru. Dalam konteks ini, penggunaan pupuk kimia yang masif memang meningkatkan produksi, tetapi merusak ekosistem dalam jangka panjang.
Kondisi tersebut juga selaras dengan konsep Metabolic Rift dari Karl Marx, yang menggambarkan terputusnya hubungan alami antara manusia dan alam akibat sistem produksi moderen. Petani tidak lagi bergantung pada siklus alami, melainkan pada input industri. Terganggunya siklus ini menjadikan hasil pertanian diambil dari desa dan dikirim ke kota,nutrisi dari tanah ikut terbawa dan tidak kembali dan limbah di kota tidak dikembalikan ke lahan pertanian.
Menyadari kompleksitas ini, komunitas yang digagas Eksan Hartanto mencoba melakukan pendekatan alternatif. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan metode formal seperti pelatihan, tetapi juga menggunakan pendekatan budaya. Salah satunya melalui Festival Mbok Sri Mulih (Festival Mbok Sri), yang menghidupkan kembali nilai-nilai budaya pertanian dan semangat gotong royong masyarakat desa.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam membangun kesadaran kolektif, karena menyentuh aspek emosional dan identitas masyarakat. Selain itu, mereka juga mulai mengembangkan praktik pertanian sehat dengan mengurangi penggunaan bahan kimia dan mendorong budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, dari perspektif perkotaan, Septina mengangkat persoalan konsumsi berlebihan yang berujung pada penumpukan sampah. Melalui Ruang Solidaritas Jolijolan, ia bersama relawan lainnya menginisiasi gerakan tukar-menukar barang, lalu meredistribusikannya sebagai solusi alternatif.
Gerakan ini lahir dari keprihatinan terhadap dua kondisi yang kontras: di satu sisi, banyak orang kesulitan mengakses kebutuhan dasar seperti pakaian dan barang rumah tangga; di sisi lain, sebagian masyarakat justru menumpuk barang yang tidak terpakai akibat perilaku konsumtif. Septina ingin mengikis sifat konsumerisme dan peduli pada krisis sampah perkotaan.
Joli Jolan menjadi ruang pertemuan warga untuk saling berbagi dan bertukar barang tanpa transaksi uang. Barang-barang yang sudah tidak digunakan didistribusikan kembali agar memiliki manfaat baru. Dalam praktiknya, gerakan ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial.
Setiap bulan, komunitas ini mampu mengelola hingga satu ton barang. Dampaknya pun nyata: warga yang sebelumnya harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk kebutuhan rumah tangga kini bisa menghemat dan mengalokasikan dana untuk kebutuhan lain seperti pendidikan atau pangan.
Gerakan Kecil, Dampak Besar
Baik di desa maupun di kota, kedua komunitas ini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil. Mengurangi sampah rumah tangga, bertukar barang, atau kembali ke praktik pertanian sehat adalah bentuk nyata kontribusi terhadap bumi.
Namun, tantangan tetap ada. Perubahan perilaku masyarakat tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan proses panjang, konsistensi, dan keteladanan. Tidak semua orang langsung memahami atau menerima praktik baru, tetapi perubahan kecil yang terus dilakukan dapat menciptakan dampak besar dalam jangka panjang.
Selain itu, diskusi ini juga menyinggung pentingnya peran kebijakan publik. Banyak persoalan lingkungan yang berakar dari keputusan politik, seperti pengelolaan sampah atau sistem pertanian nasional. Ketika kebijakan tidak berpihak pada keberlanjutan, maka beban perubahan sering kali jatuh pada inisiatif warga.
Gerakan sosial dan modal sosial seperti Joli Jolan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membangun hubungan sosial baru. Warga yang sebelumnya tidak saling mengenal kini terhubung melalui praktik berbagi.
Hal ini dapat dipahami melalui teori Modal Sosial dari Robert Putnam, yang menekankan pentingnya jaringan sosial dan kepercayaan dalam membangun masyarakat yang kuat. Modal sosial adalah kekuatan dari hubungan antar orang.
Selain itu, praktik gotong royong yang muncul, terutama saat pandemi, mencerminkan konsep solidaritas dari Émile Durkheim. Ketika masyarakat menghadapi krisis, mereka cenderung kembali pada nilai kebersamaan dan saling membantu. Komunitas Joli Jolan memiliki peran yang sangat besar tatkala pandemi COVID-19, sebab di sana, mereka menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat pada saat itu. Masyarakat tetap bisa solid meski keadaan pandemi dan bentuk solidaritas berubah menjadi kesamaan atau ketergantungan.
Perubahan Perilaku dan Tantangan Kesadaran
Meskipun gerakan ini membawa dampak positif, perubahan perilaku masyarakat tidak terjadi secara instan. Tidak semua orang langsung beralih dari kebiasaan konsumtif atau mulai peduli terhadap lingkungan.
Dalam konteks ini, komunitas berperan sebagai ruang belajar sosial. Mereka tidak hanya memberikan wacana, tetapi juga praktik nyata yang bisa ditiru. Dari membawa tas belanja sendiri, mengurangi limbah makanan, hingga bertukar barang, semua menjadi bagian dari proses perubahan bertahap.
Siaran NGO-PHI juga menyoroti bahwa banyak persoalan lingkungan berkaitan erat dengan kebijakan publik. Pengelolaan sampah, sistem pertanian, hingga alokasi anggaran merupakan bagian dari keputusan politik.
Dalam perspektif Politik Ekologi, masalah lingkungan tidak bisa dilepaskan dari relasi kekuasaan. Ketika kebijakan tidak berpihak pada keberlanjutan, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Namun, keterbatasan peran negara tidak menghentikan gerakan warga. Justru, komunitas seperti di Delanggu dan Joli Jolan menunjukkan bahwa perubahan tetap bisa dimulai dari bawah, meskipun dengan sumber daya terbatas
Baik di desa maupun di kota, gerakan-gerakan ini menunjukkan bahwa merawat bumi tidak harus dimulai dari langkah besar. Justru, perubahan sering lahir dari praktik kecil yang dilakukan secara konsisten. Bertani secara sehat untuk menjaga tanah, bertukar barang untuk mengurangi sampah, gotong royong untuk memperkuat solidaritas
Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang luas. Seperti menyalakan lilin di tengah gelap, ia memberi arah sekaligus harapan.
Merawat bumi pada akhirnya bukan hanya soal lingkungan. Ia adalah upaya membangun kembali relasi yang adil, antara manusia dan alam, antara individu dan komunitas, serta antara masa kini dan masa depan.
Menyalakan “Lilin” Harapan
Di tengah berbagai keterbatasan, komunitas-komunitas ini memilih untuk tetap bergerak. Mereka tidak menunggu perubahan dari atas, melainkan menciptakan ruang-ruang kecil untuk praktik alternatif. Seperti yang disampaikan Septina dan Eksan, gerakan mereka mungkin hanya “lilin kecil”, tetapi tetap penting untuk dinyalakan.
Merawat bumi bukanlah tugas besar yang hanya bisa dilakukan oleh negara atau organisasi besar. Ia adalah tanggung jawab bersama yang bisa dimulai dari rumah, dari kebiasaan sehari-hari, dan dari kepedulian terhadap sesama.
Pada akhirnya, upaya merawat bumi adalah juga upaya merawat kehidupan itu sendiri, membangun masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, dan manusiawi bagi semua. (Ast)